SERVIAM!

SERVIAM!

 

Dalam Alkitab kita mengenal dua nama sebagai penghulu malaikat, yakni Gabriel (Daniel 8:16, Lukas 1:26) dan Mikhael (Yudas: 9, Wahyu 12:7) sebagai dua dari tujuh Penghulu Malaikat yang dikenal oleh Bapa-Bapa Gereja menurut Kitab Henokh. Mikhael dikenal sebagai Panglima Bala Tentara Allah. Dalam pertempuran antara Mikhael dan Iblis tersebutlah Mikhael berteriak, “SERVIAM!” dan dibalas oleh Iblis, “NON SERVIAM!”

Serviam adalah Bahasa Latin yang artinya: melayani, mengabdi yang dibingkai dalam ketaatan. Dengan perkataan itu Mikhael menyatakan kesetiaan dan posisinya sebagai abdi yang  melayani Allah.  Sebaliknya, Non Serviam adalah seruan pemberontakan. Tidak taat, tidak sudi lagi melayani, tidak mau lagi menjadi abdi. Dan memang demikianlah posisi Iblis terhadap Allah. Non Serviam!

Dalam keseharian, kita mengenal kata Serviam sebagai motto lembaga pendidikan khusus puteri yang dikelola oleh para biarawati dari tarekat Ursulin. Tarekat Ursulin didirikan oleh Angela de Merici (Santa Angela) pada tahun 1535 dengan misi, “Mengangkat taraf kehidupan keluarga dengan cara memberi bekal pendidikan yang baik bagi para bakal ibu rumah tangga berdasarkan nilai-nilai Kristiani”. Kini, hampir 500 tahun kemudian visi Santa Angela mewujud dalam sekolah-sekolah yang unggul dalam kualitas akademik serta menghasilkan lulusan yang berkarakter yang tersebar di seluruh dunia. Semua itu berawal dari semangat Serviam!

Tersebutlah, pada tahun 1800, di Wales, Inggris, dengan semangat Serviam, seorang gadis remaja berusia 15 tahun, bernama Mary, berjalan kaki, nyeker (barefooted, tanpa alas kaki) sejauh 26 mil (42 km). Mary, berasal dari keluarga petani di desa Bala. Keluarganya anggota gereja Metodis yang saleh, demikian pula Mary. Sebagai anggota jemaat yang saleh, Mary terobsesi memiliki sebuah Alkitab untuk dapat dibaca dan dipelajari. Sebuah semangat untuk maju dan berkembang. Apa daya 3 abad yang lalu bukanlah abad digital, di mana banyak hal dapat dilakukan semudah “klik” saja. Pada masa itu, gereja terdekat yang menjual Alkitab berada sejauh 26 mil dari Bala. Setelah menabung selama 6 tahun dari hasil menjual telur ayam, berjalanlah Mary menemui Pdt. Thomas Charles, yang menyediakan Alkitab untuk dijual kepada umat. Apa daya sesampainya di tujuan pendeta berkata bahwa Alkitab yang ada tinggal satu dan sudah dijanjikan kepada orang lain yang memesannya. Akhirnya Mary terpaksa menunggu 2 hari, menanti datangnya kiriman Alkitab yang sedang dalam perjalanan. Perjuangan Mary tidak sia-sia. Ia kembali ke desanya dengan membawa 3 jilid Alkitab buat dirinya sendiri dan 2 jilid lain untuk kerabatnya. 

Perjuangan Mary berjalan 52 mil pergi-pulang, menanti 2 hari, menginspirasi Pdt. Thomas Charles untuk memperjuangkan berdirinya Lembaga Alkitab yang mampu menyediakan dan mendistribusikan Alkitab, sehingga umat dapat dengan mudah memperoleh Alkitab. Mary kemudian menikah dengan pemuda bernama Thomas Jones, sehingga di kemudian hari ia dikenal sebagai Mary Jones.

Alkitab milik Mary Jones terabadikan, dan kini tersimpan di Cambridge University Library. Pada Alkitab itu tertulis tulisan tangan Mary, sbb: “Mary Jones was born 16th of December 1784. I Bought this in 16th year of my age. I am Daughter of Jacob Jones and Mary Jones, His wife. The Lord may give me grace. Amen. Mary Jones His The True Onour of this Bible. Bought In the Year 1800 aged 16th.”

Perjuangan Pdt. Thomas Charles dan kisah heroik Mary Jones berbuahkan hasil. Pada tahun 1804 berdirilah The British and Foreign Bible Society, disusul dengan Scottish Bible Society (1809), The Bible Society of India (1811), dst. Pada tahun 1814 berdiri Lembaga Alkitab Belanda (Nederlands Bijbelgenootschap) dan 2 tahun kemudian di Batavia (Jakarta sekarang) berdiri Nederlands Oost-Indisch Bijbelgenootschap atau lebih dikenal sebagai Bataviaas Bijbelgenootschap yang kemudian pada tahun1954 setelah Indonesia merdeka menjadi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Semuanya ini bisa terwujud karena semangat yang sama: Serviam.

Hingga awal abad XX, lembaga-lembaga Alkitab yang ada, masing-masing berdiri sendiri, oleh karena itu timbul gagasan untuk membentuk asosiasi diantara lembaga-lembaga Alkitab agar ada sinergitas. Tetapi 1939 pecah perang besar di Eropa. Perang Dunia II. Gagasan pembentukan asosiasi tertunda. Pada 1945 perang berakhir. Setahun kemudian pada 1946, dengan dukungan 13 lembaga-lembaga Alkitab di Eropa, yang masih porak poranda akibat perang, berdirilah United Bible Societies - UBS (Persekutuan Lembaga-Lembaga Alkitab) dengan kantor pusat di London, Inggris.

Kini 75 tahun kemudian, UBS bersama LAI yang berusia 67 tahun berupaya merunut kembali pengalaman yang sudah dijalani, suka-duka, proses belajar, perjuangan menuju ke kemandirian daya dan dana, success story, membuat seluruh pemangku kepentingan lembaga-lembaga Alkitab di planet bumi yang kecil nan rentan yang kini diguncang Pandemi COVID-19 mencoba merumuskan kembali, mempergumulkan, merenungkan jati diri dan panggilannya. Pergumulan dan perenungan itu akhirnya mengerucut dan menghasilkan tema ulang tahun ke-75 United Bible Societies pada tahun 2021: Serving Together. Serviam.

Marilah kita layani saudara-saudara kita yang belum memiliki Alkitab dengan cara mendatangi mereka. Kita layani mereka. Serviam! Hal ini seperti Firman Tuhan dalam Efesus 6: 5-7, “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang ada di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang rela menjalankan pelayananya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.” Serviam!  

 

Pdt. Sri Yuliana.