Bincang Alkitab | Hortensius F. Mandaru, SSL
Hari Raya Kenaikan Tuhan selama ini umumnya dibayangkan secara megah dan dramatis. Gambaran yang paling melekat dalam imajinasi umat Kristen berasal dari tradisi Injil Lukas dan Kisah Para Rasul: Yesus terangkat ke surga, awan menyelubungi-Nya, para murid memandang ke langit dengan takjub, sementara malaikat menjelaskan makna peristiwa tersebut. Visualisasi seperti ini begitu kuat tertanam dalam memori gerejawi, baik melalui liturgi, drama, dekorasi gereja, ilustrasi buku cerita anak-anak, maupun film-film rohani. Kenaikan Tuhan dipahami sebagai momen kosmis dan penuh kemuliaan: Kristus naik ke surga untuk dimahkotai sebagai Raja dan duduk di sebelah kanan Allah.
Namun Injil Yohanes menghadirkan perspektif yang sangat berbeda. Yohanes tidak menggambarkan Yesus “naik” ke surga dalam suasana spektakuler dan apokaliptik. Dalam Yohanes 14, Yesus hanya berkata bahwa Ia “pergi ke rumah Bapa.” Bahasa yang digunakan begitu sederhana, bahkan domestik dan kekeluargaan, seolah seorang anak pulang ke rumah ayahnya. Tidak ada awan, malaikat, mahkota, ataupun takhta surgawi. Gambaran ini tampak “lebih sederhana” dibandingkan tradisi kenaikan yang biasa dikenal gereja. Namun justru dalam kesederhanaan itulah Yohanes menyingkapkan inti terdalam iman Kristen: relasi antara Yesus, Bapa, dan para murid.
Kenaikan Tuhan dalam Tradisi Injil Sinoptik
Tradisi umum tentang kenaikan Tuhan terutama dibentuk oleh Injil Lukas dan Kisah Para Rasul. Dalam Lukas 24, Yesus digambarkan terangkat ke surga sambil memberkati para murid. Gambaran itu diulang kembali dalam Kisah Para Rasul 1 dengan nuansa yang lebih dramatis: Yesus terangkat dalam awan, para murid memandang ke langit, lalu dua malaikat datang menjelaskan bahwa Yesus akan kembali dengan cara yang sama.
Tradisi ini memakai bahasa yang bersifat kosmis dan apokaliptik. Yesus digambarkan berpindah dari bumi menuju surga, dari ruang manusia menuju ruang ilahi. Bahasa seperti “duduk di sebelah kanan Allah” atau “dimuliakan di surga” juga sangat dipengaruhi oleh Mazmur 110 tentang penobatan raja: “Duduklah di sebelah kanan-Ku.” Karena itu, kenaikan dalam tradisi sinoptik dan gerejawi sering dipahami sebagai peristiwa penobatan Kristus sebagai Raja surgawi.
Bahasa-bahasa seperti ini bersifat luhur dan megah. Ia menampilkan Kristus sebagai Tuhan (kosmis) yang mengatasi dunia. Tidak mengherankan bila liturgi gereja sering menonjolkan dimensi kemenangan dan kemuliaan tersebut.
Perbedaan Mendasar Injil Yohanes
Berbeda dari Injil Sinoptik, Injil Yohanes memiliki cara pandang teologis yang khas terhadap wafat, kebangkitan, dan kenaikan Yesus. Dalam Markus, Matius, dan Lukas, salib dipandang sebagai akhir tragis hidup Yesus. Karena itu kebangkitan menjadi tindakan Allah yang membenarkan Yesus dan memuliakan-Nya.
Namun dalam Yohanes, salib justru sudah merupakan saat kemuliaan. Ketika Yesus wafat, Ia berkata, “Sudah selesai”, τετέλεσται (tetelestai). Ungkapan ini menandakan bahwa misi-Nya telah disempurnakan. Salib bukan sekadar penderitaan, tetapi saat Yesus “ditinggikan.” Karena itu dalam Yohanes, kemuliaan Yesus tidak menunggu kebangkitan atau kenaikan. Sejak salib, Yesus telah dimuliakan.
Dalam kerangka inilah Yohanes memahami “kepergian” Yesus kepada Bapa. Yohanes tidak memerlukan narasi dramatis tentang kenaikan, sebab bagi dia, seluruh perjalanan Yesus–salib, kebangkitan, dan kembali kepada Bapa–merupakan satu kesatuan gerak pemuliaan.
Pergi ke Rumah Bapa: Bahasa Domestik Yohanes
Teks Yohanes 14:1-12 berada dalam konteks perjamuan malam terakhir, sebagai bagian dari pidato perpisahan Yesus kepada para murid. Dalam tradisi kuno, pidato perpisahan merupakan bentuk sastra yang dipakai tokoh besar untuk meninggalkan pesan terakhir kepada para pengikutnya. Yesus menggunakan kesempatan ini untuk meneguhkan hati para murid sebelum kepergian-Nya. Yang menarik, Yohanes tidak memakai istilah “naik ke surga.” Yesus hanya berkata, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal… Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu.”
Bahasa yang digunakan sangat sederhana dan akrab. Yesus digambarkan seperti seorang anak yang pulang ke rumah ayahnya. Yohanes memakai bahasa rumah tangga, bukan bahasa kerajaan. Tidak ada nuansa istana, takhta, atau kemegahan kosmis. Yang ada hanyalah rumah Bapa dengan banyak tempat tinggal. Kata “tinggal” menjadi kata kunci penting dalam Injil Yohanes. Dalam bahasa Yunani digunakan istilah μένειν (menein) yang berarti tinggal, menetap, berdiam, atau tetap tinggal dalam relasi. Maka rumah Bapa bukan terutama gambaran lokasi surgawi, melainkan lambang relasi yang permanen dan intim bersama Allah.
Dengan demikian, fokus Yohanes bukan pada perpindahan tempat secara spasial, tetapi pada persatuan relasional. Yesus kembali kepada Bapa, dan para murid dipanggil masuk ke dalam relasi yang sama.
Relasi sebagai Inti Eskatologi Yohanes
Bahasa Perjanjian Baru memang sering memakai gambaran naik-turun, surga-bumi, atau langit-langit surgawi. Namun tujuan akhirnya bukanlah penjelasan geografis tentang surga, melainkan relasi abadi dengan Allah. Hal ini tampak juga dalam tulisan Paulus. Dalam Filipi 1:23 Paulus berkata bahwa ia ingin “tinggal bersama Kristus.” Dalam Lukas 23:43 Yesus berkata kepada penjahat di salib, “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di Firdaus.” Tekanan utamanya bukan pada Firdaus sebagai tempat, tetapi pada “bersama-sama dengan Aku.” Demikian pula Yohanes 17 menegaskan doa Yesus, “Ya bapa, Aku mau supaya, di mana Aku berada, mereka juga berada bersama Aku.”
Dengan demikian, “pergi kepada Bapa” dalam Yohanes bukanlah sekadar perpindahan lokasi surgawi, melainkan kepenuhan relasi kasih antara Anak, Bapa, dan para murid.
“Versi Murah” yang Menyentuh yang Paling Inti
Jika dibandingkan dengan gambaran kosmis dalam teks-teks lain, Yohanes memang tampak menghadirkan “versi sederhana” atau bahkan “versi murah” tentang kenaikan Tuhan. Tidak ada malaikat, awan, sangkakala, ataupun penobatan surgawi. Yohanes hanya berbicara tentang pergi dan pulang dari rumah Bapa.
Namun justru kesederhanaan ini memperlihatkan fokus teologis Yohanes. Yang terpenting bukanlah kemegahan peristiwa, tetapi makna relasi yang dihasilkannya. Yesus pergi bukan demi diri-Nya sendiri, melainkan demi para murid: “Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu.” Kepergian Yesus bersifat relasional dan pastoral. Ia pergi agar para murid memiliki tempat bersama Allah. Bahkan Yesus menjanjikan bahwa Ia sendiri akan datang kembali untuk membawa mereka masuk ke dalam rumah Bapa.
Maka kenaikan dalam Yohanes bukan kisah kehilangan, melainkan jaminan kedekatan yang baru.
Tomas: Berjalan Bersama Yesus, tetapi Tidak Tahu Sang Jalan!
Dalam dialog dengan Tomas, Injil Yohanes menampilkan sebuah ironi yang sangat manusiawi: seorang murid yang sudah lama berjalan bersama Yesus, tetapi ternyata masih belum mengenal Sang Jalan itu sendiri. Tomas menjadi gambaran murid yang kritis, rasional, dan membutuhkan kepastian. Ketika Yesus berkata bahwa para murid sudah mengetahui jalan ke tempat Ia pergi, Tomas justru menjawab, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi. Jadi, bagaimana kami tahu jalannya?”
Pertanyaan Tomas sebenarnya mewakili kegelisahan banyak orang beriman. Mereka sudah lama hidup dalam tradisi religius, berjalan bersama Yesus melalui ibadah, ajaran, dan komunitas iman, tetapi belum sungguh mengenal siapa Yesus dalam inti terdalam-Nya. Tomas berpikir tentang “jalan” sebagai arah atau rute menuju suatu tempat, sedangkan Yesus berbicara tentang relasi menuju Bapa.
Karena itu, jawaban Yesus menjadi salah satu pewahyuan terpenting dalam Injil Yohanes: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup”. Ungkapan ini sebaiknya dipahami sebagai satu kesatuan. Yesus bukan sekadar penunjuk jalan menuju Allah, melainkan jalan itu sendiri. Ia adalah jalan yang benar, yang sepenuhnya dapat dipercaya, sebab melalui diri-Nya kebenaran Allah dinyatakan secara sempurna. Dan sebagai jalan yang benar, Ia juga menghantar manusia kepada hidup, yaitu persatuan dengan Bapa.
Dalam perspektif Yohanes, hidup kekal bukan pertama-tama soal hidup tanpa akhir, melainkan hidup dalam relasi dengan Allah. Karena itu, mengikuti Yesus berarti masuk ke dalam kehidupan ilahi itu sendiri. Jalan kepada Bapa bukan terutama persoalan pengetahuan intelektual, melainkan tinggal dan bersatu dengan Kristus.
Filipus: Bersama Yesus, Belum Tentu Mengenal Dia!
Tokoh lain yang muncul dalam dialog Yohanes 14 adalah Filipus. Jika Tomas mewakili murid yang bingung tentang “jalan,” maka Filipus mewakili murid yang sudah lama bersama Yesus, tetapi belum sungguh mengenal siapa Dia. Filipus berkata kepada Yesus, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.”
Permintaan Filipus mencerminkan kerinduan manusia yang sangat mendasar, yaitu keinginan untuk melihat Allah secara langsung, mengalami tanda yang nyata, atau memperoleh kepastian rohani yang spektakuler. Namun justru di sinilah letak ironi yang ditampilkan Yohanes. Filipus sudah hidup bersama Yesus, mendengar pengajaran-Nya, menyaksikan karya-karya-Nya, tetapi masih merasa Allah itu jauh dan perlu “ditunjukkan” secara khusus.
Karena itu Yesus menjawab dengan nada sedih sekaligus ironis: “Telah sekian lama Aku bersama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku?”. Pertanyaan Yesus memperlihatkan bahwa kedekatan secara fisik belum tentu berarti pengenalan yang sejati. Filipus masih melihat Yesus hanya sebagai guru, nabi, atau utusan Allah, tetapi belum memahami bahwa dalam diri Yesus, Allah sendiri sedang menyatakan diri-Nya. Dalam teologi Yohanes, mengenal Yesus berarti mengenal Bapa, sebab Bapa dan Anak berada dalam kesatuan yang sempurna. Karena itu Yesus berkata, “Siapa yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.”
Melalui Filipus, Yohanes juga mengkritik kecenderungan religius manusia yang selalu mencari pengalaman spektakuler: mukjizat, penampakan, tanda-tanda ilahi, atau pengalaman rohani yang luar biasa, tetapi gagal mengenali kehadiran Allah yang sudah nyata dalam pribadi dan karya Yesus. Ironi iman muncul ketika seseorang merasa dekat dengan Tuhan secara religius, tetapi tidak sungguh mengenal hati dan pewahyuan-Nya. Karena itu, bagi Yohanes, iman sejati bukan pertama-tama soal melihat tanda yang luar biasa, melainkan mengenali Allah yang hadir dalam Yesus Kristus. Mengenal Yesus berarti masuk ke dalam relasi dengan Bapa, sebab di dalam Dia, Allah tidak lagi jauh dan tersembunyi, melainkan hadir dekat di tengah manusia.
Legacy dari Dia yang Pergi
Salah satu bagian paling penting dalam Yohanes 14 adalah janji Yesus bahwa para murid akan melanjutkan karya-Nya: “Siapa yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu.”
Kepergian Yesus ternyata bukan akhir karya Allah di dunia. Sebaliknya, kepergian itu membuka ruang bagi para murid untuk meneruskan karya Kristus. Karena itu Gereja dipahami sebagai “kembaran Kristus.” Gereja menghadirkan sabda dan karya Yesus di dunia sejauh tetap tinggal dalam relasi dengan-Nya. Gereja melanjutkan kasih, pelayanan, pewartaan, dan kesaksian Kristus di tengah dunia, sekalipun harus menghadapi penolakan sebagaimana dialami Yesus sendiri.
Dalam konteks historis, Yohanes kemungkinan melihat perkembangan Gereja yang mulai meluas menyebar di pelbagai wilayah, dan melampaui batas-batas etnisdan geografi. Dengan “pergi kepada Bapa,” Yesus tidak lagi dibatasi ruang dan waktu sejarah Palestina abad pertama. Kristus yang mulia hadir di mana pun Gereja mewartakan Injil dan menghadirkan kasih-Nya.
Kekristenan yang kini menjadi agama-global merupakan bukti bahwa Yesus yang “pergi” tetap hadir melalui karya dan sabda-Nya dalam Gereja.
Penutup
Injil Yohanes menghadirkan pemahaman yang sangat khas tentang kenaikan Tuhan. Tidak ada gambaran kosmis yang megah atau penobatan surgawi yang dramatis. Yohanes hanya berbicara tentang seorang Anak yang pulang ke rumah Bapa-Nya. Namun justru dalam kesederhanaan itu, Yohanes memperlihatkan inti terdalam iman Kristen, yaitu relasi. Yesus pergi bukan untuk meninggalkan para murid, tetapi untuk menyediakan tempat bagi mereka. Ia pergi agar relasi antara Allah dan manusia menjadi sempurna. Ia juga pergi agar karya kasih Allah diteruskan melalui Gereja.
Karena itu, kenaikan Tuhan menurut Yohanes bukan kisah perpisahan yang menyedihkan. Sebaliknya, itu adalah kabar pengharapan: bahwa rumah Bapa terbuka bagi semua yang tinggal dalam Kristus, dan bahwa Kristus yang pergi tetap hadir melalui karya kasih umat-Nya di dunia.
Closing statement:
Yohanes 14 menampilkan pemahaman tentang kenaikan Tuhan yang berbeda dari gambaran umum yang sering kita kenal. Ia menghadirkan semacam “versi murah”, bukan dalam arti murahan, melainkan tanpa bahasa-bahasa triumfalis yang berlebihan atau “mahal.” Tidak ada kemegahan peristiwa, tidak ada pernak-pernik kemuliaan, bahasa istana, atau simbol-simbol kerajaan yang dominan. Yang ditonjolkan justru bahasa yang sangat sederhana dan bersahaja, yaitu bahasa rumah dan kekeluargaan: pergi ke rumah Bapa, kembali ke rumah Bapa, dan pada akhirnya menghantar kita ke rumah Bapa.
Gambaran ini memberi kesan yang penting bagi perayaan Kenaikan Tuhan, yaitu bahwa gereja dipanggil sebagai satu keluarga bersama Kristus yang menuntun umat kembali kepada Bapa. Bahasa ini menjadi lebih bersahabat dan membumi, sekaligus menjadi penyeimbang terhadap pemahaman kenaikan Kristus sebagai Raja yang sering kali ditafsirkan secara triumfalis, seolah-olah mengarah pada gagasan “merajai dunia” dalam arti dominasi.
Dalam sejarahnya, kecenderungan ini tidak jarang membawa gereja pada godaan untuk mengejar kuasa, yang pada akhirnya dapat bergeser menjadi sikap koruptif dan tidak adil. Berbeda dengan itu, Yohanes 14 justru menampilkan gambaran yang lain: sebuah iman yang sederhana, bersahaja, dan berpusat pada relasi yang erat dan mendalam, baik dengan Allah, dengan sesama, maupun dengan seluruh ciptaan.
























