- Hortensius F. Mandaru, SSL.
Editor: Vince Ellysabeth
Di antara berbagai praktik keagamaan dalam Alkitab, sunat mungkin termasuk yang jarang dibicarakan dalam gereja masa kini karena sifatnya yang khusus dan kerap dianggap sekadar bagian dari hukum ritual Israel kuno. Namun dalam sejarah keselamatan, sunat justru memegang peranan penting: ia menjadi tanda perjanjian Allah dengan Abraham, penanda identitas umat pilihan, sekaligus titik krusial perdebatan teologis dalam gereja mula-mula. Fakta bahwa Yesus disunat (Lukas 2:21), demikian pula Yohanes Pembaptis dan para rasul sebagai orang Yahudi yang taat, menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa praktik ini tidak lagi diwajibkan dalam Kekristenan?
Sunat dalam Konteks Dunia Kuno: Praktik Umum yang Diberi Makna Teologis
Sunat bukanlah praktik eksklusif Israel. Yeremia 9:25 menyebut bahwa orang Mesir, Yehuda, Edom, bani Amon, dan Moab mengenal tradisi sunat, sementara bangsa Babel, Asyur, Filistin, Yunani, dan Romawi tidak melakukannya. Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan bahwa praktik ini telah dikenal di Mesir sejak sekitar 3000 SM. Dengan demikian, sunat pada awalnya adalah praktik antropologis dan kultural yang tersebar luas di dunia kuno, khususnya di kalangan bangsa-bangsa Semit.
Secara umum, dalam budaya-budaya kuno, sunat sering dikaitkan dengan ritus peralihan, terutama menjelang pubertas atau sebelum pernikahan. Sunat menandai masuknya seorang laki-laki ke dalam status kedewasaan sosial, dengan hak dan kewajiban penuh sebagai anggota masyarakat. Selain itu, bentuk sunat pun bervariasi antarbangsa. Beberapa sumber menyebutkan bahwa praktik Mesir tidak sepenuhnya memotong kulit khatan, melainkan hanya membelahnya. Variasi ini bahkan dapat menjadi penanda identitas etnis.
Israel mengadopsi praktik yang umum ini, tetapi memberinya makna teologis yang khas. Di sinilah terjadi proses inkulturasi budaya: praktik yang sudah ada diberi arti baru dalam terang pewahyuan Allah.
Yosua 5: Sunat sebagai Pemutusan Cela Mesir, Tanda Identitas Baru
Dalam Yosua 5:2-9 diceritakan bahwa Tuhan memerintahkan Yosua untuk membuat pisau dari batu dan mengadakan sunatan lagi bagi orang Israel. Penggunaan pisau batu (alat yang sangat kuno) menunjukkan kesinambungan dengan praktik lama, namun frasa sunatan lagi memunculkan diskusi penafsiran. Sebagian penafsir berpendapat bahwa generasi yang keluar dari Mesir mungkin menjalankan bentuk sunat ala Mesir, sehingga tindakan sunatan lagi merupakan penegasan bentuk khas Israel yang memotong seluruh kulit khatan.
Ayat 9 mencatat firman Tuhan, Hari ini Aku telah menyingkirkan darimu cela dari Mesir. Sunat dalam konteks ini menjadi simbol pemutusan identitas lama, yaitu identitas perbudakan dan ketergantungan pada Mesir, serta peneguhan identitas baru sebagai umat perjanjian. Dengan demikian, sunat bukan sekadar tindakan fisik, melainkan deklarasi teologis tentang siapa yang menjadi milik Tuhan.
Kejadian 17: Sunat sebagai Tanda Perjanjian
Makna teologis terdalam sunat dalam PL terdapat dalam Kejadian 17. Meskipun perjanjian Allah dengan Abraham telah dinyatakan dalam Kejadian 15, pasal 17 memberikan tanda konkret dari perjanjian tersebut: sunat. Allah berjanji menjadikan Abraham bapa sejumlah besar bangsa dan menetapkan perjanjian kekal dengan keturunannya. Dari pihak Abraham dan keturunannya, tanda kesetiaan terhadap perjanjian itu adalah sunat.
Terdapat dua kekhasan penting dalam sunat Israel. Pertama, sunat dilakukan pada bayi laki-laki berumur delapan hari. Praktik ini tidak dikenal dalam budaya-budaya lain yang umumnya mengaitkan sunat dengan pubertas atau prasyarat pernikahan. Sunat bayi delapan hari menegaskan bahwa perjanjian Allah tidak bergantung pada kemampuan manusia. Seorang bayi belum memiliki kapasitas prokreasi atau kontribusi apa pun terhadap penggenapan janji. Dengan demikian, sunat menjadi tanda bahwa pemenuhan perjanjian sepenuhnya bergantung pada kuasa dan kesetiaan Allah, bukan pada kekuatan manusia.
Kedua, sunat hanya dikenakan pada laki-laki. Dalam kultur patrilineal Israel kuno, laki-laki dipandang sebagai kepala keluarga dan penanggung jawab garis keturunan. Perjanjian yang berkaitan dengan janji keturunan secara simbolis ditandai pada organ yang berkaitan langsung dengan prokreasi. Tanda itu ditempatkan pada bagian tubuh yang melambangkan penerusan generasi umat perjanjian. Dengan demikian, sunat berfungsi sebagai tanda perjanjian yang terukir dalam daging , menandai relasi eksklusif antara Allah dan umat-Nya.
Dimensi individual juga sangat kuat. Kejadian 17:14 menegaskan bahwa laki-laki yang tidak disunat harus dilenyapkan dari antara bangsanya karena telah mengingkari perjanjian. Meskipun perjanjian berlaku komunal, tanggung jawab untuk menaatinya bersifat personal. Sunat menjadi syarat mutlak keikutsertaan dalam komunitas perjanjian.
Dari Fisik ke Metaforis: Sunat Hati dalam Perjanjian Lama
Menariknya, dalam perkembangan teologi PL sendiri, makna sunat mulai bergerak dari dimensi fisik menuju dimensi rohani. Ulangan 10:16 menyerukan, Sunatlah hatimu dan jangan kamu tegar tengkuk lagi. Ulangan 30:6 menegaskan bahwa Tuhanlah yang akan menyunat hati umat-Nya agar mereka mengasihi Dia dengan segenap hati dan jiwa. Nabi-nabi seperti Yeremia dan Yehezkiel juga berbicara tentang sunat hati dan bahkan sunat telinga.
Di sini, sunat menjadi metafora keterbukaan dan ketaatan total kepada Allah. Sebagaimana kulit khatan dipotong untuk membuka, demikian pula hati harus dibuka agar peka terhadap firman dan kehendak Tuhan. Dengan demikian, PL sendiri telah menyediakan dasar teologis untuk memahami sunat bukan sekadar sebagai tindakan fisik, melainkan sebagai transformasi batin.
Gereja Mula-Mula dan Krisis Identitas
Yesus disunat pada hari kedelapan sesuai hukum Taurat (Lukas 2:21), demikian pula Yohanes Pembaptis dan para rasul. Sebagai orang Yahudi, mereka hidup dalam kesetiaan pada hukum. Namun ketika Injil mulai diberitakan kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, muncul pertanyaan krusial: apakah orang-orang non-Yahudi yang percaya kepada Kristus harus disunat agar sah menjadi umat Allah?
Pertanyaan ini memicu perdebatan sengit dalam jemaat mula-mula. Sebagian kalangan Yahudi Kristen menuntut sunat sebagai syarat keselamatan. Dalam konteks inilah Rasul Paulus memberikan reinterpretasi teologis yang menentukan arah gereja.
Paulus dan Reinterpretasi Sunat: Iman Mendahului Tanda
Dalam Roma 4:11, Paulus menafsir ulang makna sunat Abraham. Ia menegaskan bahwa Abraham dibenarkan oleh iman dalam Kejadian 15, sebelum ia disunat dalam Kejadian 17. Dengan demikian, sunat adalah meterai kebenaran berdasarkan iman , bukan sumber kebenaran itu sendiri. Abraham dapat menjadi bapa semua orang percaya, baik yang bersunat maupun yang tidak.
Argumen Paulus bersifat historis-teologis: iman mendahului tanda. Karena itu, orang-orang non-Yahudi yang memiliki iman seperti Abraham tidak perlu disunat untuk menjadi bagian dari umat Allah. Sunat tetap memiliki makna identitas bagi orang Yahudi sebagai keturunan jasmani Abraham, tetapi tidak menjadi syarat bagi anak-anak rohani Abraham yang hidup oleh iman kepada Kristus.
Bagi Paulus, yang menentukan bukanlah sunat atau tidak sunat secara fisik, melainkan iman yang bekerja oleh kasih. Dengan demikian, sunat mengalami transformasi makna: dari tanda etnis dan perjanjian jasmani menjadi simbol kebenaran oleh iman.
Penutup
Sejarah sunat dalam Alkitab memperlihatkan bahwa tanda-tanda keagamaan memiliki fungsi penting dalam konteks tertentu, namun tidak selalu bersifat absolut sepanjang masa. Dalam perjalanan wahyu Allah, tanda dapat ditafsir ulang dan diberi makna baru sesuai dengan perkembangan rencana keselamatan. Dari praktik budaya kuno, sunat menjadi tanda perjanjian Abraham; dari tanda fisik, ia dimaknai sebagai sunat hati; dari kewajiban etnis, ia ditransformasikan menjadi simbol iman dalam Kristus.
Dengan demikian, pertanyaan Yesus disunat, mengapa kita tidak? tidak dapat dijawab secara simplistis. Yesus hidup dalam konteks perjanjian lama dan menggenapinya. Gereja, sebagai komunitas perjanjian baru yang melampaui batas etnis, dipanggil untuk memahami bahwa inti perjanjian bukan terletak pada tanda lahiriah, melainkan pada iman yang mempercayakan diri sepenuhnya kepada karya Allah dalam Kristus.
Akhirnya, kita diingatkan bahwa dalam hidup beragama, tanda-tanda tertentu bisa sangat penting pada masanya. Namun kesetiaan iman menuntut kemampuan untuk membaca ulang tanda-tanda itu dalam terang karya Allah yang terus bergerak dalam sejarah. Sunat mengajarkan bahwa yang terutama bukanlah tanda pada tubuh, melainkan hati yang terbuka dan percaya kepada Tuhan.
Tentu, ketika kita bicara tentang sunat, berarti kita bicara soal aspek lahiriah dalam hidup beriman. Semua tanda yang lahiriah itu tidak relevan,tidak terlalu banyak nilainya, kalau dia tidak sungguh mengungkapkan iman kita yang terdalam. Itu yang terpenting. Jadi semua hal-hal lahiriah yang kita lakukan, entah gestur ibadah atau apapun itu, harus lahir dari kemurnian, ketulusan iman yang mendalam. Juga, dalam sejarah kekristenan diskusi tentang sunat ini sempat membuat perpecahan di antara rasul-rasul. Namun akhirnya mereka menemukan solusi bersama. Mungkin itu juga pesan yang abadi. Tidak seharusnya doktrin atau praktik apapun yang memecah belah para pengikut Kristus (Hortensius F. Mandaru, SSL.)
Artikel ini disadur dari Bincang Alkitab. Tonton versi video lengkapnya di YouTube LAI:
https://youtu.be/Q5WnqkwRQ8A?si=bHeMfE7kRo8rxz2o
























