Literai Digita | GKI Coyudan
Pada 20 Juni yang lalu, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) mendapatkan kesempatan berharga untuk berkolaborasi dengan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Coyudan Solo dalam menyelenggarakan kegiatan Literasi Digital. Bersama seorang content creator, Atma Simanungkalit, LAI hadir untuk memaparkan bagaimana menjadi pengikut Kristus yang bijaksana dalam beraktivitas di dunia maya, termasuk dalam bermedia sosial di era digital saat ini. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk membentuk para peserta menjadi pembuat konten yang andal, baik dari segi substansi maupun teknis.
Sore hari pukul 15.30 WIB, beberapa remaja sudah tampak menunggu dimulainya kegiatan di pelataran gereja. Para pelayan multimedia gereja juga terlihat antusias mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis demi mendukung kelancaran acara. Bung Reggy Leo—seorang pembuat konten, pelayan GKI Coyudan bidang kepemudaan dan Digital Ministry, sekaligus penggagas acara ini—aktif memberikan arahan kepada tim multimedia gereja maupun tim dari Lembaga Alkitab Indonesia.
Tepat pukul 16.45 WIB, acara resmi dimulai. Sebanyak 36 peserta yang terdiri dari siswa Sekolah Menengah dan remaja—baik dari dalam maupun luar jemaat GKI Coyudan—antusias mendengarkan pembukaan dari Reggy Leo. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan seputar budaya digital oleh Bpk. Laksono dari Departemen Digital LAI.
Memasuki sesi utama yang paling ditunggu-tunggu, Atma Simanungkalit membagikan pemaparan serta testimoninya dalam membuat konten di media sosial. Atma menjelaskan banyak hal terkait kreativitas dan kiprahnya sebagai pembuat konten Kristen. Mulai dari awal perjalanan pelayanan digitalnya hingga kesuksesannya meraih sekitar 60 ribu pengikut, semuanya ia bagikan dengan penuh antusias dan disambut rasa penasaran yang tinggi dari para peserta.
Atma menekankan bahwa ada banyak hal dari Alkitab yang dapat digali dan disebarluaskan di internet. Keberhasilannya selama ini juga tidak luput dari penerapan "rumus" pembuatan konten yang ia gunakan, yaitu:
- Hook: Cara memikat penonton agar langsung tertarik melihat konten dalam beberapa detik pertama.
- Body: Esensi atau pesan utama dari konten itu sendiri.
- Call to Action (CTA): Cara pembuat konten mengajak penonton melakukan sesuatu yang berkaitan dengan tujuan konten, seperti menerapkan pesan video atau mengajak mereka mengikuti (follow) akun media sosial tersebut.
Setelah sesi Atma selesai, acara dilanjutkan dengan pembahasan teknis dan praktik membuat konten yang dibawakan oleh Hizkia Yosurandri dari divisi konten Departemen Digital LAI. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami seluruh proses produksi mulai dari penyusunan skrip, persiapan alat, hingga tahap editing demi menghasilkan konten yang berkualitas.
Puncak dari kegiatan ini adalah praktik langsung pembuatan konten. Para peserta dibagi ke dalam 9 kelompok untuk mempraktikkan seluruh materi yang telah didapat. Dengan penuh semangat, para remaja ini mencoba membuat konten kreatif berbasis kisah Alkitab. Untuk mendukung proses tersebut, tim LAI juga memberikan alternatif referensi seputar Alkitab melalui aplikasi berbasis AI bernama ALIN (Alkitab Interaktif).
Akhirnya pada pukul 19.00 WIB, seluruh karya konten berhasil dikumpulkan. Hanya dalam waktu kurang lebih satu jam, para peserta mampu memproduksi video kreatif berdurasi 45–60 detik. Meskipun penilaian juri hanya memilih 3 juara terbaik, seluruh karya yang dihasilkan menunjukkan bahwa para remaja ini telah siap menjadi pembuat konten Kristen yang andal. Mereka siap menjadi garam dan terang di dunia maya yang bergerak begitu dinamis dan cepat.
























