Manusia terkadang bisa menjadi begitu angkuh. Kita merasa berdiri di atas puncak gunung dan memiliki dunia ini. Kita menolak kerapuhan itu dan berlindung dalam kekuatan semu yang kita kira ada dalam diri ini. Kita berpikir bahwa segala sesuatu berdiri mengitari kita. Padahal jika kita bersedia untuk membuka mata dan nurani ini, maka sesungguhnya manusia adalah makhluk yang begitu kecil dan rapuh. Dalam sekejap mata kita bisa mengambil keputusan yang salah dan merusak apa yang selama ini telah kita miliki. Dosa selalu membayangi langkah kita, siap untuk masuk dan menguasai saat pendirian kita menjadi lemah. Hidup kita bagaikan abu yang sebentar ada dan kemudian lenyap. Manusia dikuasai oleh kefanaan. Dalam kondisi tersebut hanya kasih Allah yang dapat menopang keberadaan kita. Ia merengkuh dan mendekap kita dalam ketulusan serta kasih-Nya yang begitu besar, asalkan manusia betul-betul sadar akan keberadaan-Nya yang begitu rentan akan dosa serta kesalahan. Masa-masa prapaskah adalah saat yang tepat untuk merefleksikan hal tersebut. Dimulai dari Rabu Abu yang mengungkapkan siapa kita sesungguhnya di hadapan Tuhan. Kita adalah debu yang direngkuh oleh kasih setia Allah.
Kesadaran akan kondisi dasariah manusia yang rapuh dan bergelimang dosa telah menjadi kesaksian orang percaya ribuan tahun lamanya. Sebagaimana tercatat dalam syair-syair Mazmur di Mazmur pasal 51. Syair tersebut merefleksikan teguran Nabi Natan kepada Daud saat Ia melakukan dosa yang begitu besar di hadapan Allah, merebut Betsyeba dengan merancang hal yang begitu keji. Menariknya Daud tidak mengelak dari teguran Natan. Seorang Raja yang punya kuasa besar itu memilih untuk tunduk pada teguran Tuhan. Ia tahu bahwa melarikan diri dari Dosa dan murka Allah sama sekali tidak mungkin.
Syair penyesalan dosa tersebut dimulai dengan pengakuan akan keberadaan diri di hadapan-Nya. Pemazmur mengajak semua pembacanya untuk meminta belas kasihan Allah. Ia memohon agar Allah mengampuni-Nya. Bersihkanlah dan tahirkanlah adalah ekspresi yang digunakan pemazmur, keduanya menggambarkan sebuah proses penyucian diri yang biasa diungkapkan dalam ritual atau peribadahan Israel. Dosa atau kesalahan manusia hanya dapat diampuni bila Allah menghendaki-Nya. Dengan jujur pemazmur mengakui bahwa Ia melakukan apa yang Jahat di hadapan Tuhan. Maka satu yang dipinta oleh pemazmur adalah agar ia dibersihkan seluruhnya. Hisop yang digunakan dalam ritual penyucian Israel diungkapkan disini. Terakhir ia meminta agar Allah betul-betul mengubahkannya. Mazmur 51 juga mengungkapkan bagian yang penting dari proses pertobatan manusia. Jika sudah diampuni oleh Allah, maka apa yang akan kita lakukan? Melalui ayat 16, pemazmur memberikan sebuah pandangan yang menarik. Saat pengampunan sudah dinyatakan maka beritakanlah keadilan serta kebaikan Allah melalui lidahmu.
Sahabat Alkitab, sebentar lagi sebagian besar denominasi akan menghayati rabu abu yang menandai dimulainya masa prapaskah. Melalui abu yang menjadi simbol dominan dalam rabu abu, kita hendak mengingat keberadaan diri kita yang laksana debu. Begitu rapuh dan cepat binasa, tetapi Allah memilih untuk tetap setia dan mengasihi kita. Kerapuhan itu juga nampak dari betapa mudahnya kita terjerumus dosa serta melupakan titah-Nya. Keangkuhan kita seringkali menghadirkan pembenaran dan penolakan atas kenyataan keberdosaan kita. Maka kiranya Allah berbelas kasihan untuk melembutkan dan mengetuk pintu hati kita. Supaya dalam kesadaran penuh kita mengakui segala keberdosaan kita dan betul-betul diampuni-Nya.
Mungkin pada titik ini kita telah lama berpaling dari Allah. Dosa membuat kita malu dan menjauh dari-Nya. Namun ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah mengalihkan pandangan-Nya dari kehidupan kita. Akui dengan jujur maka Tuhan akan memeluk kita dengan begitu hangat. Semoga Allah menyertai kita senantiasa. Jalan pertobatan tidak pernah mudah, tetapi dalam Roh Kudus, Ia senantiasa menopang kita. Selamat memasuki masa prapaskah. Selamat menapaki kembali jalan pertobatan.
Pertanyaan reflektif: Mengapa kita seringkali enggan untuk mengakui dosa dan kesalahan kita dihadapan Allah?




















