NABI YEREMIA: JALAN PERTOBATAN DAN VISINYA

Artikel | 18 Sep 2026

NABI YEREMIA: JALAN PERTOBATAN DAN VISINYA


Narasumber: Jadesmon Saragih, M.Theol.

Editor: Vince Ellysabeth

 

Bagaimana jika orang-orang yang merasa paling dekat dengan Allah justru adalah mereka yang paling sulit mendengar teguran-Nya? Pertanyaan ini mengemuka dalam pelayanan Nabi Yeremia. Di tengah keyakinan Yehuda bahwa mereka adalah umat pilihan yang selalu berada dalam perlindungan Allah, Yeremia justru menyampaikan pesan yang keras tentang ketidaksetiaan, ketidakadilan, dan kehancuran yang akan datang. Ia bukan hanya menyerukan pertobatan, tetapi juga berhadapan dengan kenyataan bahwa pertobatan dapat berubah menjadi sekadar formalitas keagamaan tanpa perubahan kehidupan. Karena itu, kitab Yeremia membawa pembacanya pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah umat sungguh-sungguh bertobat ketika mendengar firman Allah, dan di manakah Allah ketika kehancuran akhirnya datang? Di tengah kecaman, ratapan, pembuangan, dan runtuhnya simbol-simbol politik serta keagamaan Yehuda, kitab ini justru memperlihatkan sebuah visi yang melampaui penghukuman: Allah membuka jalan bagi relasi yang baru dengan umat-Nya melalui pengampunan dan anugerah.

 

Nabi di Tengah Runtuhnya Sebuah Bangsa

Yeremia, anak Hilkia, berkarya di Yehuda sejak sekitar tahun 627/626 SM dan pelayanannya berlangsung melewati beberapa pergantian pemerintahan. Ia menyaksikan perubahan peta politik kawasan, termasuk melemahnya Asyur dan munculnya Babel sebagai kekuatan dominan. Pada masa Zedekia, Yeremia bahkan menyampaikan pesan yang sangat tidak populer agar Yehuda tidak memberontak terhadap Babel. Karena pesannya dianggap sebagai pengkhianatan, ia pernah dipenjarakan dan dimasukkan ke dalam sumur ruang tahanan. Setelah Yerusalem jatuh, ia bersama Barukh, juru tulisnya, akhirnya dipaksa pergi ke Mesir. Dengan demikian, nubuat Yeremia bukanlah pesan yang disampaikan dari jarak aman; kehidupan sang nabi turut terseret ke dalam krisis yang ia wartakan.

 

Panggilan Yeremia juga memperlihatkan bahwa keterpilihan bukanlah alasan bagi umat untuk membangun rasa aman yang palsu. Yeremia dipanggil sejak dalam kandungan dan ditetapkan sebagai nabi bagi bangsa-bangsa. Misinya mencakup tugas “untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam” (Yer. 1:10). Panggilan tersebut menunjukkan bahwa karya kenabian memiliki cakupan yang melampaui kepentingan satu kelompok. Kritik terhadap umat Allah justru menjadi bagian dari misi Allah yang lebih luas.

 

Pertobatan yang Melampaui Formalitas

Pelayanan Yeremia berlangsung dalam konteks Reformasi Raja Yosia, yang sering disebut sebagai Reformasi Deuteronomis. Reformasi ini memperoleh momentum setelah ditemukannya kitab hukum di Bait Suci sekitar tahun 622 SM. Pembaruan tersebut meliputi penghancuran altar dan tempat ibadah berhala, penyingkiran praktik penyembahan ilah kesuburan, serta sentralisasi ibadah di Yerusalem. Secara lahiriah, reformasi itu tampak sebagai pembaruan religius yang masif dan terstruktur. Namun, Yeremia justru memperlihatkan bahwa perubahan ritual dan institusional tidak otomatis menghasilkan pertobatan.

 

Di sinilah kritik Yeremia terhadap pemahaman pertobatan menjadi penting. Perkumpulan, arak-arakan, dan berbagai formalitas keagamaan dapat berubah menjadi apa yang disebut Alexander Rofe sebagai “parodi pertobatan”. Pertobatan kehilangan maknanya ketika hanya menjadi pertunjukan religius tanpa perubahan kehidupan. Kritik Yeremia terutama diarahkan pada dimensi moral dan sosial dari ketidaksetiaan umat. Yeremia 2:33-35, misalnya, menggambarkan masyarakat yang mengejar kepentingannya sendiri sementara darah orang miskin yang tidak bersalah ditemukan pada pakaian mereka. Ironisnya, mereka tetap berkata, “Aku tidak bersalah.” Dengan demikian, persoalan utama bukan sekadar apakah umat menjalankan ritual keagamaan, melainkan apakah kehidupan mereka mencerminkan relasi yang benar dengan Allah dan sesama.

 

“Di Manakah Allah Perjanjian?”

Krisis Yeremia tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan teologis yang mendasar: di manakah Allah perjanjian? Pertanyaan ini muncul karena umat Yehuda hidup dalam ilusi bahwa mereka akan selalu berada dalam perlindungan Allah. Pengalaman Yerusalem yang pernah luput dari kekuatan Asyur pada masa Hizkia membentuk keyakinan bahwa Tuhan pasti melindungi mereka dari segala ancaman, termasuk Babel. Namun, pemberontakan Yehuda terhadap Babel berujung pada pengepungan Yerusalem pada 587 SM. Kelaparan, kematian, pembuangan, serta kehancuran istana dan Bait Suci menghancurkan simbol-simbol politik dan religius yang selama ini menjadi perekat identitas bangsa.

 

Dalam konteks inilah tradisi Deuteronomistis dan kitab Yeremia memiliki hubungan erat. Kesetiaan kepada perjanjian menuntut umat untuk berbalik dari jalan yang jahat. Namun, Yeremia sekaligus membawa visi yang melampaui kerangka pertobatan yang semata-mata bersifat kondisional. Ia memperkenalkan gambaran Allah yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih, yang membuka kemungkinan bagi relasi baru dengan umat berdosa. Karena itu, penghukuman dalam kitab Yeremia tidak dapat dipisahkan dari kemungkinan pemulihan.

 

Dari Pertobatan Menuju Anugerah

Kekuatan visi Yeremia justru terlihat ketika kehancuran tampaknya telah menutup seluruh kemungkinan masa depan. Yeremia tidak berhenti pada pewartaan penghukuman. Dalam Yeremia 31:34, Allah berjanji bahwa umat akan mengenal-Nya dan bahwa Ia akan mengampuni kesalahan serta tidak lagi mengingat dosa mereka. Demikian pula Yeremia 33:8 menyatakan bahwa Allah akan mentahirkan dan mengampuni umat dari segala kesalahan mereka.

 

Dengan demikian, visi Yeremia membawa pembaca bergerak dari pertobatan menuju anugerah. Pertobatan bukanlah usaha manusia untuk memaksa Allah menerima kembali umat-Nya, melainkan respons terhadap Allah yang terlebih dahulu membuka jalan pemulihan. Inilah yang membuat kitab Yeremia, di tengah seluruh kecaman dan berita kehancurannya, pada akhirnya menjadi kitab tentang anugerah. Bagi umat yang berada dalam pembuangan, pesan tersebut memberikan arah baru: kehancuran bukanlah kata terakhir. Allah masih membuka kemungkinan kehidupan melalui pengampunan dan relasi yang baru. Karena itu, jalan pertobatan dalam kitab Yeremia pada akhirnya hanya dapat dihayati dalam terang anugerah Allah.

 

Artikel ini disadur dari Seminar Alkitab. Tonton versi video lengkapnya di YouTube LAI: https://www.youtube.com/live/xboaja5mGmE?si=NIj9S4P_CohaWYW2

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia