Setiap kali Lembaga Alkitab Indonesia merayakan ulang tahunnya, kita diingatkan sosok-sosok yang sudah ikut berjuang merintis, mendirikan, menumbuhkan dan memelihara pelayanan lembaga Alkitab. Salah satu dari banyak sosok yang berperan panjang dalam perjalanan LAI adalah Petrus Dominggus Latuihamallo atau akrab disapa Pak Latui.
Andar Ismail penulis buku Seri Selamat menyebut Pak Latui sebagai sesepuh yang dituakan dalam tiga dunia. Ketiga dunia itu adalah penerbitan Alkitab, keesaan gereja dan pendidikan teologi. Pak Latui adalah salah seorang pendiri Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Bukan hanya ikut mendirikan, beliau juga berperan menumbuhkan dan memelihara pelayanan LAI. Saat LAI berdiri, usia Latui baru 36 tahun. Dan hingga menjelang akhir hayatnya pada usia 95 tahun, Pak Latui masih menjabat sebagai Ketua Badan Pembina LAI. Sampai beliau sendiri menyatakan,”Hora,est!” (saatnya telah tiba untuk undur diri). Sejarawan gereja, Pdt. Jan Aritonang menyatakan kekagumannya tentang Pak Latui demikian: bagi pria Indonesia yang average life expectancy-nya 65 tahun, pencapaian usia Pak Latui sungguh luar biasa. Tidak sampai 1 persen orang Indonesia mencapai usia seperti Pak Latui. Dan lebih sedikit lagi yang dalam usia sepanjang itu masih terus berkarya dengan akal budi yang jernih dan segar disertai semangat yang tetap menyala.
Petrus Dominggus Latuihamallo lahir di Mamasa, Sulawesi Selatan 11 Agustus 1918. Dominggus Latuihamallo adalah putra kedua (dari empat saudara) E.J. Latuihamallo, pendeta dan guru, yang berasal dari Maluku.
Selepas menamatkan HIS di Makasar pada tahun 1933, kemudian melanjutkan ke MULO-B. Sampai lulus MULO bagian B tahun 1937, Dominggus hidup di Ujungpandang. Lepas MULO, Dominggus masuk HTS (belakangan namanya menjadi Sekolah Tinggi Teologia) di Jalan Pegangsaan Timur no. 27, Jakarta.
Kuliahnya di HTS sempat tertunda beberapa tahun. Kedatang pasukan Jepang yang menyerbu Indonesia mengakibatkan sekolah itu ditutup. Dominggus sempat luntang-lantung, meski sempat enam bulan mempelajari musik barat dan opera Italia pada sebuah sekolah musik di Jalan Jeruk, Jakarta (1945). Pada masa- masa itu ia juga sempat bekerja sebagai karyawan diakoni gereja (1942-1945). Keterlibatannya dalam sekolah musik nanti mengantarkannya untuk menjadi penyanyi tenor di Radio Hindia Belanda, beberapa kali pula ia diminta menjadi dirigen.
Selama masa penjajahan Jepang tersebut, kehidupan dirasa sangat sulit. Pernah ia bekerja sebagai penjaga gedung sekolah. Seorang Belanda-Indo yang lolos dari interniran Jepang dan bersembunyi di kawasan Menteng, memberinya uang 25 gulden. Uang tersebut dimanfaatkannya sebagai modal berdagang sayur dan buah-buahan. Sore hari ia mengayuh sepeda mencari dagangan di Pasar Minggu, keesokan paginya ia menjajakan dagangannya.
Pada 1945, ia sempat mengikuti pendidikan di Sekolah Islam Tinggi, di bawah pimpinan Mohammad Natsir. Teman sekuliahnya antara lain Mukti Ali, yang di kemudian hari (1971-1978) menjadi menteri agama RI.
Selepas masa pendudukan Jepang, meski ia punya kesempatan melanjutkan sekolah musik, namun ia memilih untuk melanjutkan pendidikan teologianya. Pada 1948, ia mendapatkan dua hal: ijazah STT, dan pemberkatan pernikahannya dengan Daisy Soselisa, gadis yang sudah ia kenal empat tahun sebelumnya ketika sama-sama aktif di Gereja Imanuel, Gambir, Jakarta. Tahun ini pula Dominggus menjadi pendeta, ditahbiskan di Gereja Immanuel untuk penugasan di Gereja Protestan Maluku (GPM). Tak lama kemudian ia diangkat menjadi gembala GPM di Dobo. Orang-orang di sana memanggilnya Pak Latui. Dobo terletak di Kepulauan Aru, di sana beliau menggembalakan belasan jemaat yang tersebar di beberapa pulau. Untuk mengunjungi pulau-pulau itu menggunakan kapal kecil, yang sering harus berjuang menghadapi ombak tinggi.
Selain melayani jemaat, Pak Latui sering diminta membawakan materi dalam berbagai seminar kepemimpinan. Suatu kali sewaktu membawakan khotbahnya di Dobo, umatnya memprotes: ‘’Bapak jangan pakai itu bahasa Soekarno.’’ Padahal, ia memakai bahasa Melayu. Waktu itu, kawasan Irian dan pulau- pulau di sekitarnya masih di bawah pengaruh kolonial Belanda. Maka, ia pun memakai bahasa setempat. Setelah menyelesaikan studi pasca sarjana di Amerika, tahun 1951, Pak Latui menjadi salah seorang staf pengajar di STT Jakarta. Prof. Ihromi rekan beliau di STT Jakarta mencatat, Pak Latui merupakan putra Indonesia pertama yang menjadi dosen di STT Jakarta. Artinya beliau merupakan anak Indonesia pertama, yang mendapat kepercayaan gereja-gereja di Indonesia mengajar teologi di STT Jakarta. Dan sejarah mencatat, lebih dari setengah usia beliau, diabdikan di STT Jakarta. Hampir semua guru besar dan dosen yang mengajar di STT Jakarta pada masa kini pernah menjadi murid beliau. Salah seorang mahasiswanya menyatakan,”Kuliah Pak Latui dikenal padat dan mantap, sehingga kalau “meleng” sedikit akan kehilangan informasi berharga.
Pada 9 Februari 1954, Dominggus turut berpartisipasi mendirikan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), dan diangkat menjadi anggota Badan Pengurus LAI yang pertama. Di LAI selama 47 tahun lamanya Dominggus Latuihamallo menjabat sebagai ketua. Pada tahun 2002 bertepatan dengan perayaan hari ulang tahun LAI, LAI mengangkat Dominggus Latuihamallo sebagai Ketua Kehormatan Seumur Hidup Yayasan Lembaga Alkitab Indonesia, sebagai wujud penghargaan atas kesetiaan pelayanannya yang tanpa putus.
Sebelum terpilih menjadi anggota DPR-GR(1960-1966) sebagai wakil rohaniwan Protestan, pada tahun 1959 Pak Latui berhasil meraih gelar doktor dalam bidang teologi dan etika sosial dari Union Theological Seminary, New York. Disertasinya, Church and World, A Critical Study about the Relation of Church and World in the Writing of Hendrik Kraemer. Prof. Ihromi menyatakan, dengan meraih gelar doktor dari perguruan tinggi tersebut, Latui memperoleh kualifikasi untuk menjadi pengajar teologi di perguruan tinggi teologi di manapun.
Ia juga aktif berkiprah dalam membangun gerakan oikumenis di Indonesia. Sejak Sidang Raya Dewan Gereja Indonesia(DGI) IV pada tahun 1960 di Jakarta, Dominggus diangkat menjadi salah satu Ketua DGI. Hal ini berlangsung terus menerus hingga tahun 1980. Dan setelah 20 tahun menjadi ketua, pada Sidang Raya IX tahun 1980 di Tomohon, beliau terpilih sebagai Ketua Umum DGI. Empat tahun kemudian, pada Sidang Raya X tahun 1984 di Ambon, untuk meningkatkan fungsi oikumenisnya DGI berubah menjadi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Di sini Latuihamallo dengan penuh percaya dan kerendahan hati mengundurkan diri dari jabatan kepengurusan untuk memberi kesempatan generasi penerus melanjutkan tugas dan tanggung jawab melayani gereja-gereja dan umat Kristen di Indonesia. Dalam pengantar untuk buku perayaan 70 tahun Pak Latui, Pendeta Fridolin Ukur (Sekretaris Umum PGI waktu itu) menyatakan tentang pribadi Pak Latui demikian,”Tenang, tidak pernah marah apalagi membentak, beliau peka terhadap kesulitan rekan sekerja, solider terhadap kesepakatan bersama, teguh dalam pendirian yang benar dan tak suka banyak bicara.
Dalam kaitannya sebagai tokoh nasional, Pak Latui tak jarang diminta bantuannya sebagai seorang mediator. Yang utama dalam urusan Republik Maluku Selatan (RMS). Hampir setiap tahun ia ke Belanda untuk melakukan pendekatan dengan kelompok RMS yang bermukim di Belanda. Pada setiap kehadirannya, ia selalu menyebut diri,” Saya pendeta, saya Republik.” Melalui pendekatan persaudaraan dan gereja yang beliau lakukan akhirnya dapat meredakan kerusuhan yang sering ditimbulkan oleh RMS.
Dari pernikahannya Latuihamallo dikaruniai enam anak dan kakek beberapa cucu. Anak-anaknya mengingat Pak Latui sebagai sosok yang sangat disiplin tapi tidak otoriter. Beliau sangat demokratis dan tempat anak cucunya berbagi dan berbincang, khususnya saat berkumpul di meja makan.
Dalam hal kesehatan Pak Latui dikenal disiplin menjaga badan. Beliau tidak merokok, menolak minuman keras, dan menghindari makanan pedas. Untuk menjaga kondisi tubuhnya, penggemar film kungfu ini rajin lari santai setiap pagi, sekali-sekali juga bermain tenis meja. Kepalan tangannya kekar keras bagaikan seorang petinju. Waktu kuliah di New York ia memang sempat belajar bertinju.
Pernikahan Dominggus Latuihamallo dengan Daisy Sosellisa senantiasa dipandang sebagai sumber inspirasi dan kekuatan oleh anak-anak dan para muridnya. Dalam perayaan ulang tahunnya ke-90, Pak Latui menceritakan sebuah kesaksian. Suatu ketika seorang temannya, orang Amerika, menanyakan mengapa ia tidak menikah lagi. Dan Pak Latui menjawab, menikah itu cukup sekali, karena pernikahan itu senantiasa dinaungi kasih yang bersifat agape, yang tulus dan tanpa pamrih, yang tetap abadi.
Generasi demi generasi datang dan pergi. Di antara masa-masa itu Pak Latui hadir, memberi diri dan tak berhenti berkarya. Luasnya bidang yang Pak Latui layani mulai dari pendidikan (STT), penerjemahan dan penyebaran Alkitab (LAI), gerakan oikumenis (PGI), politik (DPR-GR/MPRS) membuktikan luasnya pengetahuan dan kebijaksanaan beliau. Dengan ini Pak Latui membuktikan dirinya bisa masuk dan diterima banyak pihak.
Pada 9 Mei 2024, Lembaga Alkitab Indonesia dan lembaga-lembaga Alkitab di seluruh dunia merayakan ulang tahun United Bible Societies (Persekutuan Lembaga-lembaga Alkitab Sedunia) yang ke-70. Namun, hari itu keluarga besar LAI kehilangan tokoh pendirinya. Petrus Dominggus Latuihamallo dipanggil pulang ke rumah Bapa, yang telah dilayani dengan setia sepanjang hidupnya.
LAI dan gereja-gereja di Indonesia patut berbangga, pernah memiliki hamba Tuhan seperti Pak Latui, yang hingga akhir hayat setia melayani dalam berbagai ladang pelayanan. Kita bersyukur, Tuhan pernah mengaruniakan seorang pelayan yang patut diteladani dalam kearifan, kesabaran, ketekunan dan kerendahan hatinya. Pendeta Andreas A. Yewanggoe, Ketua Badan Pembina LAI menggambarkan lamanya pengabdian Pak Latui dan luasnya bidang pelayanan dengan kalimat,” Generasi ke generasi datang dan pergi dari Latui ke Latui.” (keb)
























