Oleh: Hortensius F.Mandaru*
Tanggal 20 Juli 2026 Pdt. Ara di jemaat Panenggo Ede di desa Kodi Balaghar mengajak saya bersama beberapa anggota tim PB Kodi menuju ke desa Kori di Kodi Utara, untuk bertemu dengan keluarga Bapak Rambaho Ndelo. Istri beliau adalah putri dari alm. Pdt. Ndoda. Almarhum Pdt.Ndoda ini mewariskan harta tak ternilai bagi masyarakat Kodi, yaitu manuskrip Alkitab Perjanjian Lama lengkap. Koq, ada manuskrip di zaman ini? Iya, disebut ‘manuskrip’ karena semuanya berupa tulisan tangan, sesuai arti harfiah kata itu. Beliau menerjemahkan seluruh kitab PL dalam bahasa Kodi dengan tulisan tangan yang indah, seperti lazimnya tulisan tangan guru-guru dahulu. Seluruh terjemahan beliau tersimpan dalam 21 ‘kodeks’, maksudnya dalam 21 buku-tulis: 2 berukuran besar, 19 berukuran kecil. Ini fenomena sangat langka: seluruh kitab PL diterjemahkan oleh satu orang saja, dan seluruhnya ditulis tangan!
Karya luar biasa ini konon dikerjakan saat beliau memasuki usia purna-tugas di awal tahun 80-an. Putra-putrinya masih mengingat bagaimana almarhum ayah mereka itu bekerja dengan penuh dedikasi dan devosi selama sekitar 7 tahun. Setiap hari beliau pasti menyiapkan ‘saat teduh’ untuk penerjemahan. Kalau ada gangguan atau kebisingan, beliau akan memilih mengerjakan hal lain. Untuk penerjemahan Alkitab, dia butuh ketenangan, tentu demi kejernihan dan kedalaman.
Setelah Pdt. Ndoda meninggal, putranya yang tertua (Bpk. John Ndoda) ‘mengamankan’ 21 kodeks ini di Kupang, tempat dia mengabdi sebagai dosen. Konon Pak John pernah berniat untuk menghubungi LAI berkaitan dengan magnum opus ayahnya itu, tetapi niat itu tidak sempat terwujud. Akhirnya karya-karya itu dibawa pulang ke desa Kori, sampai ‘ditemukan’ pada malam 20 Juli 2026 yang lalu.
Keluarga Pak Pdt. Ndoda tidak berkeberatan, bahkan senang sekali jika karya yang begitu melelahkan dan berharga dari ayahanda mereka itu dapat dipakai sebagai draf Perjanjian Lama, jika LAI berencana menerjemahkan PL ke dalam bahasa Kodi. Bagi mereka dan bagi kami, pertemuan malam itu bukankah pertemuan kebetulan, melainkan pertemuan penuh berkat. Perjumpaan itu sudah Tuhan rencanakan demi mewujudkan kerinduan umat-Nya di Kodi untuk mendengarkan firman-Nya dalam bahasa ibu mereka.
Catatan:
Penulis adalah Pembina Penerjemahan LAI yang mendampingi Tim Penerjemah Perjanjian Baru dalam bahasa Kodi, Sumba.
























