Jiwa yang Gelisah, Iman yang Bergumul:  Alkitab dan Kesehatan Mental

Artikel | 3 Okt 2026

Jiwa yang Gelisah, Iman yang Bergumul:  Alkitab dan Kesehatan Mental


Narasumber: Pdt. Dany Christopher, S.Psi., Ph.D.

Editor: Juan Nicohlas

 

Terdapat banyak hal dan isu mengenai kesehatan mental. Di balik banyaknya pembahasan mengenai kesehatan mental tersebut, apa yang dikatakan Alkitab mengenai kesehatan mental?

 

Pada tahun 2026, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi G. Sadikin mengutip data dari World Health Organization (WHO) yang menyatakan bahwa satu dari sepuluh orang di dunia dinilai mengalami gangguan kesehatan mental. Jika data tersebut diterapkan pada Indonesia, dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, maka sekitar 28 juta diantaranya dapat dikategorikan mengalami gangguan kesehatan mental. Data lainnya dari Global Burden of Disease (GBD), menunjukkan bahwa pada tahun 2023, satu dari tujuh orang di dunia mengalami gangguan kesehatan mental, atau sekitar 14,7% dari penduduk dunia. Gangguan yang paling banyak ditemukan adalah gangguan kecemasan dan depresi. 

 

Kelompok usia tertinggi yang mengalami dampak dari gangguan kesehatan mental adalah remaja, khususnya dengan rentang usia 15-19 tahun. Sementara itu data dari I-NAMHS pada tahun 2022 menyatakan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia berusia 10-17 tahun memiliki masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.

 

Kecenderungan Respon Gereja

Dalam menangani kesehatan mental, umat Kristen dan gereja menunjukkan dua kecenderungan respons. 

 

Respons Pertama: isu kesehatan mental dinilai sebagai isu spiritual dan dosa, bukan persoalan psikologis. Kecemasan, depresi, dan jenis gangguan lainnya dinilai sebagai bentuk gangguan yang berkaitan dengan dosa dan iman, bukan sebagai persoalan psikologis. 

 

Respons Kedua: isu kesehatan mental dipandang sebagai persoalan yang murni psikologis dan bukan bagian dari kehidupan rohani. Karena itu, penangananya dianggap memerlukan peran konselor atau psikolog.

 

Christopher Cook, seorang psikiater sekaligus teolog, dalam jurnalnya “Mental Health in the Kingdom of God”, menyatakan bahwa manusia merupakan kesatuan integral antara aspek rohani, fisik dan psikologis. Manusia dengan kesatuannya tersebut diciptakan untuk berelasi dengan Allah. Maka relasi dengan Allah tidak hanya berlangsung secara fisik dan spiritual, tetapi juga secara psikologis atau emosional. Gereja perlu memiliki visi yang dapat merespons manusia  sebagai kesatuan spiritual dan psikologis.

 

Definisi Kesehatan Mental

Berdasarkan penyimpulan dari definisi WHO dan APA, kesehatan mental adalah kondisi sejahtera (well being) secara psikologis atau emosional yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi tekanan dalam hidup dan berfungsi secara personal maupun sosial. Jika seseorang tidak mampu melakukan hal-hal tersebut, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu tanda adanya persoalan kesehatan mental.

 

Secara klinis, gangguan kesehatan mental pada seseorang dapat ditandai dengan indikasi seperti gangguan suasana hati, trauma, gangguan makan, gangguan psikotik, gangguan kepribadian, dan lain sebagainya. Dalam percakapan sehari-hari (nonklinis), gangguan kesehatan mental sering disebut dengan istilah-istilah seperti stres, overthinking, insecure, toxic relation burnout, fatigue, dan lain sebagainya. Dalam beberapa kasus, gangguan kesehatan mental juga dapat disertai pikiran untuk melukai diri sendiri, bahkan mengakhiri diri.

 

Christopher Cook memberikan definisinya sendiri mengenai kesehatan mental dari perspektif Kristen. Bagi Christopher Cook kesehatan mental adalah kondisi dimana seseorang mampu mengerjakan vokasi atau panggilan dalam kerajaan Allah. Setiap orang Kristen dipandang memiliki panggilan untuk menjadi kepanjangan tangan Allah di didunia dan mengerjakan tugas-tugas yang Tuhan percayakan. Ketika seseorang tidak mampu menjalankan panggilannya, kondisi tersebut dapat menjadi bagian dari persoalan kesehatan mental.

 

Kisah Alkitab dan Gangguan Kesehatan Mental

Kisah Elia (1 Raja-Raja 19)

Konteks dari  teks 1 Raja-Raja 19 adalah pengalaman Elia setelah melakukan banyak mujizat, tetapi keadaan yang terjadi tidak sesuai ekspektasinya. Ekspektasi awal Elia bahwa Israel mengalami pemulihan ternyata tidak terjadi. Elia justru mendapat ancaman akan dibunuh dari Izebel, istri dari Ahab. Karena ketakutan, Elia pergi ke padang gurun untuk menyelamatkan dirinya. Ia duduk dibawah pohon arar dan memohon pada Tuhan, “Cukuplah sudah! Sekarang, ya Tuhan, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik daripada nenek moyangku.” Elia yang pada awalnya lari menghindari kematian pada akhirnya meminta Tuhan mengambil nyawanya. 

 

Elia yang sudah lelah secara mental melihat dirinya gagal. Ia merasa tidak berhasil dan tidak lebih baik dari nenek moyangnya. Dari perspektif psikologis, Elia mengalami guncangan secara mental. Dalam ayat 3 tertulis bahwa “Elia pun ketakutan” dan “lalu pergi menyelamatkan dirinya”. Dalam ayat 4, Elia meminta agar Tuhan mengakhiri hidupnya. Ungkapan tersebut memperlihatkan keinginan untuk mati yang serius, meskipun kita tidak dapat memberikan diagnosis klinis terhadap kondisi Elia berdasarkan teks.

 

Dalam menanggapi hal tersebut, respon Allah dapat dilihat dari ayat 5 dan 7, ketika Allah memberi Elia makan sebagai bentuk pemulihan fisik. Pada ayat 9 dan 13, Allah bertanya kepada Elia, memberikan kesempatan baginya untuk mengungkapkan pergumulannya. Tindakan Allah selanjutnya pada ayat 15-18 adalah mengutus Elia kembali untuk menjalankan panggilannya. Allah juga memperbaiki pemahaman Elia yang keliru bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang masih setia kepada-Nya.

 

Nyanyian Korah (Mazmur 42)

Kitab Mazmur kerap memperlihatkan keluh kesah dari sisi sang penulis. Hal tersebut membuat Mazmur dapat menjadi bagian yang dekat dengan kehidupan umat karena mengungkapkan berbagai perasaan manusia. Ketika Mazmur 42 dibaca dengan seksama, terlihat bagaimana pemazmur merasa rindu kepada Tuhan dan rindu beribadah. Kerinduan itu justru menjadi bahan ejekan bagi musuh-musuh sang pemazmur. 

 

Dalam Mazmur 42:4, pemazmur menulis bagaimana ia menangis siang dan malam. Ungkapan tersebut menggambarkan kesedihan yang mendalam. Dalam ayat ke-5, pemazmur berkata “jiwaku gundah gulana,” dan pada ayat ke-6 tertulis, “tertekan dan gelisah.”

 

Salah satu cara memahami Mazmur 42 adalah dengan memperhatikan apa yang dilakukan pemazmur ketika menghadapi pergumulannya. Pemazmur berbicara kepada dirinya sendiri dan mengarahkan kembali jiwanya untuk berharap kepada Allah. Ia tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan, tetapi berusaha mengarahkan kembali harapannya kepada Allah dan pertolongan-Nya.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga dapat menemukan pengalaman serupa. Banyak orang kerap berbicara buruk mengenai dirinya sendiri di dalam pikirannya. Mazmur 42 mengingatkan bahwa dialog batin semacam itu perlu disadari dan diarahkan kembali kepada pengharapan kepada Allah.

 

Kehidupan Paulus

Dalam Perjanjian Baru, tepatnya dalam Filipi 4:6, Paulus menuliskan bahwa kita seharusnya untuk tidak khawatir terhadap apapun juga. Namun, dalam 2 Korintus 11:27-28, Paulus juga mengatakan bahwa ia kerap tidak tidur karena beban kesehariannya, terutama persoalan jemaat. Kedua ayat tersebut sekilas tampak sebagai dua pernyataan yang kontras.

 

Jika dipahami lebih jauh, Filipi 4:6 mengajak seseorang untuk menyatakan kekhawatirannya dan membawanya kepada Tuhan, bukan menyimpan kekhawatiran tersebut seorang diri dalam jangka waktu yang lama. Dalam pandangan lain, dapat pula dikatakan terdapat bentuk kekhawatiran yang dapat disebut sebagai holy anxiety. Dalam 2 Korintus 11:27-28,  Paulus memiliki kekhawatiran dan rela memikul keprihatinan terhadap kerohanian jemaat yang ia layani, bukan semata-mata kekhawatiran mengenai kepentingan dirinya sendiri. 

 

Dengan demikian, kehidupan iman tidak selalu berarti ketiadaan rasa khawatir. Yang menjadi penting adalah bagaimana kekhawatiran tersebut dihadapi dan dibawa kepada Allah.

 

Kehidupan Yesus

Contoh paling sering dibahas mengenai pergumulan Yesus adalah ketika Ia berdoa di Taman Getsemani (Matius 26:36-46). Dalam ayat 36-37 tertulis bahwa Ia merasa sedih dan gentar, bahkan “seperti mau mati rasanya”. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa penderitaan yang dialami Yesus tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyentuh dimensi emosional dan spiritual.

 

Kerap kali peristiwa penyaliban Yesus hanya dikaitkan dengan penderitaan fisik, tetapi penderitaan emosional dan spiritual-Nya juga perlu diperhatikan. Dalam Injil Lukas juga terdapat gambaran mengenai keringat Yesus yang seperti titik-titik darah, yang menunjukkan intensitas pergumulan yang dialami-Nya.

 

Penderitaan Yesus juga terlihat dalam Matius 27:46 ketika ia berseru, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Dalam kondisi seseorang yang sedang mengalami tekanan mental, salah satu pengalaman yang dapat muncul adalah perasaan ditinggalkan atau tidak diinginkan. Yesus dalam kehidupan-Nya di dunia, tidak hanya mengalami penderitaan secara fisik, tetapi juga penderitaan emosional dan spiritual. Ia tidak hanya dianiaya secara fisik, melainkan ia juga dihina dan direndahkan. 

 

Namun, pengalaman Yesus tersebut tidak dapat digunakan untuk memberikan diagnosis klinis terhadap kondisi psikologis-Nya. Yang dapat dilihat dari teks adalah bahwa pergumulan emosional dan spiritual merupakan bagian dari penderitaan yang Ia jalani dalam menyelesaikan misi Allah.

 

Refleksi Teologis

Alkitab mencatat dan memberikan pengajaran mengenai berbagai pengalaman yang pada masa sekarang dapat dibicarakan dalam konteks kesehatan mental. Sebagai tahapan awal, gereja dan umat perlu memiliki kesadaran akan isu kesehatan mental. Banyak tokoh dalam Alkitab juga mengalami pergumulan berupa kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, kesedihan, dan tekanan. Karena itu, umat Kristen tidaklah sendirian dalam menghadapi pergumulan kesehatan mental. Alkitab juga menunjukkan bahwa Allah hadir dan merespon pergumulan manusia.

 

Gereja perlu merespons persoalan kesehatan mental dengan membangun kesadaran dan menyediakan ruang bagi umat untuk mengalami pendampingan. Pergumulan kesehatan mental tidak dapat selalu dipahami sebagai akibat dari dosa tertentu. Pada saat yang sama, perspektif Kristen tetap mengakui bahwa manusia hidup di dalam dunia yang telah rusak oleh dosa, sehingga manusia dapat mengalami berbagai bentuk penderitaan, termasuk persoalan kesehatan mental. Dampak tersebut dapat bersifat langsung maupun tidak langsung dan tidak selalu berkaitan dengan dosa pribadi seseorang.

 

Karena itu, umat tidak dibiarkan sendirian dalam menghadapi pergumulan. Mereka dipanggil untuk terus datang kepada Tuhan, sementara gereja dipanggil untuk hadir dan mendampingi.

 

Penutup

Alkitab berbicara mengenai berbagai pengalaman yang memiliki kaitan dengan isu kesehatan mental. Karena itu, sebagai umat Kristen, kita perlu menyadari dan memperhatikan persoalan tersebut dengan sungguh-sungguh.

 

Tokoh-tokoh di dalam Alkitab juga mengalami berbagai pergumulan seperti kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, kesedihan, dan tekanan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pergumulan mental tidak dengan sendirinya berarti seseorang kehilangan imannya atau ditinggalkan oleh Allah.

 

Bagi yang sedang mengalami pergumulan, sadarlah bahwa Allah hadir dan memperhatikan setiap umat-Nya. Pada saat yang sama, gereja dipanggil untuk hadir, mendengarkan, dan mendampingi mereka yang sedang bergumul.

 

Di tengah jiwa yang gelisah dan iman yang bergumul, kita diingatkan bahwa kehidupan bersama Allah tidak selalu berarti kehidupan tanpa pergumulan. Namun, di dalam Kristus terdapat pengharapan akan shalom yang pada akhirnya akan dinyatakan dengan sempurna.

 

Artikel ini disadur dari program Seminar Alkitab. Tonton versi video lengkapnya di YouTube LAI: youtube.com/watch?v=ioOYpFs3cI8

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia