Perdebatan mengenai kedudukan kitab-kitab Deuterokanonika atau Apokrifa telah berlangsung cukup panjang dalam sejarah Kekristenan. Di kalangan Protestan, kitab-kitab ini umumnya ditempatkan di luar kanon Perjanjian Lama dan sering kali diasosiasikan secara khusus dengan tradisi Gereja Katolik. Akibatnya, keberadaan dan manfaatnya bagi kehidupan iman umat Protestan kerap menjadi bahan diskusi dan perbedaan pandangan. Namun demikian, perkembangan kajian sejarah gereja dan biblika mendorong munculnya peninjauan ulang terhadap cara pandang tersebut. Deuterokanonika semakin dipahami bukan semata-mata sebagai warisan satu tradisi gerejawi tertentu, melainkan sebagai bagian dari khazanah sastra dan spiritual yang turut membentuk kehidupan religius umat pada masa antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Dalam konteks tersebut, pengalaman Indonesia menawarkan kontribusi yang menarik. Kehadiran Terjemahan Baru tahun 1974 menjadi tonggak penting dalam sejarah penerjemahan Alkitab karena dipandang sebagai salah satu terjemahan Alkitab oikumenis pertama di dunia. Semangat kerja sama lintas denominasi itu kemudian dilanjutkan melalui penerbitan Alkitab Terjemahan Baru Edisi Kedua (TB2) pada tahun 2023 yang melibatkan para ahli dari berbagai latar belakang gerejawi, baik Protestan maupun Katolik. Meskipun demikian, keberadaan edisi Alkitab yang memuat Deuterokanonika dan edisi yang tidak memuatnya menunjukkan bahwa persoalan mengenai posisi kitab-kitab tersebut masih terus menjadi perbincangan. Padahal, jika ditinjau dari sejarah Reformasi, sejumlah tokoh reformator tidak serta-merta menolak Deuterokanonika, melainkan memandangnya sebagai bacaan yang bernilai dan layak dipelajari. Perspektif inilah yang membuka ruang untuk melihat kembali pentingnya Deuterokanonika sebagai sumber pembelajaran iman, sejarah, dan spiritualitas bagi umat Kristen masa kini.
Mengenal Kitab-Kitab Deuterokanonika
Kitab-kitab Deuterokanonika yang diakui oleh Gereja Katolik meliputi Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Yesus Sirakh, Barukh, 1 Makabe, dan 2 Makabe, ditambah bagian-bagian tambahan dalam kitab Ester dan Daniel. Menurut Pdt. Dr. Christian Gossweiler, salah satu alasan utama mengapa kitab-kitab ini layak dibaca adalah karena mereka mengisi kekosongan sejarah dan spiritual yang tidak ditemukan dalam kanon Perjanjian Lama Protestan.
Kitab 1 dan 2 Makabe, misalnya, memberikan informasi penting mengenai periode antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kitab-kitab tersebut menjelaskan peristiwa setelah penaklukan wilayah Palestina oleh Aleksander Agung pada tahun 332 SM hingga masa penganiayaan bangsa Yahudi oleh Antiokhus Epifanes IV dan perjuangan keluarga Makabe. Dengan demikian, kitab-kitab ini membantu menjembatani kesenjangan sejarah sekitar 300–400 tahun antara akhir Perjanjian Lama dan awal Perjanjian Baru.
Kitab Tobit memberikan gambaran kehidupan orang Israel di pembuangan Asyur, suatu aspek yang hampir tidak disinggung dalam kitab-kitab kanonik. Melalui kisah Tobit, Tobia, dan Sara, pembaca diajak melihat bagaimana penyertaan Allah bekerja dalam kehidupan umat-Nya di tengah diaspora. Kitab Yudit menghadirkan sosok perempuan pemberani yang menjadi alat Tuhan untuk menyelamatkan bangsanya, sementara kitab Barukh melengkapi tradisi Yeremia melalui doa-doa dan refleksi iman pascapembuangan.
Di sisi lain, Yesus Sirakh dan Kebijaksanaan Salomo memperkaya tradisi hikmat Israel. Kedua kitab ini menghadirkan ajaran etis dan kebijaksanaan praktis yang relevan bagi kehidupan umat beriman. Sirakh 3:26, misalnya, memperingatkan bahwa “siapa yang menyukai bahaya akan binasa karenanya,” sedangkan Sirakh 4:21 membedakan antara rasa malu yang membawa dosa dan rasa malu yang menghasilkan kemuliaan. Bagi Gossweiler, nasihat-nasihat seperti ini sangat kontekstual bagi masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kesopanan dan rasa malu dalam kehidupan sosial.
Deuterokanonika dalam Tradisi Gereja Protestan
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa para reformator Protestan menolak Deuterokanonika secara mutlak. Gossweiler menunjukkan bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks. Martin Luther memang menempatkan kitab-kitab tersebut dalam bagian tersendiri dan menyebutnya sebagai Apokrifa, tetapi ia memberikan keterangan bahwa kitab-kitab itu “tidak sama bobotnya dengan Kitab Suci lainnya, namun bermanfaat dan baik untuk dibaca.”
Pandangan serupa juga ditemukan dalam tradisi Reformed. Katekismus Heidelberg, salah satu dokumen teologis paling berpengaruh dalam tradisi Calvinis, bahkan menggunakan Sirakh 3:26 sebagai ayat rujukan ketika menjelaskan perintah keenam, yaitu larangan membunuh. Pengakuan Iman Belanda tahun 1561 juga mengizinkan pembacaan kitab-kitab Apokrifa dan pengambilan pelajaran darinya sejauh isinya selaras dengan kitab-kitab kanonik.
Meskipun Pengakuan Iman Westminster menyatakan bahwa kitab-kitab Apokrifa tidak termasuk dalam kanon Alkitab, Gossweiler menegaskan bahwa rumusan tersebut tidak serta-merta melarang pembacaannya. Kitab-kitab itu tetap dapat diperlakukan sebagai tulisan rohani yang berguna sebagaimana berbagai karya Kristen lainnya.
Fakta sejarah menunjukkan bahwa hampir semua Alkitab Protestan awal memuat Deuterokanonika. Alkitab Luther (1545), Alkitab Froschauer di Zürich, Statenvertaling Belanda (1637), bahkan King James Version (1611) semuanya menerbitkan Deuterokanonika dalam bagian tersendiri. Karena itu, pemisahan total antara Alkitab Protestan dan Deuterokanonika sebenarnya merupakan perkembangan yang muncul belakangan.
Konflik Alkitab dan Hilangnya Deuterokanonika
Menurut Gossweiler, salah satu penyebab utama hilangnya Deuterokanonika dari banyak Alkitab Protestan modern adalah faktor historis dan ekonomis. Pada tahun 1804, berdirilah British and Foreign Bible Society yang memiliki visi menyediakan Alkitab murah bagi kaum miskin. Untuk menekan biaya produksi, mereka memilih menerbitkan Alkitab tanpa Deuterokanonika sehingga jumlah halaman berkurang sekitar seperempat.
Keputusan ini kemudian diperkuat oleh alasan teologis dan polemik dengan Gereja Katolik. Karena Deuterokanonika dipakai oleh Gereja Katolik dan beberapa doktrin Katolik, seperti api penyucian, dikaitkan dengan 2 Makabe 12, kitab-kitab tersebut semakin dicurigai oleh sebagian kalangan Protestan. Namun, sikap ini ditentang oleh lembaga-lembaga Alkitab di Jerman, terutama Württemberg Bible Society, yang tetap mempertahankan prinsip Martin Luther bahwa Apokrifa adalah bacaan yang bermanfaat bagi umat Kristen.
Menariknya, pada abad ke-21 muncul kebangkitan kembali minat terhadap Deuterokanonika. Edisi Yubileum 500 Tahun Reformasi dari Alkitab Luther yang terbit tahun 2017 kembali memuat Apokrifa dengan terjemahan yang diperbarui. Alkitab Zürich juga menerbitkan edisi yang memuat Deuterokanonika. Fenomena ini menunjukkan adanya kesadaran baru bahwa kitab-kitab tersebut merupakan bagian penting dari warisan sejarah Kekristenan.
Apakah Deuterokanonika Mengandung Dogma Katolik?
Keberatan yang paling sering diajukan terhadap Deuterokanonika adalah bahwa kitab-kitab tersebut menjadi dasar bagi sejumlah dogma Katolik, khususnya mengenai api penyucian. Gossweiler mengakui bahwa 2 Makabe 12:39-45 memang memuat praktik doa bagi orang mati dan pernah digunakan oleh Konsili Trente sebagai salah satu dasar teologis bagi doktrin tersebut.
Namun, ia menilai bahwa keberadaan suatu teks tidak otomatis mengharuskan pembaca menerima seluruh doktrin yang dibangun di atasnya. Bahkan, gagasan mengenai pemurnian setelah kematian juga dapat ditemukan dalam 1 Korintus 3:13-15, ketika Rasul Paulus berbicara tentang manusia yang diselamatkan “seperti dari dalam api.” Oleh sebab itu, seseorang dapat membaca Deuterokanonika tanpa harus menerima doktrin api penyucian, sebagaimana seseorang dapat menafsirkan teks Perjanjian Baru secara berbeda dari tafsiran Katolik.
Lebih jauh lagi, Gereja Katolik sendiri telah mengembangkan pemahaman yang lebih hati-hati mengenai api penyucian. Praktik penjualan surat penghapusan dosa yang dahulu memicu Reformasi telah dilarang sejak tahun 1570. Karena itu, mengidentikkan seluruh Deuterokanonika dengan dogma Katolik tertentu merupakan penyederhanaan yang kurang tepat.
Deuterokanonika di Indonesia: Sebuah Warisan Oikumenis
Sejarah Deuterokanonika di Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Terjemahan Injil Matius oleh A.C. Ruyl pada tahun 1629 bahkan sempat memuat Mazmur 151 sebagai tambahan. Namun, dalam berbagai terjemahan Alkitab berikutnya, termasuk Alkitab Leijdecker (1731) dan Alkitab Klinkert (1879), Deuterokanonika tidak dimasukkan.
Perubahan besar terjadi setelah Konsili Vatikan II yang mendorong kerja sama lintas denominasi dalam penerjemahan Alkitab. Di Indonesia, kerja sama antara Lembaga Alkitab Indonesia dan tim Katolik yang dipimpin Romo Cletus Groenen menghasilkan Terjemahan Baru yang terbit pada tahun 1974. Menurut Gossweiler, inilah terjemahan Alkitab oikumenis pertama di dunia. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru diterima dari tim LAI, sedangkan terjemahan Deuterokanonika diambil dari hasil kerja tim Katolik. Hasilnya adalah sebuah Alkitab bersama yang menjadi simbol persatuan umat Kristen Indonesia.
Penutup
Kajian historis terhadap tradisi Reformasi menunjukkan bahwa Deuterokanonika menempati posisi yang unik dalam Kekristenan Protestan. Walaupun tidak diakui sebagai bagian dari kanon yang setara dengan kitab-kitab Perjanjian Lama, kitab-kitab tersebut tetap dipandang memiliki nilai teologis dan spiritual yang signifikan. Oleh sebab itu, pembacaannya dapat menjadi sarana yang bermanfaat bagi pembinaan iman, pendalaman kehidupan rohani, serta perluasan wawasan teologis umat Kristen.
Selain memberikan kontribusi penting bagi pemahaman sejarah antara masa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Deuterokanonika juga memperkaya pemahaman mengenai perkembangan iman umat Israel, menghadirkan berbagai ajaran hikmat yang relevan, serta membantu pembaca memahami konteks sosial dan religius yang melatarbelakangi pelayanan Yesus dan gereja mula-mula. Dengan demikian, kitab-kitab ini tidak semestinya dipandang sebagai milik eksklusif satu tradisi gerejawi, melainkan sebagai bagian dari warisan intelektual dan spiritual yang turut membentuk sejarah Kekristenan.
Dalam konteks kehidupan gereja masa kini, Deuterokanonika layak dipahami bukan sekadar sebagai bagian tambahan dalam Alkitab, tetapi juga sebagai sumber refleksi yang dapat memperkaya pembacaan Kitab Suci. Karena itu, umat Kristen baiknya tidak hanya mengenal keberadaan kitab-kitab tersebut, melainkan juga membacanya secara kritis dan reflektif. Melalui cara demikian, warisan iman yang telah dihargai sejak masa gereja perdana dan tetap diakui manfaatnya oleh banyak tokoh Reformasi dapat terus memberi kontribusi bagi pertumbuhan iman dan kehidupan rohani umat Kristen pada masa kini.
























