Bincang Alkitab | Hortensius F. Mandaru, SSL
Dalam ingatan kolektif umat Kristen, nama Yudas Iskariot hampir selalu identik dengan pengkhianatan. Ia adalah murid yang “menjual” Gurunya, sosok yang kerap ditempatkan sebagai simbol kejatuhan moral paling dalam. Terlebih dalam suasana Pekan Suci, figur ini kembali hadir dalam pembacaan Injil sebagai tokoh kunci dalam rangkaian sengsara Yesus.
Namun, pembacaan yang lebih teliti terhadap teks-teks Perjanjian Baru menunjukkan bahwa gambaran tentang Yudas tidak sesederhana hitam-putih. Narasi-narasi Injil justru menyimpan sejumlah ketegangan, ambiguitas, dan bahkan perbedaan yang membuka ruang bagi penafsiran yang lebih bernuansa. Dalam beberapa diskursus, muncul pertanyaan-pertanyaan mendasar: apakah Yudas sungguh tokoh historis? Dalam arti apa ia “mengkhianati”? Apakah ia pasti tidak diselamatkan?
Rehabilitasi Nama-Baik si Pengkhianat?
Dalam beberapa dekade terakhir, muncul kecenderungan dalam studi biblika untuk “merehabilitasi” citra Yudas Iskariot. Upaya ini bukan dimaksudkan untuk membenarkan tindakannya, melainkan untuk menempatkannya dalam kerangka yang lebih adil, sesuai dengan kompleksitas kesaksian Alkitab. Pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah Yudas sedemikian jahat sehingga sama sekali tidak memiliki kemungkinan keselamatan? Ataukah narasi Injil sendiri justru membuka kemungkinan lain?
Menarik bahwa dalam Injil Matius Yudas digambarkan menyesal dan mengakui dosanya, “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah” (Matius 27:4). Ia juga mengembalikan uang yang diterimanya. Gambaran ini menunjukkan adanya kesadaran moral dan penyesalan yang mendalam. Di sisi lain, Injil Yohanes dan Lukas menampilkan dimensi lain dengan menyebut keterlibatan kuasa jahat dalam tindakannya.
Dengan demikian, sejak awal Perjanjian Baru sendiri menghadirkan potret Yudas yang tidak tunggal, melainkan berlapis-lapis.
Tokoh Simbolis atau Historis?
Sebagian ahli berpendapat bahwa Yudas Iskariot mungkin bukan tokoh historis, melainkan figur simbolis yang dikonstruksi oleh penulis Injil. Argumen ini didasarkan pada beberapa hal. Pertama, minimnya informasi tentang Yudas dalam sumber-sumber awal. Surat-surat Paulus yang merupakan tulisan Perjanjian Baru lebih tua, tidak pernah menyebut nama Yudas. Injil Markus yang juga dianggap paling awal, hanya menyebutnya dalam daftar murid dan dalam kisah sengsara, tanpa banyak detail tambahan. Kedua, terdapat perkembangan narasi dalam Injil-Injil yang lebih kemudian. Dalam Markus, penolakan terhadap pengurapan Yesus dilakukan oleh “beberapa orang” (Markus 14:4); dalam Matius oleh “murid-murid” (Matius 26:8); dan dalam Yohanes secara eksplisit oleh Yudas. Perkembangan ini memberi kesan adanya elaborasi teologis yang semakin menajamkan peran Yudas (Yohanes 12:4). Ketiga, nama “Yudas” sendiri merupakan bentuk Yunani dari “Yehuda,” nama yang sangat umum di kalangan orang Yahudi. Beberapa ahli melihat kemungkinan bahwa Yudas menjadi semacam personifikasi kolektif orang Yahudi dalam konflik dengan komunitas Kristen awal.
Namun demikian, banyak pula ahli yang tetap mempertahankan historisitas Yudas. Salah satu alasannya karena sulit dibayangkan bahwa komunitas Kristen awal mengarang kisah tentang seorang murid yang mengkhianati Yesus, sebab hal itu justru merugikan secara teologis. Fakta bahwa kisah ini tetap dipertahankan justru mengindikasikan adanya dasar historis.
Dalam pandangan historis minimalis, beberapa hal yang dianggap paling mungkin historis adalah: Yudas adalah salah satu murid Yesus; ia berperan dalam penyerahan Yesus kepada otoritas; ia meninggal secara tragis tidak lama setelah peristiwa tersebut; dan nama Yudas dikaitkan dengan nama sebuah tempat di sekitar Yerusalem, yang disebut: tanah-darah.
Apakah Yudas Ikut Perjamuan Terakhir?
Pertanyaan mengenai kehadiran Yudas dalam Perjamuan Terakhir juga menjadi bahan perdebatan. Injil-Injil memberikan petunjuk bahwa Yudas memang hadir dalam perjamuan itu, tapi para ahli tidak sepakat, apakah ia tetap berada di sana ketika Yesus menetapkan roti dan anggur sebagai tanda perjanjian baru. Namun dalam Injil Yohanes, ditampilkan bahwa Yesus memberikan sepotong roti kepada Yudas sebelum ia pergi.
Perdebatan ini juga berkaitan dengan pemahaman teologis tentang kelayakan mengikuti Perjamuan Tuhan. Dalam 1 Korintus 11, Paulus menegaskan bahwa mereka yang mengambil bagian dengan tidak layak mendatangkan hukuman atas dirinya. Dalam terang ini, sebagian menilai bahwa sekalipun Yudas hadir, ia tetap berada dalam posisi yang tidak layak. Namun, kehadirannya dalam perjamuan itu sendiri juga dapat dibaca sebagai tanda bahwa ia tetap termasuk dalam lingkaran kasih Yesus hingga saat terakhir.
Yudas “Menyerahkan” atau Mengkhianati?
Salah satu aspek penting dalam memahami Yudas adalah istilah yang digunakan dalam bahasa Yunani: paradidōmi, yang berarti “menyerahkan.” Istilah ini tidak secara langsung berarti “mengkhianati.” Dalam konteks Injil, tindakan Yudas terutama mencakup tiga hal: ia menunjukkan tempat di mana Yesus dapat ditangkap; ia menentukan waktu yang tepat (yakni malam hari); dan ia mengidentifikasi Yesus di tengah kerumunan murid. Dengan demikian, secara historis tindakan Yudas lebih tepat dipahami sebagai “penyerahan.” Bahkan dalam teologi Perjanjian Baru, kata yang sama digunakan untuk menggambarkan tindakan Allah yang “menyerahkan” Anak-Nya, yang jelas tidak dapat diterjemahkan dengan “mengkhianati” (Roma 8:32). Hal ini menambah kompleksitas makna dan mengundang kehati-hatian dalam memberi label moral yang terlalu sederhana kepada Yudas.
Dugaan Motivasi Yudas
Motivasi Yudas tidak dijelaskan dalam Injil Markus. Namun Injil-Injil yang kemudian memberikan dua penjelasan utama: cinta uang (Matius) dan pengaruh Iblis (Lukas dan Yohanes). Karena itu, kedua hal ini sering dipahami sebagai motif di balik tindakannya. Dalam benak dan memori kolektif umat Kristen, Yudas dikenal sebagai sosok yang menyerahkan Yesus, entah karena dorongan cinta uang, ketamakan, atau karena pengaruh kuasa jahat.
Namun, para ahli juga mengajukan berbagai rekonstruksi historis. Ada yang menduga Yudas kecewa terhadap arah pelayanan Yesus; ada yang melihatnya sebagai seorang nasionalis yang ingin mempercepat datangnya Kerajaan Allah; ada pula yang menilai ia mungkin menganggap Yesus telah menyimpang secara teologis. Bahkan terdapat pandangan yang lebih nyentrik, bahwa Yudas bertindak atas perintah Yesus sendiri, atau bahwa tindakannya justru menjadi sarana terwujudnya rencana keselamatan Allah (sebuah gagasan yang juga muncul dalam tradisi gnostik).
Semua ini menunjukkan bahwa motivasi Yudas tetap menjadi wilayah spekulatif, yang tidak dapat dipastikan secara historis.
Akhir Hidup Yudas
Perjanjian Baru menyajikan dua versi tentang kematian Yudas. Injil Matius menyatakan bahwa ia menggantung diri, sedangkan Kisah Para Rasul menggambarkan kematiannya sebagai jatuh tertelungkup hingga perutnya terbelah. Upaya harmonisasi kedua versi ini telah dilakukan sejak zaman kuno, namun banyak ahli melihat perbedaan ini sebagai indikasi bahwa detail historisnya tidak lagi dapat dipastikan. Yang mungkin dapat disimpulkan adalah bahwa Yudas mengalami kematian yang tragis dan tidak wajar.
Tradisi-tradisi kemudian bahkan menambahkan variasi kisah yang lebih dramatis, menunjukkan bagaimana figur Yudas terus menjadi objek refleksi teologis dan imajinasi religius.
Penutup
Apakah Yudas Iskariot pasti tidak selamat? Perjanjian Baru tidak memberikan jawaban yang tegas dan final. Di satu sisi, terdapat pernyataan-pernyataan keras tentang dirinya; di sisi lain, ada juga tanda-tanda penyesalan, kedekatan dengan Yesus, dan keterlibatannya dalam rencana ilahi yang lebih besar. Ketegangan ini mengingatkan kita bahwa karya keselamatan Allah tidak pernah terlepas dari keterlibatan manusia yang rapuh. Yudas menjadi simbol dari tragedi kebebasan manusia: dipilih, dipanggil, namun juga jatuh.
Menarik untuk kita perhatikan, bahwa Perjanjian Baru tidak menghadirkan para murid sebagai tokoh-tokoh ideal tanpa cacat. Petrus menyangkal, murid-murid melarikan diri, dan Yudas menyerahkan Yesus. Namun justru melalui manusia-manusia yang tidak sempurna inilah kesaksian tentang Kristus diteruskan.
Di tengah peringatan Pekan Suci ini, kisah Yudas mengundang kita untuk berefleksi: bahwa setiap orang percaya hidup dalam kemungkinan yang sama. Ia bisa setia, tetapi juga bisa terjatuh. Namun di dalam ketegangan itu, kasih Allah tetap bekerja melampaui pemahaman manusia.
“Semua murid Yesus itu adalah orang-orang sederhana yang belajar dari kegagalan dalam kebersamaan dengan Yesus. Namun mereka tetap dipercaya sebagai saksi-Nya. Ini menjadi undangan bagi kita semua untuk menjadi murid dan saksi Yesus, kendati dalam keterbatasan dan kegagalan kita. Dari Yudas pun, kita belajar hal itu.”
(Hortensius F. Mandaru, SSL.)

























