ALKITAB

Lembaga Alkitab Indonesia selalu mendukung kebutuhan rohani anda, termasuk di dalam pembacaan Alkitab digital maupun harian. Mari bersama menumbuhkan iman kita kepada Tuhan.

Marah itu Wajar Tapi Bukan Marah-marah

Marah itu Wajar Tapi Bukan Marah-marah

Daniel 3:19-23,TB

Marah merupakan salah satu ekpresi manusia yang berguna untuk meluapkan emosi. Hal ini dapat menjadi sesuatu yang baik secara mental. Namun, marah akan menjadi buruk bahkan bersifat merusak secara fisik maupun mental ketika terjadi dan dibiarkan secara terus-menerus. Kemarahan eksesif juga besar kemungkinan akan mengalami pertumbuhan. Sesuatu yang awalnya bukan masalah akan berubah menjadi masalah ketika disikapi dengan kondisi marah-marah. Sebuah masalah yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan mudah pun akan berubah menjadi masalah besar yang rumit ketika disikapi dengan marah berlebihan. Artinya, marah semestinya menjadi alat bagi manusia untuk menjalani hidupnya menjadi lebih baik jika mampu dikendalikan oleh si manusia itu sendiri. Namun, situasinya akan berbanding balik ketika manusia justru dikendalikan oleh kemarahan yang berlebihan.

Di dalam perikop ini kita melihat bagaimana Nebukadnezar mengubah kebijakan atau hukuman yang sudah ia tetapkan karena kemarahan yang berlebihan. Panas api yang semula bernilai 10 justru ia ubah menjadi 70 karena panas hatinya terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Bahkan, disebutkan bahwa panas api yang berkali lipat itu sanggup membakar orang-orang yang ditugaskan untuk mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Berdasarkan narasi ini kita pun dapat melihat bukti betapa kemarahan yang tidak dikelola dengan baik akan menghadirkan kerusakan bagi orang lain, bahkan bagi mereka yang tidak semestinya menerima dampak tersebut. Selain itu, dari sisi pengelolaan pemerintahan, tindakan Nebukadnezar yang mengambil keputusan berdasarkan kemarahan bukanlah sesuatu yang baik bagi efektivitas kepemimpinannya.

Sahabat Alkitab, kita dapat menjadikan tindakan Nebukadnezar yang berlandasakan panas hatinya terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego tersebut sebagai sebuah kesempatan untuk berefleksi. Apakah kita mampu mengelola marah dalam hati? Atau justru, selama ini kita lebih banyak dikenalikan oleh kemarahan itu sendiri? Jangan biarkan panas hati memengaruhi kita dalam mengambil keputusan, bersikap kepada orang lain maupun menilai mereka dalam relasi keseharian kita. Hal ini sangat dibutuhkan agar kita terhindar dari sikap bias maupun berbagai hal yang dapat merusak diri sendiri dan orang lain.