Setiap 23 September, dunia memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional. Momen ini menjadi pengingat penting akan hak-hak kesetaraan bagi komunitas tuli, termasuk hak atas akses komunikasi dan bahasa ibu mereka. Bahasa Isyarat bukan sekadar kumpulan gerakan tangan, melainkan bahasa yang kaya, bermakna, dan menjadi identitas budaya bagi jutaan orang tuli di seluruh dunia.
Kita sering berasumsi kalau orang tuli dapat membaca dan mengerti aksara latin dengan baik. Asumsi ini bisa dikatakan tidak benar untuk hampir sebagian orang tuli. Sedikit orang tuli yang cerdas mungkin dapat memahami tulisan, tetapi tidak bagi sebagain besar dari mereka.
Tulisan adalah simbol-simbol suara yang efektif hanya bagi orang yang bisa mendengar, tetapi orang tuli yang hanya mengandalkan visual, simbol-simbol suara pada huruf-huruf tertulis bukanlah pembawa pesan yang efektif. Bagi teman-teman tuli, bahasa Isyarat, yang merupakan bahasa visual, adalah bahasa yang paling mereka pahami dan mengerti.
Bagi umat Kristiani, pertumbuhan iman sangat erat kaitannya dengan kemampuan membaca dan merenungkan Alkitab. Namun, seperti telah dijelaskan tadi, membaca teks tertulis sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi teman tuli karena struktur bahasa Isyarat memiliki tata bahasa dan sintaksis yang amat berbeda dari bahasa lisan. Kesadaran mendalam akan kebutuhan spiritual ini mendorong gerakan global yang diusung oleh Perserikatan Lembaga-lembaga Alkitab Sedunia (United Bible Societies-UBS) di mana Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menjadi salah satu anggota tetapnya.
UBS berkomitmen memfasilitasi penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa Isyarat di seluruh dunia. Alkitab Bahasa Isyarat dirancang bukan sekadar sebagai teks visual, melainkan dihadirkan melalui rekaman video beresolusi tinggi di mana para penerjemah tuli memperagakan firman Tuhan secara alami, visual, dan kontekstual. Langkah ini memastikan bahwa firman Allah dapat diserap dengan utuh oleh hati dan pikiran komunitas tuli.
Di Indonesia, semangat ini diteruskan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Sebagai bagian dari persekutuan UBS, LAI terus berupaya menghadirkan Alkitab Bahasa Isyarat (BIS) agar teman tuli di tanah air dapat menyapa dan disapa oleh Tuhan melalui bahasa yang paling dekat dengan jiwa mereka. Pengerjaan terjemahan ini membutuhkan ketelitian tinggi, keterlibatan aktif tim ahli, serta kolaborasi langsung bersama komunitas tuli lokal.
Sebelum memulai penerjemahan Alkitab lengkap ke dalam Bahasa Isyarat, LAI memulai rintisan program ini dengan menerjemahkan Cerita-cerita Alkitab Sepanjang Tahun (CAST) yaitu kumpulan cerita-cerita Alkitab untuk anak yang dilengkapi ilustrasi-ilustrasi menarik ke dalam Bahasa Isyarat. Sekarang Tim LAI sedang memulai penerjemahan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Isyarat dan dimulai dari Injil Lukas.
Mewujudkan Alkitab Bahasa Isyarat membutuhkan dukungan dari kita semua. Bukan kebetulan jika di bulan September ini perayaan Hari Bahasa Isyarat Internasional bersamaan dengan perayaan Bulan Doa Alkitab (BDA). Perayaan BDA menjadi momen gereja dan umat Kristiani di Indonesia untuk bersyukur karena Alkitab telah hadir dalam bahasa yang dapat kita mengerti dan pahami. Firman ilahi itu telah menjadi sumber penghiburan, inspirasi dan penuntun langkah hidup kita setiap hari.
Seiring dengan itu kita diajak untuk mengingat juga kebutuhan hak spiritual teman-teman tuli Kristiani. Mereka juga berharap firman Tuhan menyapa mereka dalam bahasa dan media yang mereka pahami dan dekat di hati.
Mari kita dukung upaya Lembaga Alkitab Indonesia dalam mengusahakan hadirnya Kabar Baik dalam bahasa Isyarat melalui doa, kepedulian, dan donasi finansial agar proses penerjemahan dan produksi Alkitab Bahasa Isyarat dapat terus berjalan lancar.
Dukungan dari Bapak dan Ibu, Sahabat Alkitab baik secara pribadi maupun dalam lingkup komunitas berperan besar dalam mewujudkan Alkitab tersedia dan hadir untuk semua orang. Termasuk di dalamnya sahabat-sahabat tuli di seluruh wilayah Indonesia.






















