Tuntun aku, Tuhan Allah, lewat gurun dunia.
Kau perkasa dan setia; bimbing aku yang lemah.
Roti sorga, Roti sorga, puaskanlah jiwaku, puaskanlah jiwaku.
Buka sumber Air Hidup, penyembuhan jiwaku,
dan berjalanlah di muka dengan tiang awan-Mu.
Jurus'lamat, Jurus'lamat, Kau Perisai hidupku, Kau Perisai hidupku.
Lagu himne Kristen populer masyarakat Wales “Guide Me, O Thou Great Jehovah” di Indonesia diterjemahkan dalam banyak versi. Dalam Nyanyian Pujian Gereja Baptis, lagu ini diberi judul “Pimpin Aku, Allah Bapa” (NP 150). Dalam buku Mazmur dan Nyanyian Rohani judulnya “Pimpin Aku, Tuhan Hua” (NR 131). Sementara terjemahan di atas dikutip dari Kidung Jemaat 412 (atau Kidung Keesaan 542) terbitan Yayasan Musik Gereja (Yamuger) dengan judul “Tuntun Aku, Tuhan Allah”.
Di Wales lagu yang berjudul asli “Cwm Rhondda” atau “Arglwydd, Arwain Trwy’r Anialwch” ini memiliki kedudukan penting dan lebih dari sekadar nyanyian gerejawi. Di samping lagu kebangsaan resmi Wales (Hen Wlad Fy Nhadau), lagu ini dianggap sebagai lagu kebangsaan kedua yang mewakili identitas budaya, spiritualitas, dan kebanggaan nasional masyarakat Wales di mata dunia.
Lagu ini merupakan nyanyian tradisi wajib yang dinyanyikan massal oleh puluhan ribu pendukung di stadion saat pertandingan tim nasional sepakbola dan rugby Wales. Melodi dan harmoninya yang megah berfungsi membakar semangat patriotisme serta mempererat rasa persatuan.
Lagu ini lahir pada masa Kebangunan Rohani Wales (Welsh Revival) dan menjadi penghibur spiritual bagi masyarakat kelas pekerja, khususnya para penambang batu bara di wilayah lembah Wales pada abad ke-19 dan ke-20 di tengah kondisi kerja dan kehidupan sehari-hari yang berat. Karena liriknya menceritakan tentang perjalanan, perlindungan Tuhan, dan pengharapan, lagu ini menjadi pilihan utama dalam upacara pernikahan, pemakaman nasional, hingga ibadah peringatan resmi di Wales. Siapa pencipta lagu pemersatu rakyat Wales ini? Bagaimana kisah terciptanya lagu tersebut?
Wales Negeri Para Pahlawan
Negeri Wales merupakan sebuah jazirah yang menjorok ke laut di sebelah barat daya Pulau Inggris Raya. Wilayahnya menonjol karena lanskapnya yang bergunung-gunung tinggi, lembah-lembah sempit, sungai-sungai deraas, garis pantai yang dramatis, dan dominasi alam hijau yang asri.
Di zaman dahulu, suku-suku yang hidup di sana terkenal sebagai orang-orang yang kuat dan suka berperang. Sepanjang masa mereka menyanyikan perbuatan-perbuatan gagah berani dari para pahlawan dan raja mereka. Pesta musik dan perlombaan menyanyi merupakan kebiasaan rakyat Wales yang sampai sekarang masih dipertahankan.
Ketika Kabar Baik tentang Tuhan Yesus mula-mula disebarkan di Wales, banyak penyanyi tradisional yang menyambutnya dengan penuh gembira. “Wah, inilah cerita pahlawan yang paling hebat!” demikianlah tanggapan mereka tentang berita Injil. Bahkan pada abad keenam Masehi, seorang penyair dan penyanyi bangsa Wales pernah menulis demikian,“Seorang musisi baru boleh disebut ahli kalau ia menghormati Tuhan, dan tiada penyanyi yang sempurna kecuali ia memuji Allah Bapa.”
Banyak syair rohani dalam Bahasa Wales dari abad ke-14, yang masih dikenal dan dibacakan hingga hari ini. Saat gelombang Reformasi gereja melanda Wales pada abad ke-16, seorang pemimpin gereja menerjemahkan Kitab Mazmur ke dalam bahasa Wales. Seorang pendeta yang lain menggubah khotbah-khotbahnya menjadi sajak-sajak pendek yang mudah dimengerti. Ia mengajar jemaatnya yang buta huruf untuk menyanyikan syair-syair tersebut. Dalam suasana kebangunan rohani, nyanyian Kristen atau nyanyian gereja sekaligus menjadi nyanyian umum dan alat kebangsaan para penduduk di daerah Wales. Itu juga yang terjadi pada lagu ”Tuntun aku, Tuhan Allah”.
Pemuda Yang Selalu Ingin Tahu
William Williams lahir pada tahun 1717, dalam rumah seorang petani bangsa Wales yang cukup makmur. Ia mendapatkan pendidikan yang dianggap baik pada masanya, dan bercita-cita menjadi seorang dokter. Sejak kecil ia dikenal sebagai orang yang gemar belajar dan selalu ingin tahu. Ia mulai mendengar tentang “pengabar-pengabar Injil aneh”, yang tidak diperkenankan berkhotbah di gereja. Mereka memberitakan iman yang bersifat pribadi, dengan semangat yang anehnya jauh melebihi pendeta-pendeta resmi.
Memasuki usia 20-an, William, ingin membuktikan sendiri. Pada suatu hari Minggu ia mendengar lonceng gereja desa memanggil umat, maka ia pun hadir mengikuti kebaktian. Suasana kebaktian itu terasa dingin, dan sama sekali tidak membawa gairah hidup.
Ketika keluar dari gereja desa, di pekuburan dekat gereja ada seorang pemuda yang sedang berkhotbah kepada orang-orang yang lewat. Ia memberitakan pertobatan dan memperingatkan para pendengarnya tentang api neraka. Namun, si pengkhotbah muda itu juga menceritakan tentang rahmat keselamatan dari Tuhan. Khotbahnya berapi-api dan penuh semangat.
William sungguh terkesan. Saat itu juga ia memutuskan ingin menjadi seorang hamba Tuhan.Mula-mula William melayani di gereja yang disahkan oleh negara. Tetapi kemudian pentahbisannya sebagai pendeta ditolak. Mengapa? Oleh karena ia sendiri sekarang dianggap “seorang pengabar Injil yang aneh”.
Pengkhotbah Berkelana
Sama seperti pemuda yang dulu didengarnya di pekuburan gereja itu, sekarang William Williams menjadi seorang pengkhotbah yang berkelana. Ia tidak pernah jadi ditahbiskan, dan tidak pernah melayani sebagai gembala sidang. Namun ia menjangkau banyak jiwa di seluruh negeri Wales dengan Kabar Baik tentang Sang Juru Selamat.
Cara hidupnya sungguh berat. Seringkali badannya basah oleh hujan, terbakar panas matahari, bahkan melintasi salju yang membekukan. Sering pula ia diserang oleh gerombolan yang dipimpin oleh kaum bangsawan yang menganggap William sebagai pengacau rakyat. Pernah ia diancam dengan senapan dan pentungan, lalu dipukuli setengah mati.
Tetapi William Williams pantang mundur. Selama 45 tahun ia melintasi bukit dan lembah dengan berjalan kaki atau menunggang kuda. Ia berkelana di Wales lebih dari 150 ribu kilometer, jumlah jarak perjalanan yang sungguh menakjubkan!
Asal ada yang mau mendengar, William Williams selalu siap berkhotbah di mana saja. Kadang hanya beberapa orang yang mendengar. Namun, pernah juga seribu orang, sepuluh ribu dan bahkan pernah 80 ribu orang sekaligus yang berkumpul untuk mendengarkan khotbahnya. Pada hari itu William Williams mencatat dalam buku hariannya: "Tuhan menguatkan suara saya, sehingga hampir semua orang dapat mendengar."
Meneruskan Tradisi
Para pemimpin gerakan pembaruan rohani di negara Wales menyadari pentingnya nyanyian dalam tradisi bangsa mereka. Maka mereka mengadakan pesta-pesta nyanyi yang meriah. Dan William Williams mulai terkenal sebagai penyair terbaik di kalangan itu. Dalam tahun-tahun yang sibuk dengan acara perjalanan dan penginjilan, ia pun menyisihkan waktu untuk mengarang sekitar 800 nyanyian pujian.
Sama seperti semua orang Wales, pengkhotbah keliling itu mencintai keindahan alam. Sering ia mengajarkan kebenaran-kebenaran firman Allah melalui perbandingan dengan gunung yang menjulang tinggi atau sungai yang mengalir deras. Ia pun suka membandingkan pengalaman orang Kristen pada zamannya dengan pengalaman umat Allah pada zaman Alkitab.
Pada tahun 1745, William Williams menerbitkan sebuah buku nyanyian pujian yang berjudul Haleluya. Di dalamnya terdapat sebuah lagu dengan judul: "Kekuatan Untuk Melintasi Padang Belantara." Dalam bahasa aslinya, baris-baris pertama berbunyi sebagai berikut:
Arglwydd, arwain trwy'r anialwch
Fi, bererin gwael ei wedd.
Setelah melihat kata-kata itu, Sahabat Alkitab pasti tidak heran bila diberitahu bahwa hanya sedikit saja nyanyian pujian bahasa Wales yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain! Selain keganjilan bahasa itu sendiri, ada juga perbandingan dengan keindahan alam yang sulit diterjemahkan.
Lebih banyak melodi daripada syair yang dibawa dari Wales sehingga menjadi terkenal di dunia luar. Misalnya, kumpulan Dua Sahabat Lama memuat tidak kurang dari lima lagu yang diberi keterangan: "Hymne uit Wales" atau "Welsche Hymne."
Nama yang Sama
Untunglah, di antara umat Kristen Wales ada orang-orang yang berusaha menyebarkan lagu-lagu pujian mereka kepada bangsa-bangsa lain. Salah seorang yang berjasa besar dalam usaha itu adalah Pendeta Peter Williams (1722-1796). Nama "Williams" memang semacam nama marga di antara bangsa Wales, sehingga belum tentu ada hubungan famili yang dekat antara William Williams dan Peter Williams.
Sama seperti William Williams, Peter Williams juga lahir di Wales, mendapat pendidikan yang cukup baik, dan dipengaruhi oleh seorang pengabar Injil untuk menjadi hamba Tuhan. Lain daripada William Williams, Peter Williams pada tahun 1744 menjadi seorang pendeta yang ditahbiskan oleh gereja negara. Ia melayani baik sebagai gembala sidang maupun sebagai pembina sekolah Kristen.
Namun karena semangatnya dalam mengabarkan Injil, Pendeta Peter Williams juga terpaksa keluar dari gereja negara itu. Sumbangsihnya yang terbesar kepada pekerjaan Tuhan adalah di bidang literatur. Ia menerbitkan berbagai-bagai buku nyanyian pujian dan penyelidikan Alkitab, semuanya dalam bahasa Wales.
Tetapi ia pun pandai berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris. Pada tahun 1771 diterbitkannya sebuah kumpulan nyanyian pujian. Di dalam buku tersebut, ia menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris tiga bait dari syair karangan William Williams “Tuntun Aku, Tuhan Allah”.
Ciptaan Bersama
Tahun berikutnya, yakni pada tahun 1772, pencipta asli dari nyanyian tersebut, William Williams, diminta untuk menolong menyiapkan sebuah lembaran nyanyian pujian. Ia menyetujui hasil terjemahan Peter Williams atas syairnya dahulu. Namun ia merasa bahwa bait pertama itu perlu dikerjakan kembali. Ketiga bait itu kemudian dicetak lagi.
William Williams meninggal pada tahun 1791, sementara Pendeta Peter Williams meninggal pada tahun 1796. Tetapi nyanyian pujian yang mereka ciptakan bersama itu sudah tersebar ke seluruh dunia. Walau ada banyak kiasan dari zaman Perjanjian Lama, namun kata-kata itu pun berbicara kepada manusia zaman sekarang. Dunia ini sungguh terasa bagaikan "padang belantara." "Sungai Yordan" adalah lambang maut. "Tiang api" dan "tiang awan" mengibaratkan cara-cara Tuhan memelihara umatNya.
Di Wales lagu itu selalu menempati kedudukan yang istimewa. Nama William Williams masih harum di sana. Nyanyian-nyanyian rohani karangannya dianggap sebagai pembina terkuat dari kepribadian Kristen bangsa itu. Dan ciptaannya yang paling digemari (Tuntun Aku Tuhan Allah), menjadi semacam lagu kebangsaan tak resmi.
Saat orang-orang Wales berkumpul dalam pertemuan besar atau pertandingan olahraga, lagu ini sering terdengar, agaknya seperti "Indonesia Raya" di sini. Pada tahun 1954, ketika penginjil besar Billy Graham mengadakan kampanye penginjilan di London, hadirlah juga serombongan umat Kristen Wales yang berjumlah sekitar seribu seratus orang. Di tengah acara, mereka menaikkan pujian terkenal itu.
Ruth, istri Billy Graham menceritakan peristiwa tersebut demikian,”Pengeras suara dimatikan, dan segenap rombongan itu menyanyikan 'Guide Me, O Thou Great Jehovah (Tuntun Aku Tuhan Allah)". Wah, mempesonakan, megah, mengharukan! Orang-orang Wales itu menyanyikan seolah-olah jantung mereka akan putus. Dan terasa jantung kami pun akan putus karena terharu."
Lagu dari Dua Negara
Ada dua orang pengarang melodi dari syair ciptaan William Williams terbut. Melodi pertama berasal dari Amerika, bukan dari Wales. Penciptanya adalah Thomas Hastings (1784-1872), seorang musikus Kristen yang cukup terkenal.
Pada tahun 1830, Thomas Hastings tergesa-gesa menyusun sebuah partitur melodi baru. Beberapa tahun kemudian, ia pun memperbaiki lagu karangannya itu, serta menjodohkannya dengan syair termasyhur karangan William Williams dan Peter Williams dari Wales. Gubahan itu mula-mula diterbitkan pada tahun 1858.
Tetapi lagu yang didengar oleh Ny. Billy Graham dalam kebangunan rohani besar di London pada tahun 1954 itu bukanlah gubahan Thomas Hastings. Melodi itu timbul dari tradisi menyanyi bangsa Wales sendiri. Versi ini belakangan lebih terkenal.
John Hughes (1873-1932) bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi, baik di bidang musik maupun di bidang lainnya. Ia mulai bekerja di tambang batu bara pada umur duabelas tahun. Karena rajinnya, ia terus naik pangkat sampai akhirnya ia mencapai jabatan yang cukup tinggi di bagian administrasi perusahaan pertambangan di Great Western Colliery, Pontypridd. Tetapi kebahagiaannya yang terbesar bukanlah dari prestasi kerja, melainkan dari melayani Tuhan. Di gereja ia aktif sebagai pemusik (organis gereja), pemimpin koor dan diaken di Salem Baptists Chapel, Llantwit Fardre, Wales. John juga melatih anak-anak Sekolah Minggu di gerejanya agar mereka dapat menyanyi dengan baik.
Tiap tahun umat Baptis Wales memelihara adat bangsa mereka dengan mengadakan pesta musik rohani. Pada tahun 1907 John Hughes mengarang dan mencetak sebuah melodi baru untuk syair "Tuntun Aku Tuhan Allah" itu. Sebelum akhir hayatnya seperempat abad kemudian, lagu pilihan karangannya itu telah diperdengarkan dalam sekurang-kurangnya lima ribu pesta musik rohani.
Hingga hari ini, lagu pujian “Tuntun Aku Tuhan Allah” menjadi berkat bukan hanya untuk umat Kristen di Wales. Namun, juga orang Kristen di seluruh dunia, termasuk kita di Indonesia, yang berjarak sekitar 11 ribu kilometer jauhnya dari Wales. Jarak sejauh itu masih jauh lebih pendek daripada jarak yang ditempuh oleh William Williams sepanjang hayatnya dalam mengabarkan Injil, baik berjalan kaki maupun berkuda, yang kabarnya setara empat kali mengelilingi bumi (150 ribu km)!
























