HAGAR: SEORANG BUDAK YANG DIPERSUNTING

Artikel | 11 Jun 2026

HAGAR: SEORANG BUDAK YANG DIPERSUNTING


Seminar Alkitab | Pdt. Ira. D. Mangililo, Ph. D.

Bagi banyak orang Kristen, kisah Abraham dan Sara merupakan narasi yang sangat akrab, karena telah diperkenalkan sejak masa kanak-kanak. Namun, berbeda dengan Abraham dan Sara yang sering menjadi pusat perhatian, kisah Hagar kerap berada di pinggiran pembacaan Alkitab. Padahal Hagar merupakan tokoh penting dalam narasi keluarga Abraham. Ia adalah budak perempuan Mesir milik Sara yang kemudian melahirkan Ismael, anak pertama Abraham, atas permintaan Sara sendiri. Kisah ini bukan sekadar cerita tentang konflik keluarga, melainkan sebuah potret kompleks mengenai kuasa, perbudakan, patriarki, penderitaan perempuan, dan karya Allah yang hadir bagi mereka yang terpinggirkan.

 

Hagar dalam Dua Tradisi Naratif

Kisah Hagar terutama ditemukan dalam Kejadian 16:1-16 dan Kejadian 21:8-21. Dalam kajian Perjanjian Lama, kedua teks ini sering dibahas melalui pendekatan kritik sumber. Para ahli berpendapat bahwa kedua narasi tersebut berasal dari tradisi yang berbeda. Kejadian 16 dianggap berasal dari sumber Yahwis karena menggunakan nama Yahweh untuk Allah, sedangkan Kejadian 21 dikaitkan dengan sumber Elohis karena menggunakan istilah Elohim.

 

Perbedaan kedua kisah ini terlihat jelas dalam penggambaran Hagar. Dalam Kejadian 16, Hagar disebut sebagai shiphah, yaitu budak perempuan milik Sarai. Ia melarikan diri atas inisiatifnya sendiri karena mengalami penindasan. Sebaliknya, dalam Kejadian 21 ia disebut sebagai amah, budak perempuan Abraham, dan pergi ke padang gurun karena diusir oleh Abraham atas permintaan Sara. Para ahli juga melihat adanya peran tradisi Imam (Priestly Source) yang menghubungkan kedua cerita ini melalui kisah Ismael, perjanjian sunat, dan janji Allah mengenai masa depan keturunannya.

 

Meskipun terdapat indikasi bahwa kedua kisah berasal dari sumber yang berbeda, bentuk final kitab Kejadian menghadirkan keduanya sebagai satu kesatuan naratif. Karena itu, kisah Hagar dapat dibaca sebagai perjalanan hidup seorang perempuan yang mengalami eksploitasi, pembuangan, sekaligus pemeliharaan ilahi.

 

Sara, Kemandulan, dan Pencarian Keturunan

Narasi dimulai dengan kenyataan bahwa Sara tidak dapat melahirkan anak bagi Abraham. Dalam budaya Timur Dekat Kuno, ketidakmampuan melahirkan keturunan merupakan persoalan serius, karena berkaitan dengan keberlanjutan keluarga, warisan, dan status sosial. Sara memahami kondisi tersebut sebagai tindakan Allah yang “menutup rahimnya”. Dengan demikian, ia menempatkan penyebab kemandulannya di luar dirinya sendiri.

 

Namun, alih-alih menantikan tindakan Allah, Sara mengambil langkah yang tersedia dalam budaya zamannya. Berdasarkan hukum Hammurabi, seorang perempuan yang mandul dapat memberikan budaknya kepada suaminya untuk memperoleh keturunan. Budak tersebut berfungsi sebagai ibu pengganti (surrogate mother). Karena itu, Sara menyerahkan Hagar kepada Abraham dengan harapan bahwa dirinya akan “dibangun” melalui Hagar. Dalam bahasa Ibrani digunakan ungkapan ibbaneh immennah, yang berarti “aku dibangun melaluinya”.

 

Menurut kajian yang dikutip Mangililo, termasuk pandangan Philip Drey, keinginan Sara memiliki keturunan bukan semata-mata untuk memenuhi janji Allah kepada Abraham. Sara juga memiliki kepentingan ekonomi dan sosial, khususnya berkaitan dengan warisan yang berasal dari harta dan mas kawin yang dibawanya dalam perkawinan. Dengan demikian, persoalan keturunan tidak hanya menyangkut teologi perjanjian, tetapi juga masa depan identitas dan kepemilikan Sara sendiri.

 

Hagar sebagai Tubuh yang Diobjektifikasi

Salah satu aspek paling penting dalam kisah ini adalah bagaimana Hagar diperlakukan sebagai objek. Sara mengatur seluruh proses reproduksi tersebut: ia menyerahkan Hagar kepada Abraham, mengontrol relasi mereka, dan menentukan nasib anak yang akan lahir. Tindakan Sara terhadap Hagar memiliki kemiripan dengan tindakan Abraham terhadap Sara ketika mereka berada di Mesir. Dalam kedua kasus ini, tubuh perempuan digunakan untuk memenuhi kepentingan pihak lain. Sara pernah menjadi objek demi keuntungan Abraham; kini Hagar menjadi objek demi kepentingan Sara.

 

Narator menggambarkan Hagar sebagai pribadi yang dipindahkan dari satu pemilik kepada pemilik lain. Ia hanya dihargai sejauh tubuhnya dapat menghasilkan keturunan. Namun ketika ia menunjukkan kemanusiaannya melalui sikap, ekspresi, atau perasaannya sendiri, ia segera dianggap sebagai ancaman. Di sinilah muncul konflik antara Sara dan Hagar. Setelah Hagar mengandung, Sara merasa dirinya dipandang rendah oleh budaknya itu. Namun teks tidak pernah menjelaskan secara eksplisit apa yang sebenarnya dipikirkan Hagar. Sara menafsirkan sendiri sikap Hagar dan kemudian bereaksi berdasarkan asumsi tersebut.

 

Penafsir seperti Wilma Bailey berpendapat bahwa Hagar mungkin merasa harga dirinya meningkat karena berhasil mengandung. Namun Grimes menawarkan pembacaan yang berbeda. Menurutnya, Hagar mungkin mengalami kemarahan dan ketidakpastian karena tubuhnya telah digunakan sebagai alat. Anak yang dikandungnya tidak akan menjadi miliknya, sementara dirinya sendiri kehilangan hak untuk menentukan masa depannya. Renita Weems bahkan melihat bahwa penghinaan yang dirasakan Sara bisa jadi merupakan proyeksi dari penghinaan yang selama ini ia arahkan kepada dirinya sendiri akibat kemandulan. Dengan kata lain, konflik antara kedua perempuan ini bukan hanya konflik personal, melainkan cerminan luka yang dihasilkan oleh sistem patriarki.

 

Dua Perempuan yang Sama-Sama Terluka

Baik Sara maupun Hagar, keduanya adalah perempuan yang hidup di bawah tekanan budaya patriarki yang sama. Sara menderita karena identitasnya ditentukan oleh kemampuannya melahirkan anak. Ia merasa gagal, ditinggalkan Allah, dan kehilangan harga dirinya. Sedangkan Hagar menderita karena tubuhnya digunakan sebagai alat reproduksi. Harapannya untuk memperoleh status yang lebih baik melalui kehamilan ternyata tidak terwujud. Kedua perempuan ini berusaha mencari jalan keluar melalui mekanisme budaya yang tersedia, namun keduanya gagal. Mereka akhirnya saling menyakiti karena tidak memiliki ruang yang aman untuk mengekspresikan kemarahan mereka terhadap sistem yang menindas.

 

Dalam masyarakat patriarki, kemarahan perempuan terhadap struktur yang menindas sering kali tidak diterima. Yang diperbolehkan hanyalah kemarahan perempuan terhadap perempuan lain. Karena itu, konflik antara Sara dan Hagar dapat dipahami sebagai bentuk pelampiasan luka yang lebih dalam.

 

Allah yang Mendengar dan Melihat Hagar

Ketika Sara menindas Hagar menggunakan kekuasaan yang diberikan Abraham, Hagar memilih melarikan diri ke padang gurun. Kata Ibrani yang digunakan untuk menggambarkan penindasan tersebut adalah anah, istilah yang juga digunakan untuk menggambarkan penindasan bangsa Mesir terhadap Israel.

 

Di padang gurun Hagar bertemu dengan malaikat Tuhan. Pertemuan ini menjadi titik balik penting karena untuk pertama kalinya Hagar tampil sebagai subjek dalam rencana Allah. Sebelumnya ia hanya dikenal sebagai budak, tetapi kini Allah berbicara langsung kepadanya. Meskipun perintah malaikat agar Hagar kembali kepada Sara menimbulkan banyak perdebatan, narasi ini juga memuat janji yang luar biasa. Allah menjamin masa depan Ismael dan menjadikan Hagar bagian dari karya penyelamatan-Nya. Nama Ismael sendiri berarti “Allah mendengar”, sebuah pengakuan bahwa jeritan Hagar tidak luput dari perhatian Tuhan.

 

Lebih jauh lagi, Hagar menjadi tokoh pertama dalam Alkitab yang memberi nama kepada Allah, yaitu El-Roi, “Allah yang melihat aku”. Pengakuan ini menunjukkan pengalaman iman yang sangat mendalam: Allah bukan hanya mendengar penderitaannya, tetapi juga melihat dirinya sebagai manusia yang bernilai.

 

Padang Gurun sebagai Ruang Pembebasan

Dalam Kejadian 21, Hagar kembali mengalami pembuangan bersama Ismael. Mereka dikirim ke padang gurun dengan bekal yang tidak memadai. Namun justru di tempat yang tampak kosong dan tanpa harapan itu Allah membuka mata Hagar untuk melihat sumber air. Disini air menjadi simbol masa depan, pemulihan, dan kebebasan.

 

Padang gurun sendiri memiliki makna spiritual yang mendalam. Dalam tradisi Israel, padang gurun adalah tempat pergumulan, pembentukan identitas, dan pembebasan. Mengutip pemikir feminis Bell Hooks, Mangililo menggambarkan padang gurun sebagai ruang untuk mengumumkan kemerdekaan dan kreativitas. Di sanalah seseorang melepaskan belenggu masa lalu dan menemukan dirinya yang baru. Bagi Hagar, padang gurun bukan tempat kematian, melainkan tempat kelahiran kembali. Di sana ia memperoleh kebebasan untuk menentukan masa depannya sendiri dan bahkan memilih istri bagi Ismael tanpa campur tangan pihak lain.

 

Hagar dan Perbudakan Modern

Mangililo kemudian membawa kisah Hagar ke dalam konteks Indonesia kontemporer, khususnya pengalaman masyarakat di Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, Hagar masih hadir dalam wajah perempuan-perempuan yang menjadi korban perdagangan orang dan eksploitasi tenaga kerja migran.

 

Kemiskinan, kurangnya pendidikan, minimnya lapangan pekerjaan, ketidakadilan gender, serta lemahnya perlindungan sosial menjadi faktor pendorong utama perdagangan manusia. Di sisi lain, globalisasi, kebutuhan akan tenaga kerja murah, media sosial, dan sistem ekonomi kapitalistik menjadi faktor penarik yang memperkuat praktik tersebut.

 

Kisah-kisah seperti yang dialami Nirmala Bonat, Adelina Lisao, dan Wifrina Soik memperlihatkan bahwa relasi antara majikan dan pekerja rumah tangga sering kali masih diwarnai kekerasan, penghinaan, dan dehumanisasi. Dalam banyak hal, pengalaman mereka mengingatkan pada pengalaman Hagar yang tubuh dan hidupnya dikendalikan oleh orang lain. Dengan demikian, Hagar bukan sekadar tokoh masa lalu. Ia hadir dalam diri para perempuan yang kehilangan kebebasan, identitas, dan hak untuk menentukan hidup mereka sendiri.

 

Penutup

Kisah Hagar dan Sara mengajarkan bahwa patriarki tidak hanya menghasilkan korban, tetapi juga menciptakan relasi yang membuat perempuan saling menyakiti. Karena itu, pembebasan tidak cukup dilakukan pada tingkat individual. Diperlukan transformasi budaya yang memungkinkan relasi yang lebih adil dan setara.

 

Dari Hagar, gereja belajar tentang keberanian untuk mencari suara sendiri, keluar dari penindasan, dan menemukan sumber kehidupan yang disediakan Allah. Dari Sara, gereja belajar bahwa mereka yang memiliki privilese dipanggil untuk menggunakan posisi mereka demi memperjuangkan keadilan bersama, bukan mempertahankan dominasi.

 

Pada akhirnya, kisah ini menghadirkan Allah yang berpihak kepada mereka yang terpinggirkan. Allah yang mendengar jeritan Hagar tetap hadir dalam jeritan para korban ketidakadilan masa kini. Ia adalah El-Roi, Allah yang melihat, dan Ismael, Allah yang mendengar. Karena itu, gereja dipanggil bukan sekadar berbicara tentang Hagar, melainkan berjalan bersama para Hagar zaman ini menuju ruang pembebasan, pemulihan, dan kemerdekaan yang sejati.

 

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia