Malam itu, 28 Oktober 2026, suasana di Universitas Kristen Maranatha terasa bergelora. Tepat pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, sebanyak 450 pemuda-pemudi dari seluruh penjuru Bandung Raya memadati venue acara. Mereka berkumpul bukan sekadar untuk menikmati musik, melainkan untuk menyalakan kembali api misi Allah dalam sebuah konser megah bertajuk "Endless Impact".
Acara yang digagas oleh Kelompok Kerja Penggalangan Dukungan (KKPD) LAI Mitra Bandung ini langsung mengguncang hati para pengunjung sejak awal. Melalui konsep praise and worship, Bobby Febian, Jeremia Noah, dan Daud Pamei memimpin pujian yang membawa seluruh ruangan masuk ke dalam hadirat Tuhan. Alunan suara indah dari Glorify The Lord Ensemble serta gerak artistik dari Jaringan Penari Sekota makin menghidupkan semangat anak-anak muda yang hadir.
Momen paling menggetarkan hati terjadi ketika Rektor Universitas Kristen Maranatha, Prof. Ir. Frans Umbu Datta, M.App.Sc., Ph.D., naik ke atas panggung. Dengan nada penuh haru, beliau membagikan kisah masa kecilnya di sebuah desa di Pulau Sumba. Kala itu, keluarganya hanya memiliki satu-satunya Alkitab, itu pun karena sang ayah bertugas sebagai majelis di gereja. Melalui satu Alkitab itulah ia belajar mengenal kehidupan Yesus dan kebenaran firman-Nya. Perkenalan melalui Alkitab itu yang pada akhirnya menuntun langkah hidupnya hingga menjadi pimpinan perguruan tinggi hari ini.
Namun, beliau menegaskan bahwa tidak semua orang seberuntung dirinya. Beliau mengajak ratusan pemuda di ruangan itu membayangkan kondisi umat Tuhan di Rampi, Sulawesi Selatan. Di daerah terisolasi dengan akses yang amat sulit tersebut, banyak keluarga belum pernah memiliki Alkitab sendiri. Mereka merindukan kebenaran, tetapi firman tertulis itu belum pernah sampai ke tangan mereka.
Pesan tersebut ditegaskan kembali oleh Ps. Theny Landena saat menyampaikan kebenaran firman Tuhan. Beliau mengingatkan bahwa generasi muda harus kembali kepada Firman, karena hanya firman itulah yang mampu menyelamatkan dan mendekatkan manusia kepada Tuhan. Beliau juga menggugah kepedulian para audiens untuk tidak tinggal diam melihat saudara-saudara seiman yang kesulitan mengakses Firman Allah.
Konser "Endless Impact" akhirnya menjelma menjadi gerakan nyata untuk menggalang dana pengadaan Alkitab bagi masyarakat Rampi.
Peringatan Sumpah Pemuda memberi pesan jelas: generasi muda harus memberi dampak (endless impact) bagi kemajuan dan spiritualitas bangsa. Bagi pemuda Kristen, berdampak berarti mau membagikan terang Kristus hingga ke pelosok negeri. Membangun bangsa dimulai dari memastikan setiap orang, bahkan di tempat terpencil sekalipun dapat membaca dan menemukan pengharapan di dalam Firman Tuhan.
Kini, kesempatan untuk memberi dampak itu terbuka lebar. Setiap donasi yang disalurkan bukan sekadar lembaran uang, melainkan sebuah Alkitab yang akan digenggam jemari jemaat di Rampi. Sebuah Alkitab yang berpotensi mengubahkan masa depan seorang anak di sana, sama seperti yang pernah dialami Prof. Frans puluhan tahun lalu.
Mari kita mengambil bagian dalam gerakan ini. Ulurkan tanganmu hari ini, dan jadilah pemuda yang tidak hanya menyuarakan perubahan, tetapi juga menjadi jawaban atas doa saudara-saudara di Rampi.(ady)
























