Kepenuhan Eksistensi dalam Misi dan Tujuan-Nya

Artikel | 29 Mar 2026

Kepenuhan Eksistensi dalam Misi dan Tujuan-Nya


 
Kita tengah hidup di dunia modern yang telah terjebak dalam komodifikasi segala sesuatu, bahkan termasuk diri kita sendiri. Segala sesuatu diukur berdasarkan angka dan nilai, seolah-olah tidak ada makna lain yang dapat mendefinisikan eksistensi seseorang. Maka wajarlah jika banyak orang akhirnya menganggap bahwa ia harus menjadi “sesuatu” dan luar biasa untuk dapat dihargai dan dikenali oleh orang lain serta komunitasnya. Proses validasi diri sebagai bagian integral dari perkembangan emosi seseorang justru berubah menjadi jebakan eksistensial. Rasa haus validasi tidak pernah terpuaskan. Banyak orang mulai berubah menjadi pribadi yang tidak otentik. Mereka mencari validasi lewat kekuasaan, jabatan, harta benda, bahkan agama. Sampai pada satu titik, seseorang akan merasa sangat lelah dan terjebak dalam siklus pencarian validasi yang tidak berujung.
 
 
Di tengah fenomena tersebut marilah kembali mengingat dan melihat Kristus yang menyatakan keteladanan kepada manusia. Salah satunya melalui peristiwa Yesus memasuki Yerusalem dan dielu-elukan. Dalam tradisi liturgis gereja, momen tersebut diperingati sebagai minggu palma. Setelah berkeliling untuk mengajar dan memberitakan Kerajaan Allah. Akhirnya Yesus memasuki Yerusalem. Pusat keagamaan Yahudi pada masa itu. Saat Yesus memasuki kota tersebut, orang-orang tengah bersiap untuk menyambut paskah. Ia masuk sebagaimana nubuatan akan Sang Mesias dinyatakan oleh para nabi. Layaknya seorang Raja yang kembali ke kotanya setelah memenangkan perang, demikianlah nuansa yang hendak dibangun. Hanya saja Sang Raja sejati ini tidak menggunakan kuda perang yang gagah, melainkan menaiki keledai. Sama sekali tidak tercermin nuansa kegagahan, melainkan kesahajaan. Keledai adalah binatang yang dekat dengan rakyat pada umumnya karena harganya yang terjangkau dan banyak dipakai untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Mulai dari perdagangan hingga pertanian. Yesus adalah Sang Raja, tetapi berbeda dengan raja pada masa itu yang berkuasa lewat kekerasan dan memerintah dengan tangan besi, Ia memerintah dengan kelemah lembutan. Bukan kekerasan yang dibawa-Nya melainkan damai sejahtera abadi dalam Kerajaan-Nya.
 
 
Yesus punya kapasitas untuk meninggikan diri-Nya. Ia adalah Sang Anak Allah. Namun itu semua ditinggalkannya. Sebagaimana surat Filipi menyatakan bahwa Sang Anak Allah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba. Ya, seorang hamba yang begitu rendah. Menyerahkan nyawa-Nya sendiri untuk keselamatan dunia. Yesus masuk ke kota Yerusalem untuk menyongsong derita, sengsara, dan berujung pada kematian-Nya. Saat rakyat kota itu melihat Yesus, mereka menghamparkan pakaiannya dan menyebarkan ranting-ranting pohon di jalan-Nya, serta mengelu-elukan-Nya. Yesus tidak terlarut dalam puji-pujian dan segala bentuk pengagungan diri-Nya. Ia tidak butuh itu semua dan mencari validasi. Sang Anak Allah tetap setia pada misi-Nya. Yesus tahu akan tujuan dan panggilan hidup-Nya yang terpusat dan terarah pada Sang Bapa. Di luar itu tidak ada hal lain yang dicarinya. Entah itu kekuasaan, jabatan, bahkan harta benda sekalipun. 
 
 
Bagi kita saat ini, minggu palma juga mengajarkan untuk berfokus tujuan dan kehendak Allah yang ditetapkan bagi kita. Menghindarkan diri dari rasa haus validasi tercapai saat kita menemukan bahwa kecukupan atas segala sesuatu datangnya bukan dari hal-hal di luar diri kita, melainkan pada Allah yang bersemayam dalam sanubari kita masing-masing. Saat diri ini sudah merasa cukup, maka fokus hidup kita dapat diarahkan pada perwujudan nilai-nilai Kerajaan Allah. Minggu Palma adalah tentang proses menilik batin yang seharusnya merasa cukup dengan keberadaan Kristus semata. Maka kita tidak perlu terjebak lagi dalam lingkaran setan pencarian validasi yang tiada berkesudahan 
 
 
Pertanyaan reflektif : Sudahkah kita menghayati keberadaan kita berlandaskan tujuan dan kehendak Allah yang ditetapkan bagi kita?
Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia