Kesaksian Hidup Margaret Clarkson
Margaret Clarkson baru berusia 23 tahun. Nona cantik ini terikat pada kursi roda. Ia penyandang cacat, sehingga sulit untuk bepergian. Tetapi seandainya ia bisa pesiar sekalipun, ia tidak bisa pergi ke mana-mana. Mau pergi ke mana? Ia tinggal di tempat yang betul-betul terpencil. Bayangkan, ia tinggal dengan orang tuanya di perkampungan kecil dan sepi yang dibangun khusus untuk karyawan pertambangan. Lokasinya di pedalaman Kanada Utara yang hampir tidak berpenduduk. Kota besar terdekat hanya bisa dicapai dengan pesawat terbang. Sungguh terpencil dan jauh ke mana-mana.
Akibatnya, Margaret merasa diri bagaikan orang buangan. Ia merasa sepi. Kadang-kadang kesepiannya terasa begitu mencekam dan menyiksa.
Pada suatu hari Margaret membaca Injil Yohanes 20:21, di mana tertera ucapan Kristus kepada kedua belas rasul, "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
Tiba-tiba timbullah pikiran Margaret untuk menjadi seorang utusan Injil. Ia berpikir: Daripada aku kepalang tanggung terpencil di sini, lebih baik aku sekalian saja pergi ke tempat yang lebih terpencil lagi untuk mengabarkan Injil. Ya, lebih baik aku pergi ke benua yang jauh. Aku bisa masuk seminari teologi. Setelah lulus aku menjadi pemberita Injil. Aku jadi utusan Injil di sana. Ya, aku mau!
Tiap hari Margaret berdoa, "Tuhan, aku ingin mengabdi bagi-Mu. Utuslah aku!" Memang Margaret mudah berambisi. Sekarang ambisinya adalah menjadi utusan Injil ke benua yang jauh. Ia begitu bernafsu membayangkan bahwa di sana nanti ia akan belajar banyak budaya dan bahasa yang menarik.
Tetapi kemudian Margaret menyadari bahwa menjadi utusan Injil tidak selalu berarti harus pergi ke tempat yang jauh. Bukankah di perkampungan ini pun ada orang yang memerlukan penghiburan dan pegangan dari Injil? Ia berpikir: Di tempat ini pun aku bisa menjadi utusan Kristus. Mungkin justru ke sinilah aku diutus oleh Kristus.
Lalu Margaret mengambil pena dan menulis syair yang kemudian menjadi kidung "Kuutus Kau" sebagaimana kita kenal sekarang dalam PKJ 182 dan NKB 210 sebagai berikut:
Kuutus ’kau mengabdi tanpa pamrih,
berkarya t’rus dengan hati teguh,
meski dihina dan menanggung duka,
Kuutus ’kau mengabdi bagi-Ku.
Refr.:
Kar’na Bapa mengutus-Ku,
Kuutus ’kau.
Kuutus ’kau membalut yang terluka,
menolong jiwa sarat berkeluh,
menanggung susah dan derita dunia.
Kuutus ’kau berkorban bagi-Ku.
Kuutus ’kau kepada yang tersisih,
Kar’na hatinya dirundung sendu,
sebatang kara, tanpa handai taulan.
Kuutus ’kau membagi kasih-Ku.
Kuutus ’kau, tinggalkan ambisimu,
padamkanlah segala nafsumu,
namun berkaryalah dengan sesama.
Kuutus ’kau bersatulah teguh.
Kuutus ’kau mencari sesamamu
yang hatinya tegar terbelenggu,
’tuk menyelami karya di Kalvari.
Kuutus ’kau mengiring langkah-Ku.
Nyanyian ini ditulis pada tahun 1938 ketika Perang Dunia menghantui umat manusia. Margaret menulis syairnya dengan cakupan yang luas, yaitu penderitaan kedua belas rasul, para syahid korban kebencian religius, korban Perang Dunia dan lebih luas lagi, yaitu tiap orang yang menderita fisik atau batin yang selalu ada sepanjang zaman. Margaret pun mencatat penderitaan fisik dan batin para utusan Injil sebagai harga yang harus dibayar atau risiko pengabdian mereka.
Penderitaan pada pihak yang dilayani dan pihak yang melayani tampak lebih jelas dalam bahasa aslinya:
So send I you to labor unrewarded,
to serve unpaid, unloved, unsought, unknown,
to bear rebuke, to suffer scorn and scoffing.
So send I you to toil for me alone.
So send I you to hearts made hard by hatred,
to eyes made blind because they will not see,
to spend – tho' it be blood, to spend and spare not.
So send I you to taste of Calvary.
Terjemahan harfiahnya:
Maka Aku mengutus kau berkarya tanpa dihargai,
melayani tanpa dibayar, tanpa dicintai, tanpa diminta, tanpa dikenal,
merasakan omelan, menderita hinaan dan ejekan.
Maka Aku mengutus kau berjerih bagi-Ku saja.
Maka Aku mengutus kau ke hati yang menjadi keras karena benci,
ke mata yang buta karena tidak mau melihat,
untuk membayar — meski dengan darah, membayar dengan tidak kikir.
Maka Aku mengutus kau merasakan Golgota.
Yang menarik dari tulisan Margaret adalah juga pesan kepada dirinya sendiri yang terdapat pada bait keempat. Ia bagaikan menasihati dirinya sendiri dengan ungkapan "tinggalkan ambisimu" dan "padamkanlah segala nafsumu" (to die to dear desire, self-will resign, harfiah: matikan dambaan kesayanganmu, mundurkan kemauanmu sendiri).
Yang dimaksud adalah keinginan Margaret pergi ke benua jauh dengan motivasi "dear desire" dan "self-will". Kemudian agaknya Margaret bermain kata pada kalimat terakhir bait keempat ini yang berbunyi, "So send I you to lose your life in Mine". Meskipun jelas bahwa yang dimaksud dengan Mine adalah pelayanan milik Kristus atau umat milik Kristus, namun agaknya Margaret bermain dengan kata mine yang mempunyai dua arti berbeda, yaitu milikku dan pertambangan. Mungkin Margaret sedang berpesan kepada dirinya sendiri bahwa justru ke pertambangan inilah dia diutus. Mungkin ia menyadari bahwa justru di tempat tinggalnya sendiri ia ditempatkan Kristus sebagai utusan Injil. Menjadi utusan Injil memang tidak usah pergi jauh, di tempat sendiri pun bisa.
Dikutip dari:
Selamat Berteman, Andar Ismail



















