Dewasa ini Yahudi dan Kristen dikenal sebagai dua agama besar dunia yang berbeda, masing-masing memiliki identitas, tradisi, kitab suci, dan sejarah perkembangannya sendiri. Namun, pertanyaan mengenai kapan dan mengapa keduanya berpisah ternyata tidak sesederhana yang sering dibayangkan. Selama berabad-abad banyak orang menganggap bahwa perpisahan itu terjadi segera setelah kematian dan kebangkitan Yesus atau setelah kehancuran Bait Allah di Yerusalem pada tahun 70 M. Akan tetapi, penelitian-penelitian modern menunjukkan bahwa proses tersebut jauh lebih kompleks, panjang, dan bertahap daripada yang selama ini dipahami.
Yudaisme Pascapembuangan: Rahim Bersama Yahudi dan Kristen
Untuk memahami lahirnya kekristenan, terlebih dahulu perlu dipahami konteks Yudaisme setelah pembuangan Babel. Setelah bangsa Israel kembali ke tanah mereka pada masa Ezra dan Nehemia, mereka membangun kembali Bait Allah dan menata ulang kehidupan keagamaan yang berpusat pada Taurat. Para ahli menyebut periode ini sebagai masa Yudaisme Bait Allah Kedua (Second Temple Judaism).
Berbeda dengan gambaran yang sering muncul dalam benak banyak orang, Yudaisme pada masa itu bukanlah agama yang seragam. Ia terdiri atas berbagai kelompok, aliran, dan gerakan yang hidup berdampingan. Di dalamnya terdapat kaum Farisi, Saduki, Eseni, komunitas Qumran, orang Samaria, kelompok-kelompok apokaliptik, hingga para pengikut Yesus yang kemudian dikenal sebagai Christianoi dalam bahasa Yunani atau Notzrim dalam tradisi Ibrani.
Meskipun beragam, seluruh kelompok tersebut masih berada dalam payung besar Yudaisme. Mereka dipersatukan oleh sejumlah unsur mendasar yang menjadi pilar identitas bersama. Pilar-pilar itu meliputi kesadaran sebagai umat pilihan Allah, keyakinan akan satu Allah yang esa, hubungan perjanjian dengan Allah yang diwujudkan melalui Taurat, serta keterikatan pada tanah perjanjian dengan Bait Allah sebagai pusat kehidupan religius. Selama pilar-pilar ini masih menjadi titik temu, berbagai kelompok yang berbeda tetap dapat hidup sebagai bagian dari Yudaisme yang sama.
Pandangan Klasik dan Kritik terhadapnya
Untuk waktu yang lama, para ahli memahami hubungan Yahudi dan Kristen melalui model yang sederhana. Menurut pandangan klasik, Yudaisme adalah agama induk, sedangkan kekristenan merupakan sekte yang lahir dari dalamnya. Setelah Yesus bangkit atau paling lambat setelah tahun 70 M, kedua kelompok itu dianggap segera berpisah dan menjadi dua agama yang berbeda.
Pandangan ini melahirkan dua konsekuensi besar. Dari pihak Kristen berkembang keyakinan bahwa Gereja adalah “Israel baru” yang menggantikan Israel sebagai umat pilihan Allah. Pandangan ini dikenal sebagai supersesionisme, yaitu gagasan bahwa Gereja mengambil alih tempat Israel dalam rencana keselamatan Allah. Sebaliknya, dari pihak Yahudi, kekristenan sering dipandang sebagai gerakan bidat yang menyimpang dari Yudaisme. Dalam sejumlah tradisi rabinik kemudian, Yesus bahkan disebut sebagai “si penyesat”.
Namun penelitian modern menunjukkan bahwa model tersebut terlalu sederhana. Baik Yudaisme maupun kekristenan pada abad pertama ternyata belum memiliki bentuk yang tunggal dan baku. Keduanya masih berada dalam proses pembentukan identitas yang dinamis. Karena itu, semakin banyak ahli yang memahami hubungan Yahudi dan Kristen bukan sebagai hubungan induk dan anak, melainkan sebagai dua gerakan yang berkembang dari akar sejarah yang sama.
Berbagai Metafora untuk Memahami Perpisahan
Karena kompleksitas proses pemisahan Yahudi dan Kristen, para ahli menggunakan berbagai metafora untuk menjelaskan bagaimana dua komunitas yang berakar pada tradisi yang sama akhirnya berkembang menjadi identitas yang berbeda. Menariknya, tidak semua metafora menekankan perpisahan. Sebagian menyoroti jarak yang semakin melebar antara keduanya, sementara yang lain justru menekankan asal-usul bersama dan keterhubungan yang tetap bertahan. Keragaman metafora ini menunjukkan bahwa hingga kini para ahli masih memperdebatkan cara terbaik untuk memahami hubungan Yahudi dan Kristen pada masa awal.
Jalan-Jalan yang Berpisah
Metafora yang paling terkenal adalah parting of the ways atau “jalan-jalan yang berpisah”, yang dipopulerkan oleh James D.G. Dunn dan Geza Vermes. Menurut model ini, Yudaisme dan kekristenan pada mulanya berjalan di jalur yang sama, tetapi secara perlahan mengambil arah yang berbeda.
Penggunaan bentuk jamak (ways) sangat penting. Istilah ini menunjukkan bahwa baik Yudaisme maupun kekristenan tidak pernah merupakan kelompok yang sepenuhnya seragam. Keduanya terdiri atas beragam aliran dan tradisi yang sedang membentuk identitasnya masing-masing. Karena itu, perpisahan tersebut tidak terjadi sekaligus, melainkan berlangsung secara bertahap dan berbeda-beda menurut tempat serta konteks sejarahnya.
Dua Anak Kembar dari Rahim yang Sama
Alan Segal dan Gabriele Boccaccini mengusulkan model kekerabatan untuk menjelaskan hubungan Yahudi dan Kristen. Mereka membandingkannya dengan Esau dan Yakub, dua anak kembar yang lahir dari rahim Ribka.
Metafora ini menolak pandangan bahwa kekristenan semata-mata merupakan “anak” dari Yudaisme. Sebaliknya, baik Yudaisme rabinik maupun kekristenan dipandang sebagai dua bentuk Yudaisme yang berkembang dari sumber yang sama setelah krisis besar akibat kehancuran Bait Allah pada tahun 70 M. Keduanya lahir dari “ibu” yang sama dan sama-sama berusaha mewarisi identitas umat Allah, meskipun kemudian menempuh jalan yang berbeda.
Dua Dialek dari Satu Bahasa
Akademisi dan sejarawan Yahudi Daniel Boyarin menggunakan metafora bahasa untuk menggambarkan hubungan Yahudi dan Kristen. Menurutnya, keduanya dapat dipahami sebagai dua dialek yang berkembang dari satu bahasa yang sama.
Pada tahap awal, kedua komunitas berbagi banyak konsep, simbol, dan bahasa teologis yang serupa. Perbedaan yang muncul kemudian tidak terjadi secara mendadak, melainkan melalui proses yang panjang. Sebagaimana dua dialek yang perlahan-lahan berkembang menjadi bahasa yang berbeda, demikian pula Yudaisme dan kekristenan membentuk identitasnya masing-masing sambil tetap mempertahankan sejumlah unsur yang berasal dari warisan bersama.
Keretakan yang Semakin Melebar
Metafora lain dikemukakan oleh Craig A. Evans, yang menggambarkan hubungan Yahudi dan Kristen sebagai sebuah “keretakan” (rift). Dalam pandangannya, keretakan mulai muncul ketika para pengikut Yesus mengembangkan dua ciri yang semakin membedakan mereka dari Yudaisme arus utama.
Pertama, pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan Allah. Kedua, penerimaan orang-orang non-Yahudi sebagai anggota umat Allah tanpa harus terlebih dahulu menjadi Yahudi. Kedua perkembangan ini secara bertahap menciptakan jarak yang semakin besar antara komunitas pengikut Yesus dan kelompok-kelompok Yahudi lainnya. Sejalan dengan itu, sejumlah ahli lain tetap menggunakan istilah seperti skisma, perpecahan, atau separasi untuk menggambarkan proses pemisahan tersebut.
Berbeda, tetapi Tetap Terhubung
Beberapa ahli menggunakan metafora yang diambil dari alam untuk menekankan bahwa sekalipun Yahudi dan Kristen berkembang menjadi dua tradisi yang berbeda, keduanya tetap memiliki hubungan yang mendalam.
Tobias Nicklas, misalnya, membandingkan keduanya dengan dua semak atau belukar yang tampak terpisah di permukaan, tetapi akar-akarnya tetap saling berdekatan dan bersinggungan di dalam tanah. Gambaran ini menekankan adanya akar sejarah dan teologis yang sama. Sementara itu, sarjana Prancis Jean-Marc Blanchetière, dengan merujuk pada Roma 11, menggunakan metafora pohon dan akar. Menurutnya, kekristenan dapat dipahami sebagai pohon yang tumbuh dari akar Yudaisme. Karena itu, kekristenan harus terus mengacu pada akar tersebut dalam memahami identitas dan teologinya, sedangkan Yudaisme tidak bergantung pada kekristenan untuk menjelaskan keberadaannya.
Metafora lain dikemukakan oleh Morton Smith, yang membandingkan Yahudi dan Kristen dengan dua gunung: Gunung Sinai yang melambangkan Yudaisme dan Gunung Sion surgawi yang melambangkan kekristenan. Namun perhatian Smith bukan terutama pada kedua gunung itu, melainkan pada lembah-lembah yang membentang di antaranya. Menurutnya, di ruang “antara” itulah terdapat berbagai hubungan, pengaruh, dan persinggungan yang terus menghubungkan kedua tradisi tersebut sepanjang sejarah.
Kain yang Robek Perlahan-Lahan
Selain metafora jalan yang berpisah, James D.G. Dunn juga menggunakan gambaran tenunan kain untuk menjelaskan hubungan Yahudi dan Kristen. Pada mulanya keduanya merupakan bagian dari satu tenunan yang sama. Namun berbagai tekanan historis, sosial, politik, dan teologis membuat benang-benangnya perlahan-lahan longgar dan terlepas.
Pada akhirnya tenunan itu robek menjadi dua bagian yang berbeda. Metafora ini menegaskan bahwa perpisahan Yahudi dan Kristen bukanlah hasil dari satu keputusan atau satu peristiwa tertentu, melainkan akibat dari proses panjang yang berlangsung selama beberapa abad.
Beragam metafora tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu model pun yang mampu menjelaskan seluruh kompleksitas hubungan Yahudi dan Kristen. Ada metafora yang menekankan perpisahan, ada yang menyoroti asal-usul bersama, dan ada pula yang menunjukkan bahwa hubungan keduanya tidak pernah sepenuhnya terputus. Karena itu, banyak penelitian kontemporer cenderung melihat perpisahan Yahudi dan Kristen bukan sebagai satu peristiwa tunggal, melainkan sebagai proses historis yang panjang, bertahap, dan berlangsung secara berbeda-beda di berbagai tempat.
Kapan Perpisahan Itu Dimulai?
Sampai saat ini tidak ada kesepakatan mengenai kapan tepatnya proses pemisahan dimulai.
Sebagian ahli menunjuk kepada Yesus historis pada sekitar tahun 30-an Masehi. Menurut pandangan ini, konflik antara Yesus dan sebagian pemimpin agama Yahudi, yang berpuncak pada penyaliban-Nya, merupakan awal dari ketegangan yang kemudian berkembang menjadi perpisahan. Klaim Yesus mengenai relasi-Nya dengan Bapa, otoritas-Nya dalam menafsirkan Taurat, serta sikap-Nya terhadap Sabat dan Bait Allah sering dipandang sebagai faktor yang menimbulkan ketegangan tersebut.
Kelompok lain menunjuk kepada Paulus dan misinya kepada bangsa-bangsa non-Yahudi pada tahun 50-an Masehi. Keberhasilan Paulus membawa orang-orang bukan Yahudi menjadi anggota umat Allah tanpa mewajibkan mereka menjadi Yahudi terlebih dahulu dianggap sebagai salah satu titik penting dalam proses pemisahan.
Ada pula yang melihat bahwa benih-benih pemisahan sudah tampak dalam teks-teks Perjanjian Baru yang ditulis antara tahun 70–100 M. Matius 23 berisi kecaman keras terhadap kaum Farisi. Matius 27:25 mencatat seruan orang banyak mengenai darah Yesus. Yohanes 8:44 menggunakan bahasa yang sangat tajam terhadap lawan-lawan Yesus. Sementara itu, Kisah Para Rasul menggambarkan konflik yang berulang antara Paulus dan sejumlah komunitas Yahudi.
Namun demikian, banyak ahli berpendapat bahwa hingga tahun 70 M para pengikut Yesus masih dapat dipahami sebagai salah satu variasi dalam Yudaisme yang majemuk. Karena itu, tahun 70 M sering dianggap sebagai titik balik yang lebih penting.
Tahun 70 M dan Kehancuran Bait Allah
Kehancuran Bait Allah oleh tentara Romawi pada tahun 70 M merupakan salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah Yahudi. Selama berabad-abad Bait Allah menjadi pusat ibadah, identitas, dan kehidupan religius bangsa Yahudi. Ketika pusat itu hancur, Yudaisme harus menemukan bentuk baru untuk bertahan.
Dalam situasi inilah muncul upaya para rabi untuk merumuskan kembali identitas Yahudi dengan menempatkan Taurat dan sinagoga sebagai pusat kehidupan keagamaan. Tradisi kemudian mengaitkan proses ini dengan kelompok para rabi di Yavneh yang dipimpin oleh Rabi Yohanan ben Zakkai.
Sementara itu, komunitas Kristen secara bertahap mengembangkan pemahaman bahwa mereka sendiri merupakan Bait Allah eskatologis yang baru. Karena itu, setelah tahun 70 M mereka tidak lagi memandang Bait Allah Yerusalem sebagai pusat kehidupan iman mereka. Perbedaan ini perlahan-lahan menciptakan jarak antara kedua kelompok.
Tahun 135 M: Awal Perpisahan yang Lebih Jelas
Banyak sarjana masa kini menganggap tahun 135 M, yakni setelah kegagalan pemberontakan Bar Kokhba melawan Roma, sebagai titik yang lebih jelas dalam proses perpisahan. Bar Kokhba berupaya membangun kembali kemerdekaan Yahudi dan memulihkan Bait Allah. Akan tetapi, orang-orang Kristen tidak ikut mendukung pemberontakan tersebut. Sejak saat itu, semakin jelas bahwa kedua kelompok memiliki visi yang berbeda mengenai masa depan umat Allah.
Pada periode ini para rabi mulai menggunakan istilah minim untuk menyebut kelompok-kelompok yang dianggap menyimpang, termasuk orang Kristen. Sebaliknya, para penulis Kristen awal mulai mengecam Yudaisme sebagai ajaran yang telah ditinggalkan. Polemik muncul dari kedua belah pihak.
Meski demikian, hubungan keduanya tetap belum sepenuhnya terputus. Sejarawan Inggris Judith Lieu menggambarkan keadaan ini dengan ungkapan yang menarik: criss-crossing of muddy tracks, jalur-jalur berlumpur yang masih saling bersilangan. Sampai abad keempat masih terdapat banyak praktik, tradisi, dan komunitas yang memperlihatkan tumpang tindih antara Yahudi dan Kristen.
Mengapa Mereka Berpisah?
Faktor Historis
Dua perang Yahudi melawan Roma (66-70 M dan 132-136 M) memberikan dampak yang luar biasa besar. Kehancuran Yerusalem dan Bait Allah mengubah wajah Yudaisme secara permanen.
Menurut sejarawan Romawi Dio Cassius, pemberontakan kedua menyebabkan kehancuran yang sangat luas. Puluhan benteng dan ratusan desa dihancurkan, sementara ratusan ribu orang Yahudi kehilangan nyawa. Selain itu, kebijakan Kaisar Hadrian menyebabkan banyak orang Yahudi terusir dari Yudea dan digantikan oleh penduduk non-Yahudi. Akibatnya, komunitas Kristen di Palestina pun semakin didominasi oleh orang-orang non-Yahudi.
Faktor Politis
Kebijakan politik Romawi juga mempercepat proses pemisahan. Setelah tahun 70 M, Kaisar Vespasianus memberlakukan Fiscus Judaicus, yaitu pajak khusus bagi orang Yahudi.
Pada masa Domitianus, cakupan pajak ini diperluas hingga mencakup orang-orang yang terkait dengan Yudaisme. Namun kemudian Nerva membatasi kewajiban tersebut hanya kepada mereka yang benar-benar menjalankan adat-istiadat Yahudi. Situasi ini mendorong banyak orang Kristen, khususnya yang berasal dari kalangan non-Yahudi, untuk menegaskan bahwa mereka bukan bagian dari komunitas Yahudi. Dengan demikian, secara politis Roma mulai memandang Yahudi dan Kristen sebagai dua entitas yang berbeda.
Faktor Sosial
Di dalam Yudaisme, identitas terutama ditentukan oleh kelahiran dan etnisitas. Seseorang dianggap Yahudi karena lahir sebagai Yahudi.
Sebaliknya, komunitas pengikut Yesus semakin membuka diri terhadap bangsa-bangsa lain. Orang-orang non-Yahudi diterima sebagai anggota penuh umat Allah tanpa harus terlebih dahulu menjadi Yahudi. Perubahan mendasar mengenai siapa yang termasuk umat Allah ini menjadi salah satu faktor sosial paling penting dalam proses pemisahan.
Faktor Teologis
Perbedaan teologis juga semakin tajam. Paulus menegaskan bahwa Allah tidak memihak kepada satu etnis tertentu. Baik Yahudi maupun bukan Yahudi dapat dibenarkan oleh Allah melalui iman kepada Yesus Kristus. Pemahaman ini menggeser batas-batas tradisional yang selama ini mendefinisikan umat Allah berdasarkan identitas etnis.
Faktor Pneumatologis
Konsep tentang Roh Kudus turut memainkan peran penting. Dalam tradisi Yahudi, Roh Allah terutama dipahami sebagai karunia bagi umat perjanjian. Namun dalam Kisah Para Rasul dan surat-surat Paulus, Roh Kudus digambarkan bekerja juga di tengah orang-orang non-Yahudi. Kehadiran Roh pada bangsa-bangsa lain dipahami sebagai tanda bahwa mereka pun diterima Allah.
Faktor Kristologis
Faktor yang paling sensitif adalah persoalan Yesus sendiri. Perjanjian Baru menampilkan Yesus bukan hanya sebagai nabi atau guru, tetapi sebagai Mesias dan Tuhan yang memiliki relasi unik dengan Allah.
Teks-teks seperti Filipi 2:5-11, Yohanes 10:30, Yohanes 20:28, dan 1 Korintus 8:6 menunjukkan bahwa jemaat Kristen awal memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada Yesus. Dalam ibadah, doa, himne, dan pengakuan iman, Yesus menerima penghormatan yang bagi banyak rabi Yahudi hanya layak diberikan kepada Allah.
Karena monoteisme Yahudi sangat sensitif terhadap segala bentuk penyembahan selain kepada YHWH, penghormatan Kristen kepada Yesus dipandang menyerupai pendewaan kaisar Romawi yang juga ditolak keras oleh para rabi. Tidak mengherankan jika perkembangan kristologi menjadi salah satu faktor yang mempercepat pemisahan antara Yahudi dan Kristen.
Penutup: Sebuah Perpisahan yang Panjang dan Bertahap
Kajian-kajian kontemporer semakin menunjukkan bahwa perpisahan antara Yahudi dan Kristen bukanlah sebuah peristiwa yang terjadi dalam satu hari, satu tahun, atau bahkan satu generasi. Perpisahan itu merupakan proses panjang yang dimulai sejak abad pertama dan baru mencapai bentuk yang relatif jelas pada abad keempat, ketika kekristenan memperoleh dukungan politik dari Kekaisaran Romawi dan Yudaisme rabinik semakin diterima sebagai bentuk normatif Yudaisme.
Dengan demikian, sejarah hubungan Yahudi dan Kristen tidak dapat dipahami sebagai kisah sederhana tentang sebuah agama yang melahirkan agama lain. Lebih tepat jika keduanya dipandang sebagai dua komunitas yang lahir dari akar sejarah yang sama, tumbuh dalam lingkungan yang sama, saling memengaruhi, saling berdebat, dan perlahan-lahan membentuk identitasnya masing-masing.
Kesadaran historis ini penting bukan hanya untuk memahami masa lalu, tetapi juga untuk membangun relasi yang lebih sehat antara Yahudi dan Kristen pada masa kini. Jika keduanya pernah menjadi bagian dari keluarga yang sama, maka sejarah perpisahan mereka tidak seharusnya menjadi alasan untuk memelihara permusuhan, melainkan kesempatan untuk memahami akar bersama yang telah membentuk perjalanan iman keduanya selama berabad-abad.
























