Orang sering menyebut nama H.A. Pandopo. Tertulis sebagai pengarang banyak lagu pujian jemaat di buku nyanyian: Kidung Jemaat(KJ), Nyanyikanlah Kidung Baru (NKB) atau Kidung Keesaan (KK). Siapakah dia? Dari namanya, banyak orang mengira beliau orang Jawa. Ternyata bukan.
Pdt. Em. Hermanus Arie van Dop, atau yang dikenal dengan nama pena H. A. Pandopo, merupakan pendeta, teolog, dan maestro musik gerejawi asal Belanda yang mendedikasikan lebih dari 40 tahun hidupnya bagi perkembangan liturgi dan kidung jemaat di Indonesia. Lahir pada tahun 1935 dan berpulang pada tahun 2026, beliau merupakan salah satu arsitek di balik penyusunan buku nyanyian lintas denominasi (oikumene), seperti: Kidung Jemaat, Pelengkap Kidung Jemaat, hingga yang terakhir Kidung Keesaan.
Melalui ketelitian akademis dan kecintaan pada budaya lokal, van Dop berhasil memadukan khazanah musik Barat dengan napas kultural Indonesia. Dedikasinya tidak hanya terbatas pada penciptaan dan penerjemahan ribuan lagu gerejawi, tetapi merambah ke dunia pendidikan teologi serta pelestarian tradisi himnologi, menjadikannya sosok "Bapak Mazmur Indonesia", yang jasanya terus bergema lintas generasi.
Masa Awal Kehidupan
Hermanus Arie van Dop lahir pada 28 Mei 1935 di Belanda. Sedari kanak-kanak van Dop telah menunjukkan ketertarikan yang kuat pada musik gereja, khususnya nyanyian jemaat beserta instrumen pengiringnya. Ketika menginjak usia belasan tahun, minat musikalnya meluas. Ia tertarik untuk mengenal bentuk-bentuk musik dan nyanyian yang bernuansa etnis. Seiring berjalannya waktu, perhatiannya terhadap aspek liturgi gerejawi juga bertambah, menanamkan fondasi kuat bagi keahliannya sebagai seorang himnolog masa depan.
Pendidikan dan Pembentukan Karakter
Untuk mempersiapkan panggilan pelayanannya, van Dop menempuh pendidikan teologi formal. Setelah itu, ia mendalami ilmu etnomusikologi dan misiologi di Sekolah Tinggi Misiologi di Oegstgeest (Zendingshogeschool Oegstgeest), Belanda. Ketertarikannya pada Indonesia terpupuk sejak dini, bahkan ia menulis skripsi yang membedah musik daerah Bugis-Makassar berdasarkan literatur di perpustakaan almamaternya.
Di perpustakaan itu pula, van Dop muda bertemu dengan Pendeta I.S. Kijne, penyusun buku Mazmur & Nyanyian Rohani. Pertemuan ini memicu daya kritis van Dop. Suatu hari, van Dop bertanya mengapa belum terdapat nyanyian bernapaskan budaya asli Indonesia di dalam buku tersebut. Pertanyaan kritis ini direspons dengan kurang senang oleh Pdt. Kijne. Meskipun mendapatkan reaksi dingin, van Dop tidak kecewa. Ia baru memahami kerumitan alasan di balik sikap Kijne beberapa tahun kemudian, saat ia sendiri terjun langsung dalam penyusunan buku nyanyian di Indonesia.
Karakter unik van Dop sebagai pribadi yang menyatu dengan musik terekam jelas dalam ingatan rekannya, Andar Ismail, saat menempuh pendidikan bersama Hendrik Kraemer Instituut di Leiden, Belanda pada 1965. Di asrama van Dop menempati kamar yang berseberangan dengan kamar Andar.
“Setiap kali berjalan bersama menuju ruang makan tiga kali sehari, van Dop selalu berjalan dengan raut wajah dan seluruh anggota tubuh yang bergerak-gerak secara ritmik,”kenang Andar. ”Tubuhnya bergerak hidup seolah menikmati komposisi musik yang megah di kepalanya, padahal suasana sekitar sangat hening,”lanjutnya.
Bagi orang-orang di sekitarnya, van Dop adalah seorang "makhluk suluk"—pribadi yang seluruh kalbu, nurani, sukma, dan tubuhnya menyatu sepenuhnya dengan lagu, irama, dan musik.
Perjalanan Pelayanan dan Karier
Perjalanan pelayanan van Dop di Indonesia dimulai pada tahun 1967, ketika ia diutus sebagai zendingspredikant (pendeta misionaris) ke Sulawesi Selatan. Wilayah pelayanan misinya meliputi Malino dan Makassar. Di sana, pengetahuan etnomusikologinya berkembang pesat melalui penjelajahan langsung ke wilayah Gowa, Soppeng, hingga Pulau Selayar untuk meneliti musik daerah dan bergaul dengan masyarakat.
Saat melayani di Sulawesi Selatan itulah ia mengingat kembali buku karya Kijne, Mazmur dan Nyanyian Rohani, yang banyak dipergunakan gereja-gereja arus utama sebagai nyanyian ibadah. Van Dop menemukan bahwa Kijne sengaja tidak mencantumkan nama penulis lirik dan pengarang lagu asli, agar asal-usul Barat dari lagu-lagu tersebut tidak langsung kentara bagi jemaat lokal. Maka van Dop pun memulai proyek literature historisnya, ia mulai tergerak untuk menyusun daftar lengkap nama para penggubah asli tersebut demi kepentingan edukasi sejarah teologi oikumene di Indonesia.
Dalam pencarian ini, ia mendapat bantuan dari Pdt. Mathindas di Makassar yang memberikannya dua jilid tebal kumpulan nyanyian asli karangan Pendeta H. Hasper. Buku berbahasa Belanda ini memuat 400 nyanyian rohani dengan catatan himnologis lengkap, termasuk nama asli pengarang yang tersembunyi. Penemuan ini menjadi modal utamanya untuk melacak sumber kitab nyanyian gereja dari berbagai negara Eropa dan Amerika Serikat.
Pada tahun 1972, van Dop pindah tugas ke Jakarta setelah diangkat menjadi Dosen Teologi, Liturgi, dan Musik Gereja di Sekolah Tinggi Filsafat Jakarta (STFT Jakarta). Bersamaan dengan perannya sebagai dosen, ia juga menjadi salah satu tokoh pendiri dan penggerak utama di Yayasan Musik Gereja (Yamuger). Selama di Jakarta, kantor Yamuger di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, menjadi tempat kerja dan sekaligus kediamannya sehari-hari.
Di Yamuger, van Dop membangun kolaborasi erat dengan para sahabat dekatnya sesama penulis musik gereja, seperti M. Karatem dan Soebronto K. Atmodjo—seorang komponis berbakat yang pernah ditahan di Pulau Buru. Kebersamaan oikumenis ini berjalan terus hingga ia memasuki masa emeritus sebagai pendeta pada tahun 1997. Kendati telah pensiun dan berstatus dosen purnabakti, aktivitas pelayanannya di bidang musik tidak pernah memudar.
Kontribusi dan Dampak
Kontribusi nyata van Dop selama 40 tahun berkarya di Indonesia sangat masif. Bersama rekan-rekan dari berbagai etnik di Nusantara, ia menciptakan, menggubah, dan menerjemahkan ribuan nyanyian gereja lintas denominasi. Beliau bertindak sebagai salah satu arsitek utama di balik penyusunan buku Kidung Jemaat (KJ), Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ), dan Kidung Keesaan.
Dampaknya juga meluas ke ranah teologis oikumene historis melalui kegigihannya mempertahankan tradisi nyanyian Mazmur Jenewa di Indonesia sebagai akar sejarah oikumene. Atas dedikasinya, sebuah majalah rohani nasional menyematkan julukan terhormat sebagai "Bapak Mazmur Indonesia".
Di luar bidang musik, ketelitian akademis van Dop terwujud saat ia menerjemahkan buku ilmiah-teologis Ajaran Evolusi dan Iman Kristen karya Pdt. C. Petri pada tahun 1987. Demi memastikan ketepatan istilah ilmiah, ia secara khusus meminta bantuan dari Tuan B. Galstaun, direktur Kebun Binatang Ragunan, untuk menyelaraskan istilah zoologis ke dalam bahasa Indonesia yang baku. Kerja sama ini dicatat dengan penuh rasa hormat oleh Pdt. C. Petri dalam prakata edisi kedua bukunya.
Tantangan dan Pergumulan
Dalam membangun literasi musik umat kristiani di Indonesia, van Dop kerap prihatin melihat kelemahan mendasar warga jemaat dan pendeta di Indonesia. Banyak umat dan pendeta tidak mampu membaca notasi musik, sehingga lagu-lagu bermutu tinggi jarang dinyanyikan secara benar atau bahkan diabaikan. Contohnya adalah buku Nyanyikanlah Kidung Baru (NKB); meskipun memiliki bobot teologi dan sastra luar biasa, banyak lagunya membisu dan jarang dipakai dalam peribadahan karena pendetanya tidak bisa memberi contoh menyanyikannya. Ambil contoh lagu bercorak Afrika pada NKB 72. Sebagai solusi, van Dop terus mendorong kehadiran seorang prokantor (pemimpin nyanyian) di setiap jemaat untuk melatih umat bernyanyi dengan baik dan benar.
Tak banyak yang tahu, kunci dari seluruh perbendaharaan data pengetahuan himnologi abad ke-19 yang digunakan van Dop ternyata tidak berasal dari perpustakaan mewah, melainkan dari pasar loak dan acara obralan buku Gunung Agung di Jakarta. Di sana, ia menyelamatkan dua jilid tebal buku super langka berjudul Dictionary of Hymnology karangan John Julian setebal 1.768 halaman dengan harga murah. Buku loak inilah yang menjadi salah satu pilar referensi akademisnya di Indonesia.
Dalam proses seleksi dan penyusunan naskah buku nyanyian umat, Pak van Dop dikenal akan komitmennya yang teguh terhadap kemurnian teologi teks lagu. Hal ini kerap melahirkan ketegangan yang unik di ruang rapat Yamuger. Ketika berhadapan dengan kiriman lagu baru dari para pencipta lagu lokal, Pak van Dop dikenal sangat ketat, detail, dan tanpa kompromi. Sahabat-sahabatnya di Yamuger kerap berkelakar mengenai ketelitian teologisnya yang luar biasa ekstrem. Pdt. Yoel Indrasmoro, mantan murid sekaligus rekan sepelayannya, menggunakan istilah bahasa Jawa untuk menggambarkan ketajaman teologis Pak van Dop. Ia waskita (bijak, berpandangan luas) dan weruh sakdurunge winarah (sudah tahu sebelum hal itu benar-benar terjadi).
Ketelitian Pak van Dop begitu tajam dalam mendeteksi dan mengoreksi kesalahan dogmatis atau cacat teologis dalam lirik sebuah lagu. Bahkan, sebelum kesalahan atau kejadian di dalam lirik lagu itu sempat dituliskan atau digubah sepenuhnya oleh sang pencipta lagu. Ketegasan yang visioner inilah yang menjaga mutu Kidung Jemaat tetap kokoh secara makna teologis. Sikap teliti dan teguh hati inilah yang diteruskan oleh para penerusnya di Yamuger hingga sekarang.
Warisan dan Pengaruh
Pak van Dop meninggalkan warisan abadi berupa manuskrip-manuskrip nyanyian Mazmur dan Kidung Jemaat yang ditulis tangan secara rapi dan presisi. Di mata para murid dan kolega akademisnya, seperti Pdt. Prof. Joas Adiprasetya, Pak van Dop dikenang sebagai "empu himne Indonesia" yang mewariskan harmoni iman yang tak ternilai bagi gereja-gereja di Indonesia.
Pada masa senjanya, Pdt. van Dop menghabiskan hari tuanya di sebuah apartemen di Amersfoort, Belanda. Pada perayaan syukur ulang tahunnya yang ke-90, ruang ibadah GPIB Paulus di Jakarta terhubung melalui jembatan virtual langsung ke kediamannya. Dalam momentum tersebut, beliau tidak membicarakan karya monumental miliknya, melainkan menunjukkan keramahan yang tulus tanpa sekat. Beliau terharu melihat para sahabat, menanyakan kabar, memikirkan kelangkaan teknisi orgel di Indonesia, hingga menanyakan di mana bisa mendapatkan nangka muda di Belanda untuk membuat Gudeg Jogja asli.
Pada 31 Mei 2026, sang arsitek kidung pujian mengembuskan napas terakhir dalam usia 91 tahun. Pdt. Hermanus Arie van Dop adalah sosok dari Eropa yang datang ke nusantara bukan dengan keangkuhan budaya. Ia datang sebagai sahabat dan jembatan, agar musik dan budaya nusantara yang mewarnai ruang pujian jemaat, mengajar gereja untuk menghidupi kemanusiaan dan persahabatan yang melintasi jarak masa dan budaya. (perlando).
























