Pernah dengar stilah VOC Parenting? Parenting ini mulai dikenal luas melalui sosial media yang merujuk pada VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dengan ciri gaya kepemimpinan otoriter dan cenderung kaku. Kemudian pengertian ini mulai dikaitkan dengan pola asuh orang tua yang berfokus pada kontrol dan kedisiplinan.
Sementara Gentle Parenting justru berbanding terbalik, Pola asuh ini mengutamakan pendekatan emosional yang lembut dari orang tua kepada anak. Tipe parenting ini membantu anak berkembang tidak hanya secara fisik, tapi juga kognitif, emosional, & sosial.
Didikan Otoriter vs Pendekatan Emosional
Anak dengan pola asuh VOC Parenting biasanya menjadi anak yang disiplin dan menghormati orang tuanya, namun tidak sedikit anak yang tumbuh dengan penuh rasa takut, kesulitan mengungkapkan perasaanya, dan menciptakan hubungan yang kurang harmonis dengan orang tuanya karena pola asuh otoriter seperti ini.(http://alodokter.com/parenting-voc-kenali-ciri-ciri-dan-dampaknya-bagi-anak)
Di lain sisi, anak dengan pola asuh Gentle Parenting cenderung membawa manfaat positif bagi tumbuh kembang anak. Pola asuh yang mengutamakan pendekatan emosional dan komunikasi dua arah ini dapat membuat anak tumbuh dengan rasa cemas yang rendah, dan kemampuan bersosialisasi yang tinggi. Meski begitu, Gentle Parenting akan memakan banyak waktu dan usaha karena perlu konsistensi dan kesabaran. (https://www.parents.com/parenting/better-parenting/style/what-is-gentle-parenting/#toc-what-are-the-benefits-of-gentle-parenting)
“Lalu, Mana Pola Asuh Yang Tepat?”
Amsal 22: 6 “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”
Orang tua hadir bukan hanya untuk mengajarkan disiplin dan hormat, tetapi juga menuntun anak untuk hidup dalam kebenaran, kejujuran, dan takut akan Tuhan. Baik VOC Parenting atau Gentle Parenting jika tidak dilakukan dengan kasih akan menjadi parenting yang gagal dan pola asuh yang sia sia.
Pola asuh yang paling tepat bagi keluarga kristen adalah memberikan pendidikan rohani dan moral sejak dini sebagai fondasi kuat bagi anak untuk tetap berjalan di jalan yang benar sepanjang hidupnya. Orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk menuntun anak dengan hikmat dan kasih, sebagaimana Tuhan menuntun umat-Nya.



















