KORUPSI POLITIK DAN AGAMA

Artikel | 29 Jan 2026

KORUPSI POLITIK DAN AGAMA


Seminar Alkitab | Pdt. Robert Setio, Ph. D.

 

Kitab Hosea sering kali menimbulkan kegelisahan moral bagi pembacanya. Kisah hidup Nabi Hosea, yang diminta Tuhan untuk menikahi Gomer, seorang perempuan yang dilabeli sebagai pelacur, bukan sekadar metafora yang aman dan nyaman, melainkan sebuah tindakan simbolik yang mengusik rasa etis dan religius. Melalui pengalaman personal nabi, Tuhan menyampaikan pesan profetis tentang relasi-Nya dengan Israel: relasi yang tercemar oleh ketidaksetiaan, manipulasi, dan penyalahgunaan agama demi kepentingan lain. Ketegangan antara iman, moralitas, dan realitas sosial-politik inilah yang menjadi pintu masuk untuk membaca kritik Hosea, khususnya dalam Hosea 7, yang menyoroti keterjalinan erat antara politik dan agama.

 

Latar Historis: Israel Utara dalam Krisis Politik

Untuk memahami pesan Kitab Hosea, pembacaan latar belakang historis menjadi keharusan. Nabi Hosea bernubuat di Kerajaan Israel Utara dengan ibu kota Samaria, pada abad ke-8 s.M., mulai dari masa pemerintahan Yerobeam II (sekitar 787–747 s.M.) hingga Raja Hosea (731–722 s.M.), raja terakhir Israel Utara. Setelah kematian Salomo, Kerajaan Israel Raya terpecah menjadi dua: Israel di utara dan Yehuda di selatan. Israel Utara mengalami ketidakstabilan politik yang akut, ditandai dengan kudeta berulang, perebutan kekuasaan, dan pergantian raja yang cepat.

 

Situasi ini diperparah oleh tekanan geopolitik dari kekaisaran Asyur yang semakin agresif. Israel berada dalam posisi strategis sebagai wilayah penyangga antara Asyur dan Mesir. Ketakutan akan ancaman Asyur mendorong para pemimpin Israel mengambil kebijakan luar negeri yang oportunistis dan inkonsisten: kadang tunduk kepada Asyur, kadang berharap pada bantuan Mesir. Kebijakan yang lahir dari kepanikan dan salah kalkulasi ini akhirnya berujung pada kehancuran Samaria pada tahun 722/721 s.M. Latar krisis inilah yang menjadi konteks utama kritik Nabi Hosea.

 

Hosea 7: Kritik Profetis terhadap Politik yang Busuk

Hosea 7:3-16 memuat kritik tajam terhadap elite politik Israel. Gambaran pertama yang muncul adalah perilaku para pejabat, “Mereka menyenangkan hati raja dengan kejahatan mereka, dan para pemuka dengan kebohongan mereka.” (ay. 3). Kritik ini mengarah pada budaya Asal Bapak Senang (ABS): laporan palsu yang menyenangkan penguasa, sementara realitas sebenarnya disembunyikan. Dalam suasana seperti ini, kebenaran dikorbankan demi stabilitas semu dan kepentingan pribadi.

 

Ayat 4 memperluas kritik ini ke ranah moral pribadi, dengan metafora perzinahan dan api yang terus menyala. Hasrat yang tak terkendali, baik hasrat seksual, kekuasaan, maupun materi, menjadi ciri para pemimpin. Hosea tidak memisahkan kebusukan moral pribadi dari kebusukan politik; keduanya saling menguatkan. Ayat 5-6 menggambarkan pesta pora, mabuk-mabukan, dan intrik istana: di permukaan tampak persatuan dan loyalitas, tetapi di baliknya tersimpan kemarahan dan rencana kudeta.

 

Gambaran ini mencapai puncaknya dalam pernyataan tragis, “Semua raja mereka sudah tewas, tidak seorang pun dari mereka berseru kepada-Ku.” (ay. 7). Politik telah menjadi arena yang sepenuhnya tertutup bagi Tuhan. Perebutan kekuasaan menghabiskan energi spiritual umat; Tuhan tersingkir dari pusat kehidupan berbangsa.

 

Politik Internasional dan Kepanikan Spiritual

Dalam ayat 8-11, Hosea menggunakan metafora yang kuat: Israel seperti “roti bundar yang tidak dibalik” dan “merpati yang lugu, tidak berakal”. Israel kehilangan kepekaan terhadap kenyataan dirinya sendiri, bahkan “orang asing memakan habis kekuatannya” tanpa disadari. Secara politis, ini menunjuk pada ketergantungan terhadap kekuatan asing; secara teologis, ini menandakan kehilangan orientasi iman.

 

Upaya meminta bantuan kepada Mesir atau tunduk pada Asyur bukan sekadar kesalahan strategi politik, melainkan ekspresi dari kegelisahan batin dan ketidakpercayaan kepada Tuhan. Kepanikan kolektif membuat para pemimpin bertindak ceroboh, tanpa refleksi mendalam atas konsekuensi jangka panjang. Hosea menegaskan bahwa krisis ini tidak terlepas dari peran Tuhan: bukan sebagai penolong instan, melainkan sebagai pihak yang “menebarkan jaring” agar Israel menyadari kesalahannya (ay. 12).

 

Agama Tanpa Hati: Ibadah yang Kosong

Ayat 13-14 mengungkap ironi religius Israel. Mereka masih berseru kepada Tuhan, masih melakukan ritual dan praktik keagamaan, tetapi semuanya tidak keluar dari hati. Ibadah menjadi formalitas, bahkan alat untuk mengejar keuntungan materi. Dalam krisis, yang terutama dipikirkan bukan pertobatan, melainkan ‘gandum dan anggur’,  simbol kesejahteraan ekonomi.

 

Di sinilah Hosea memperlihatkan kritik mendalam terhadap agama yang terkooptasi oleh kepentingan politik dan ekonomi. Agama tidak lagi menjadi ruang pertobatan dan kejujuran di hadapan Tuhan, melainkan kedok untuk menyelamatkan muka dan mempertahankan status sosial. Ayat 15-16 menutup dengan gambaran kehancuran yang tak terelakkan: pengalaman panjang bersama Tuhan tidak menjamin kesetiaan, ketika hati manusia dikuasai oleh keserakahan dan ketakutan.

 

Refleksi Teologis: Kerapuhan Manusia dan Umat Pilihan

Salah satu pelajaran teologis penting dari Hosea 7 adalah pengakuan bahwa umat pilihan pun dapat jatuh dan hancur. Kejatuhan Israel bukan anomali Perjanjian Lama, melainkan cermin kerapuhan manusiawi. Israel berdosa bukan karena mereka “lebih buruk” dari bangsa lain, melainkan karena mereka manusia yang rapuh, mudah berselisih, haus kuasa, serakah, ceroboh dalam kepanikan, dan sering kali kurang percaya diri.

 

Kerapuhan ini nyata dalam perselisihan internal yang tak berkesudahan, baik di istana maupun dalam komunitas iman. Hasrat berkuasa dan kebutuhan akan pengakuan mendorong orang menyingkirkan Tuhan dari pusat hidup. Harta dan prestise menjadi ukuran martabat, sehingga korupsi (dalam arti luas) menjadi godaan yang hampir tak terpisahkan dari politik dan agama.

 

Relevansi Kontekstual

Pembacaan Hosea 7 menjadi sangat relevan dalam konteks Indonesia. Realitas politik tidak selalu rasional; kepanikan, emosi, dan kepentingan jangka pendek sering mendominasi. Agama pun mudah terseret ke dalam perebutan kekuasaan karena daya mobilisasinya yang besar. Ketahanan umat beragama terhadap godaan materi sering kali lemah, sementara pengaruh kekuatan asing, baik ekonomi maupun politik, masih terasa kuat.

 

Konflik antar kelompok, baik yang terbuka maupun tersembunyi, terus terjadi dan menggerogoti persaudaraan kebangsaan. Pertanyaan mendasar yang diajukan Hosea juga menjadi pertanyaan bagi kita: sejauh mana Tuhan sungguh menjadi pusat kehidupan bersama? Seberapa besar iman kita menguatkan persaudaraan sebagai sesama warga bangsa, bukan justru dijadikan alat pembenaran kepentingan sempit?

 

Penutup: Mendengar Kembali Suara Profetis

Kitab Hosea mengingatkan bahwa korupsi politik dan agama bukan sekadar masalah struktural, melainkan persoalan hati manusia. Ketika Tuhan disingkirkan, agama kehilangan daya profetisnya dan politik kehilangan arah moralnya. Suara Hosea mengajak umat untuk berhenti sejenak di tengah kepanikan, merenungkan kesalahan, dan kembali kepada Tuhan dengan hati yang utuh. Dalam dunia yang terus diguncang krisis, pesan ini tetap mendesak untuk didengar dan dihidupi.

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia