Ferry Sonneville: Tuhan Tidak Pernah Netral

Artikel | 4 Sep 2026

Ferry Sonneville: Tuhan Tidak Pernah Netral


Kisah Perjuangan Pahlawan Bulutangkis Indonesia

Kapan seluruh rakyat Indonesia bersatu, melepaskan sekat-sekat: agama, suku, ras, dan golongan, lalu menyatukan semangat serta debaran dada dalam satu helaan napas yang sama? Jawabannya adalah ketika para duta olahraga tanah air bertanding di gelanggang dunia. Di momen itulah, nama baik, harkat, dan martabat bangsa dipertaruhkan di mata dunia. Di saat itu pula, seluruh perbedaan lebur menjadi satu sorak pendorong kemenangan: Indonesia….Indonesia!

 

Mengenang sejarah panjang olahraga kita, siapakah hari ini yang masih mengingat sosok Ferry Sonneville? Adakah yang masih mengenangnya dengan bangga? Dialah salah satu pahlawan utama, yang memimpin rombongan "si tikus" Indonesia mengalahkan "para raksasa" dunia, memboyong Piala Thomas—lambang supremasi bulutangkis dunia—untuk pertama kalinya ke bumi Nusantara pada tahun 1958. Sosok pahlawan bulutangkis yang tak hanya perkasa di lapangan, tetapi juga dibalut iman yang kuat kepada Kristus, jiwa yang tangguh, serta kerendahan hati yang mendalam.

 

Akar Kemayoran dan Tempaan Masa Kecil

Di sebuah sudut Kemayoran, Jakarta Pusat—di dekat area Stasiun Kemayoran—lahirlah seorang bayi laki-laki pada tanggal 3 Januari 1931. Bayi itu diberi nama Ferdinand Alexander Sonneville, di kemudian hari dikenal dengan panggilan hangat: Ferry Sonneville. Ayahnya, Dirk Jan Sonneville, merupakan seorang lelaki keturunan Belanda-Prancis yang bekerja sebagai pegawai biasa di *Gas Maatschappij* (Perusahaan Gas) Jakarta. Sementara ibunya, Leoni Elizabeth, adalah seorang perempuan berdarah Indo-Belanda-Sunda yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat.

 

Keluarga kecil ini hidup sederhana di rumah mereka yang tenang di wilayah yang kelak menjadi Jalan Garuda. Ayah dan ibunya menanamkan keseimbangan hidup yang unik. Sang ayah adalah seorang atlet tenis berbakat yang pernah menjuarai turnamen tenis di Jakarta, sedangkan sang ibu adalah pemain bulutangkis yang pada tahun 1935 berhasil menjadi juara tunggal Bataviaasche Badminton Bond (Ikatan Badminton Batavia). Dari kedua orang tuanya inilah darah olahraga dan semangat bertarung mengalir deras ke tubuh Ferry kecil.

 

Tubuh Ferry saat kecil kurus, kecil, dan sering sakit-sakitan. Namun, sang ayah yang melihat jiwa petarung dalam diri putranya sudah membelikannya sepasang sarung tangan tinju tatkala Ferry baru berusia tujuh tahun. Di rumah, pendidikan budi pekerti, kejujuran, dan rasa takut akan Tuhan ditanamkan dengan sangat kuat. Keluarga Sonneville penganut Katolik yang taat. Ayah dan ibunya mengajarkan bahwa di atas segala cita-cita jasmani, cinta kasih kepada Tuhan dan sesama umat manusia adalah fondasi tertinggi yang tak boleh retak. Setiap kali hendak melakukan pekerjaan penting, Ferry kecil diajarkan untuk berdoa terlebih dahulu, dan selalu mengucap syukur sesudahnya.

 

Namun, bahtera kehidupan tidak selamanya berjalan tenang di perairan dangkal. Saat Ferry masih sangat belia—sekitar tahun 1935—badai perceraian menerpa kedua orang tuanya. Leoni Elizabeth terpaksa membesarkan Ferry sebagai seorang janda muda.  Karena Leoni menganggap Ferry masih butuh asuhan seorang ayah, Leoni menikah lagi dengan seorang pria bernama Eduart Antonius Hubeek yang bekerja di kantor Gubernur. Dari pernikahan kedua sang ibu, lahirlah Tonny, adik tiri Ferry. Sementara itu, ayah kandungnnya, Dirk Jan Sonneville, juga menikah kembali dengan wanita berdarah Indo-Ambon bernama Noya.

 

Awan hitam pendudukan Jepang di awal dekade 1940-an membawa kehancuran yang lebih membekas bagi keluarga ini. Prahara perang merenggut dua figur ayah sekaligus dari hidup Ferry. Ayah kandungnya, Dirk, ditangkap oleh tentara Jepang dan dipaksa menjadi romusha hingga menghembuskan napas terakhirnya dalam perjalanan ke Bangkok, Thailand, serta dimakamkan di Ancol, Jakarta Utara. Ayah tirinya, Eduart Hubeek, bernasib sama; ia gugur dalam tawanan Jepang. Di usia yang masih belia, Ferry dan adiknya Tonny resmi menjadi anak yatim.

 

Peristiwa tragis terbunuhnya sang ayah menjadi titik balik yang membentuk kematangan jiwa Ferry. "Peristiwa itu mengubah hidup saya, menentukan jalan hidup saya selanjutnya," kenang Ferry di kemudian hari. Dari rasa duka yang mendalam, timbul rasa tanggung jawab yang amat besar untuk menjaga ibunya dan menjadi manusia yang tangguh.

 

Selama masa pendudukan Jepang, sekolah-sekolah terhenti. Ferry yang bersekolah dasar di Santo Yoseph Kramat Raya (1937–1942) juga terpaksa berhenti belajar. Untuk menyambung hidup keluarga dan memikul beban ekonomi, Ferry remaja yang tak gengsi tidak ragu turun ke jalanan menjajakan ikan basah di pasar. Di sela-sela perjuangan hidup yang keras itu, ia mengisi waktunya dengan membaca buku-buku biografi tokoh terkenal, melatih bela diri jujitsu, dan menepok bulu bersama sang ibu di halaman rumah.

 

Karakter Sebagai Senjata Utama

Setelah bala tentara Jepang pergi dan Indonesia merdeka, Ferry memutuskan untuk melanjutkan pendidikan menengahnya ke *Hogere Burger School* (HBS) di Nassau Boulevard (kini Jalan Imam Bonjol, Menteng). Karakter Ferry yang keras kepala namun positif terlihat tatkala sang ibu menyampaikan pesan dari Bruder di sekolah dasar agar Ferry mengulang kelas SD terlebih dahulu. Dengan penuh rasa percaya diri, Ferry menukas, "Tidak perlu, Ferry dapat terus ke HBS."

 

Di HBS Nassau Boulevard inilah fondasi intelek dan fisik Ferry digembleng semakin solid. Selain menekuni bulutangkis, ia sangat aktif menekuni olahraga bela diri jujitsu dan judo. Bahkan karena bakat bela dirinya yang luar biasa, pada periode 1951 hingga 1955 Ferry sempat bekerja sebagai guru jujitsu bagi jajaran kepolisian bagian reserse di Krekot, Jakarta. Keahliannya di bidang olahraga bela diri ini juga membawa Ferry menjadi salah satu figur kunci di balik berdirinya Jujitsu Club Indonesia dan Persatuan Judo Seluruh Indonesia.

 

Namun, di antara raket dan matras jujitsu, bulutangkislah yang akhirnya memenangkan hati Ferry. Bakat dan kesadarannya akan potensi diri di lapangan bulutangkis muncul secara meledak pada tahun 1949. Kala itu, dalam Pekan Olahraga di Bandung, Ferry yang turun tanpa persiapan khusus berhasil memenangi gelanggang dan memukau para pengamat olahraga. Pada tahun yang sama, Ferry dipanggil masuk dalam skuad muda bulutangkis Indonesia untuk melakoni laga persahabatan internasional pertama pasca-kemerdekaan melawan tim Penang, Malaya. Meski skuad Indonesia hancur lebur dikalahkan pemain-pemain berpengalaman Malaya, Ferry Sonneville menjadi satu-satunya pemain Indonesia yang berhasil memetik kemenangan dengan mengandaskan Cheah Thien Kioe.

 

Kunci keberhasilan Ferry terletak pada sebuah filosofi hidup yang selalu ia pegang teguh: The Love to Fight—jiwa dan kecintaan pada pertarungan itu sendiri. Ferry dipacu oleh pemikiran para gurunya, seperti Meneer van Alphen sewaktu di SD Vincentius yang selalu membisikkan kata-kata pemicu: *"Kom Fer, je kunt beter..."* (Ayo Fer, kau bisa lebih baik!).

 

Bagi Ferry, seorang olahragawan sejati tidak bertanding semata-mata demi mengejar kemenangan atau ketakutan akan kekalahan. Kemenangan adalah bonus, tetapi pertarungan itu sendiri adalah kenikmatan (Je geniet, wanneer je vecht). Karena pertarungan dihayati sebagai seni dan pengabdian, kekalahan tidak pernah mematahkan mentalnya. Justru dari setiap pertandingan, Ferry mengembangkan metode rekonstruksi analisis yang sangat unik. Sehabis bertanding, ia akan duduk berjam-jam merekonstruksi ulang jalannya laga. Ia membedah teknik lawan, menguliti taktik musuh, dan mencatat kesalahan diri sendiri.

 

"Saya banyak belajar dari lawan bertanding, baik lawan yang lebih unggul maupun yang lebih lemah," ungkap Ferry. Metode rekonstruksi ini belakangan berubah menjadi alat antisipasi pra-pertandingan. Sebelum turun ke lapangan, Ferry akan memvisualisasikan permainan lawan di dalam pikirannya, mensimulasikan adu taktik, dan menyiapkan penangkal terbaiknya.

 

Menatap Dunia, Cinta, dan Rotterdam

Tahun 1951 hingga 1955 menjadi era kebangkitan Ferry Sonneville di kancah domestik dan regional. Ia berturut-turut menjuarai Kejuaraan Bulutangkis Jakarta dan Bandung (1951, 1952). Nama Ferry mengguncang panggung Asia Tenggara saat ia menjuarai Selangor Open 1954 di Malaya dengan menumbangkan dua raksasa bulutangkis dunia saat itu: Wong Peng Soon di babak sebelumnya dan Ong Poh Lim di partai puncak dengan dua set langsung (15-11, 15-8). Seminggu kemudian pada 1955, ia kembali menegaskan dominasinya dengan menjuarai Malaya Open usai membantai pemain kuat Denmark, Jørn Skaarup, dengan skor telak 15-5 dan 15-4.

 

Di tengah gemuruh tepok bulu dan kuliahnya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), takdir mempertemukan Ferry dengan cinta sejatinya. Di sebuah lapangan latihan bulutangkis pada tahun 1951, Ferry berkenalan dengan Yvonne Theresia de Wit, putri bungsu dari keluarga De Wit yang ayahnya bekerja di perusahaan pelayaran Belanda, K.P.M. (Koninklijke Paketvaart Maatschappij). Benih-benih cinta tumbuh di antara dua sejoli yang memiliki kegemaran sama ini. Yvonne terpikat oleh sosok Ferry yang sangat simpatik, ramah, pekerja keras, dan santun.

 

Pada tanggal 29 September 1954, Ferry dan Yvonne resmi mengikat janji suci pernikahan. Namun, kesibukan Ferry yang luar biasa sebagai atlet internasional, pengurus PBSI Jakarta Raya, dan kepala keluarga membuat kuliah kedokterannya terbengkalai. Ferry kemudian mengubah haluan hidupnya. Didukung penuh oleh sang istri dan ibunya, Ferry memutuskan untuk menekuni ilmu ekonomi.

 

Pada akhir tahun 1955, Ferry berlayar menuju Belanda untuk melanjutkan studi ekonomi di Nederlandse Economische Hoogeschool (sekarang Universitas Erasmus) di Rotterdam. Di Rotterdam, Ferry membagi waktunya dengan sangat disiplin: kuliah ekonomi, bekerja di kantor cabang Bank Indonesia di Rotterdam, aktif memimpin Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), serta tetap bertanding di berbagai turnamen bulutangkis dunia. Dari pernikahan Ferry dan Yvonne dikaruniai tiga orang anak, satu putra (meninggal muda) dan dua putri.

 

Selama menetap di Eropa, kehebatan Ferry di lapangan bulutangkis semakin tak tertandingi. Media-media Eropa menjulukinya sebagai "Pembunuh Raksasa" (The Giant Killer). Gelar demi gelar berhasil ia bawa pulang: Dutch Open (1956, 1958, 1960, 1961, 1962), Scotland’s World Invitational Tourney (1957), French Open (1957, 1960), German Open (1958, 1960, 1961), Canadian Open (1962), dan US Open (1962). Bahkan, dalam perhelatan French Open 1960, Ferry bermain di ganda campuran berpasangan dengan istrinya sendiri, Yvonne, dan keluar sebagai juara.

 

Di kancah All England 1959—turnamen paling prestisius di dunia—Ferry berhasil menembus partai final. Dalam laga All Indonesian Final yang bersejarah itu, Ferry berhadapan dengan juniornya, Tan Joe Hok. Laga sengit tiga set berakhir untuk kemenangan Tan Joe Hok (15-8, 10-15, 15-3). Namun alih-alih kecewa, Ferry menyambut kemenangan Tan Joe Hok dengan penuh kerendahan hati dan rasa bangga karena bendera Merah Putih berhasil dikibarkan di podium tertinggi London.

 

Kecintaannya pada ilmu bulutangkis juga diwujudkannya dalam karya tulis. Ferry menulis dua buku panduan teknik bulutangkis: Better Badminton (berbahasa Belanda, terbit 1955) dan Bulutangkis Bermutu (terbitan Penerbit Kinta, 1959/1963) yang menjadi buku pegangan wajib bagi para atlet generasi penerus di Indonesia.

 

Keajaiban Piala Thomas 1958

Tahun 1958 mencatatkan tinta emas paling berkilau dalam sejarah olahraga Indonesia. Untuk pertama kalinya, Indonesia memberanikan diri berpartisipasi dalam kejuaraan beregu putra paling bergengsi di dunia: Piala Thomas. Saat itu, tim Indonesia dihuni oleh gabungan pemain muda dan veteran: Tan Joe Hok, Eddy Joesoef, Tan King Gwan, Njoo Kim Bie, Lie Poo Djian, Tio Tjoe Djen, dan Tan Thiam Beng.

 

Namun, skuad Indonesia dianggap kekurangan jenderal lapangan dan sosok arsitek strategi. Publik nasional sadar bahwa sosok Ferry Sonneville yang saat itu berada di Rotterdam sangat dibutuhkan. Sayangnya, PBSI saat itu mengalami krisis finansial yang amat parah dan tidak memiliki dana untuk membiayai tiket kepulangan Ferry.

 

Melihat jalan buntu tersebut, kejutan solidaritas rakyat terjadi. Tjoa Keng Lin, seorang warga Bogor, menginisiasi penggalangan dana publik. Majalah Star Weekly, majalah mingguan terkenal saat itu secara khusus membuka dompet sumbangan masyarakat. Luar biasa, dalam waktu singkat terkumpul dana sebesar Rp175.000—sebuah angka fantastis pada masa itu. Dana sebesar Rp40.000 digunakan untuk membiayai penerbangan Ferry dari Belanda, sementara sisanya menjadi modal operasional tim Piala Thomas Indonesia.

 

Di Singapore Badminton Hall, Guillemard Road, Singapura, tim "Si Tikus" Indonesia membuat keajaiban demi keajaiban. Usai menggilas Denmark (6-3) dan Thailand (8-1), Indonesia menantang raksasa bertahan Malaya (kini Malaysia-red) di babak final. Bursa taruhan dan media-media internasional mengejek Indonesia tak bakal sanggup menahan gempuran bintang Malaya kelas dunia seperti Eddy Choong dan Teh Kew San. Tan Liang Tie, wartawan Star Weekly, menggambarkan laga itu seperti "Tikus Melawan Raksasa".

 

Namun, dipimpin oleh Ferry Sonneville yang bertindak sebagai kapten, pemain, sekaligus arsitek strategi, Indonesia secara mengagumkan meremukkan Malaya dengan skor 6-3. Dunia terperanjat, dan Tan Liang Tie membalikkan istilahnya menjadi momen bersejarah: "Si Tikus Menelan Sang Raksasa". Indonesia memboyong Piala Thomas untuk pertama kalinya ke tanah air. Atas jasa besar ini, Presiden Soekarno menganugerahkan Bintang Satya Lencana Kebudayaan (1961) dan Bintang Tanda Jasa (1964) kepada Ferry dan kawan-kawan. Soekarno menyatakan bahwa para pemain bulutangkis ini adalah "pahlawan-pahlawan nasional yang berjuang dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika".

 

Empat kali berturut-turut Ferry memimpin skuad Piala Thomas Indonesia (1958, 1961, 1964, dan 1967). Dari sekian banyak pertempuran, laga paling dramatis terjadi pada semifinal Piala Thomas tanggal 21 Mei 1964 di Gelanggang Metropolitan Stadion Tokyo, Jepang, ketika Indonesia berhadapan dengan Denmark. Ferry harus turun bertanding di partai krusial menantang raja bulutangkis Denmark yang bertubuh raksasa, Erland Kops. Dalam berbagai turnamen perorangan sebelumnya, Ferry lebih sering kalah dari Kops.

 

Malam sebelum pertandingan, Ferry tidak bisa tidur. Di atas tempat tidurnya, pertempuran pikiran terjadi. Ia teringat pesan istrinya, Yvonne, saat melepasnya di Bandara Schiphol: "Je moet winnen en ik zal voor jou bidden" (Kau harus menang, dan aku akan berdoa terus untukmu). Ferry merekonstruksi setiap gerakan Kops. Ia tahu stamina Kops sangat kuat, sehingga ia harus mengambil inisiatif menyerang sejak awal.

 

Namun di tengah ketegangan analisis taktik itu, Ferry menyadari satu hal: bahwa pertarungan ini bukan lagi tentang dirinya, melainkan demi membela nama baik dan harga diri bangsa dan negara Indonesia. Pertempuran imajinasi di tempat tidur itu akhirnya ia tutup dengan doa pasrah yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

 

Keesokan harinya, tatkala melangkah memasuki lapangan pertandingan, hati Ferry dipenuhi oleh perasaan pasrah yang luar biasa. Ferry bertarung mati-matian, mengerahkan seluruh taktik dan daya tahannya, hingga akhirnya berhasil menundukkan Erland Kops. Kemenangan Ferry membawa Indonesia melenggang ke final dan mempertahankan Piala Thomas 1964.

 

Tuhan Tidak Netral

Ketika kembali ke tanah air, seorang wartawan bertanya dengan nada menyanggah: "Saudara terus-menerus menyebut Tuhan, Tuhan, Tuhan. Seakan-akan saudara sendiri tidak berusaha menang.” Jawaban Ferry, dia menghormati keyakinan hidup wartawan itu. Bahwa dia dan seluruh anggota tim Thomas Cup Indonesia berjuang mati-matian, tak seorang pun mengungkirinya. Tidak juga Ferry. Tetapi dia harus jujur terhadap hati nuraninya dan untuk itu ia tak dapat berbuat lain, kecuali mengakui bahwa, "...pada saat-saat itu Tuhan terasa amat dekat pada saya. Belum pernah saya mengalami begitu dekat dengan-Nya."

"Bagi saya, inilah puncak pengalaman hidup saya sejauh ini. Kehadiran Tuhan yang begitu konkret bagi saya merupakan modal bagi pengabdian saya selanjutnya,"lanjutnya. Ucapan dan keharuan Ferry bukanlah hipokrit, munafik. Melainkan ucapan dari seorang atlet yang ikhlas dan jujur.

 

Wartawan lain berpendapat, "Tuhan 'kan begitu tinggi. Masakan hanya soal olahraga saja nama Tuhan harus di bawa-bawa? Kalau soal penjajahan, soal penindasan, selayaknya Tuhan memihak pada yang benar. Tetapi dalam soal perebutan Thomas Cup ini, Tuhan tentunya netral." Dengan mata berkaca-kaca dan suara lembut penuh kejujuran, Ferry menjawab: “Tuhan memang netral. Tetapi Dia tidak netral kepada mereka yang meminta-Nya dengan penuh iba. Karena dengan permohonan tersebut, manusia mengakui kemahakuasaan-Nya. Hati yang meminta dengan tulus berkenan kepada-Nya dan Ia pun memberikan rahmatnya.”

Pertandingan Piala Thomas bukan lagi semata persoalan olahraga. Sudah meningkat menjadi soal prestise bangsa. Pada saat-saat itu seluruh jantung rakyat bersatu. Terdapat di dalamnya persamaan nasib, keinginan bersatu dan cinta tanah air.

 

Sang Ekonom, Wakil Gubernur Bank Indonesia, dan Tokoh Properti

Ferry Sonneville bukanlah atlet biasa. Di luar lapangan bulutangkis, ia adalah seorang intelektual dan ahli ekonomi yang handal. Pemikiran ekonominya dibentuk kuat sewaktu kuliah di Rotterdam di bawah bimbingan Prof. Jan Tinbergen—tokoh peraih Hadiah Nobel Ekonomi pertama (1969). Prof. Tinbergen mengajarkan Ferry untuk tidak memandang masa depan sebagai cerminan masa lalu, melainkan memegang prinsip Albrecht van Rodenbach: "...in het nu wat worden zal" (Masa kinilah yang akan menentukan masa depan).

 

Pengalaman dan pemikiran progresif itu memikat Presiden Soekarno. Ketika Ferry menuntaskan studinya dan meraih gelar Sarjana Ekonomi (Drs.) dari Erasmus University pada tahun 1963, ia kembali ke tanah air. Berkat keahliannya di bidang perbankan yang diasah sewaktu bekerja di Bank Indonesia cabang Rotterdam, Ferry langsung dipercaya memegang jabatan strategis.

 

Pada tahun 1963, Ferry Sonneville diangkat menjadi Wakil Gubernur Bank Indonesia, mendampingi Gubernur Bank Indonesia saat itu, Yusuf Muda Dalam. Di Bank Indonesia, Ferry memainkan peran vital dalam merintis lahirnya Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), sebuah konsorsium internasional yang sangat membantu pendanaan pembangunan ekonomi Indonesia.

 

Pada tahun 1967, Ferry memilih mengundurkan diri secara terhormat dari jabatan Wakil Gubernur Bank Indonesia. Alasan utamanya adalah kejujuran dan rasa tanggung jawabnya. Ferry merasa kesibukannya yang amat padat di luar perbankan—seperti merintis pendirian Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) bersama Jono Sewojo dan Maulawi Saelan—dapat mengganggu profesionalitas kerja bank milik negara tersebut.

 

Ferry kemudian mengalihkan energinya ke dunia usaha swasta. Ia mendirikan perusahaan properti PT Ferry Sonneville & Co. pada tahun 1968. Perusahaannya berhasil menguasai dan mengelola lahan seluas 800 hektar di kawasan Gunung Putri, Bogor, menjadikan perusahaannya sebagai salah satu pengembang real estat terbesar kedua di Indonesia pada masa itu.

 

Keberhasilannya di bidang properti membawa Ferry terpilih menjadi Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) periode 1985–1988. Pengakuannya tak berhenti di tingkat nasional; pada tahun 1989 Ferry diangkat menjadi anggota Executive Committee FIABCI (Federasi Real Estat Internasional) serta menjabat sebagai World President FIAC (1995).

 

Karya Pelayanan, Pendidikan, dan Puncak Pengabdian Bulutangkis

Meskipun sukses besar sebagai pengusaha properti dan pebisnis kaya raya, hati Ferry Sonneville tetap tertambat pada pelayanan sosial, pendidikan, dan pembinaan masyarakat. Bagi Ferry, harta dan jabatan adalah titipan Tuhan yang harus diabdikan untuk kemanusiaan.

Di bidang pendidikan tinggi, Ferry merupakan salah satu figur pilar yang memprakarsai berdirinya Universitas Trisakti. Ia menjabat sebagai Ketua Yayasan Universitas Trisakti sekaligus menjadi dosen ahli ekonomi yang mengajar mahasiswa di sana. Tidak hanya itu, Ferry juga mengabdikan dirinya sebagai anggota Yayasan Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, membantu membesarkan kampus Katolik tersebut agar menjadi lembaga pendidikan yang mandiri dan berintegritas.

 

Di bidang kemanusiaan dan kesehatan, Ferry menjabat sebagai Ketua Yayasan Rumah Sakit Fatmawati Jakarta. Ia memberikan waktu, tenaga, dan pikirannya secara cuma-cuma untuk memastikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dapat berjalan dengan baik. Selain itu, sejak tahun 1977 Ferry ditunjuk menjadi anggota Dewan Penasihat  International Executive Service Corps (IESC)—lembaga nirlaba Amerika Serikat yang menyalurkan bantuan dana untuk perumahan rakyat, fasilitas kesehatan, dan sekolah-sekolah di negara berkembang. Pada tahun 1981, Ferry diangkat menjadi Ketua IESC Indonesia.

 

Namun, panggilan jiwa bulutangkis tak pernah padam. Pengabdian organisasi bulutangkisnya sangat fantastis. Beberapa di antaranya yang utama sebagai berikut:

·       Pendiri PBSI (1951): Bersama Sudirman, Ramli Rikin, dan Sumantri, Ferry membidani lahirnya Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia.

·       Presiden IBF / International Badminton Federation (1972–1975): Ferry mencatatkan sejarah emas sebagai orang Indonesia pertama yang terpilih memimpin federasi bulutangkis dunia yang berkedudukan di London.

·       Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (1981–1985): Dalam Musyawarah Nasional PBSI ke-13 di Bandung tahun 1981, Ferry terpilih menjadi Ketua Umum PB PBSI.

 

Di bawah kepemimpinannya sebagai Ketua Umum PBSI, Ferry menerapkan strategi kebudayaan yang luar biasa bernama ”Desentralisasi Pembinaan”. Ia menghidupkan sekolah-sekolah bulutangkis di daerah, memperbanyak Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat), serta memasukkan bulutangkis ke dalam kurikulum sekolah SMTP, SMTA, hingga Perguruan Tinggi.

 

Buah manis kepemimpinannya terbukti pada perhelatan Piala Thomas 1984 di Kuala Lumpur. Di bawah komando Ferry, tim Indonesia berhasil merebut kembali Piala Thomas dari tangan Republik Rakyat Cina (RRC) dalam laga final yang sangat mendebarkan. Ferry terbukti tidak hanya sukses sebagai pemain, tetapi juga dipuja sebagai "Pahlawan Piala Thomas" dan pembina olahraga yang tiada duanya.

 

Senja nan Teduh dan Warisan Abadi

Seiring berjalannya waktu, rambut Ferry Sonneville memutih seperti kapas. Namun, keramahan, kerendahan hati, dan tutur katanya yang santun tak pernah berubah. Teman-temannya mengingatnya sebagai orang yang sangat suka menolong. Kepada setiap orang yang membutuhkan bantuan ia tidak pernah menolak memberikan pertolongan. Beberapa kali ia sendiri dirugikan, karena terlalu mempercayai orang lain. Ferry gemar menolong, mungkin karena ia sendiri pernah mengalami sulitnya perjuangan hidup di masa kecil.

 

Akhir dekade 90-an, Ferry Sonneville melalui perusahaan propertinya menghibahkan sebidang tanah seluas 1.000 meter persegi di Jalan Gunung Putri Utama II, Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Hibah ini diberikan karena kepedulian Ferry, sebagai Katolik yang taat, agar masyarakat Katolik di wilayah Gunung Putri memiliki tempat ibadah yang layak. Tempat ibadah yang awalnya berstatus sebagai stasi/kapel di bawah Paroki Keluarga Kudus Cibinong ini terus berkembang seiring bertambahnya jumlah umat. Sekarang sudah menjadi paroki mandiri dengan nama: Paroki St. Vincentius a Paulo Gunung Putri, Bogor.

 

Menjelang akhir hayatnya, cobaan fisik menghampiri. Ferry didiagnosis menderita penyakit komplikasi leukemia (kanker darah) dan kanker usus. Selama satu tahun bertarung melawan rasa sakit di tubuhnya, Ferry tidak pernah mengeluh. Iman Kristianinya yang teguh membuat ia menghadapi masa-masa sulit itu dengan penuh ketabahan dan kepasrahan. Istri tercinta, Yvonne, bersama kedua putrinya, Genia dan Cynthia, setia mendampingi setiap detik perjuangannya.

 

Pada hari Kamis subuh, 20 November 2003, di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center (MMC) Jakarta, sosok pahlawan bulutangkis Indonesia itu menghembuskan napas terakhirnya pada usia 72 tahun. Jasadnya dibalut jas safari gelap yang anggun dengan sepatu pantofel hitam mengkilat. Rambut putihnya disisir rapi ke belakang. Wajahnya nampak teduh dan damai, seolah sedang menikmati tidur panjang dalam peti mati sebelum akhirnya dikremasi di Marunda, Jakarta Utara. Bangsa Indonesia berduka menyelimuti kepergian sang legenda.

 

Ferry Sonneville meninggalkan warisan yang jauh lebih bernilai dari sekadar trofi atau harta benda. Ia mewariskan Lima Jalan Kemenangan, rumusan kesuksesannya, bagi generasi muda Indonesia dalam menghadapi tantangan zaman, yaitu: tekad yang tak tergoyahkan, pengetahuan dan intelegensi yang terus diasah, persatuan dalam kebhinekaan, kejujuran tanpa pamrih, dan yang terakhir namun paling utama adalah iman kepada Tuhan.

 

Kehidupan Ferry Sonneville adalah cerminan nyata dari ayat Kitab Suci yang senantiasa menguatkan langkah hidupnya: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.  (2 Timotius 4:7)

 

Ferry telah menyelesaikan pertandingan hidupnya di dunia dengan luar biasa. Dari seorang anak yatim Kemayoran yang berjualan ikan basah, tumbuh menjadi raksasa bulutangkis dunia, ekonom perbankan nasional, pimpinan organisasi internasional, hingga hamba Tuhan yang rendah hati. Nama Ferry Sonneville akan terus hidup dan bersinar dalam sanubari bangsa Indonesia—sebagai teladan abadi tentang bagaimana mengabdi bagi negeri dengan iman yang teguh, jiwa yang tangguh, dan hati yang penuh cinta.

 

Daftar Pustaka:

Jakob Oetama. Ferry Sonneville, The Love to Fight, Dipacu Sejak Bocah. Intisari Juli 1964.

Wisnu Subagyo. Ferry Sonneville, Karya dan Pengabdiannya. Dep. Pendidikan dan Kebudayaan.

Wikipedia(id. Wikipedia.org). Ferry Sonneville.

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia