Bincang Alkitab | Hortensius Mandaru, SSL
Krisis lingkungan global telah menjadi salah satu persoalan besar yang dihadapi umat manusia pada abad ini. Pemanasan global, deforestasi, pencemaran, hilangnya keanekaragaman hayati, dan berbagai bentuk kerusakan ekologis menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai relasi manusia dengan alam. Dalam konteks ini, agama dan kitab suci tidak luput dari sorotan. Salah satu kritik yang sering diajukan adalah bahwa tradisi Kristiani, khususnya melalui pembacaan atas Kejadian 1:28, telah memberikan legitimasi teologis bagi dominasi dan eksploitasi manusia terhadap alam. Kritik tersebut menjadi semakin kuat sejak publikasi artikel Lynn White Jr. berjudul The Historical Roots of Our Ecological Crisis (1967), yang menuduh bahwa pandangan dunia Kristen turut berkontribusi terhadap lahirnya krisis ekologis modern.
Pertanyaannya, apakah perintah “taklukkanlah bumi” dan “berkuasalah atas” ciptaan lain benar-benar merupakan mandat ilahi untuk mengeksploitasi alam? Ataukah justru terjadi kesalahan dalam penafsiran yang membuat Alkitab tampak mendukung praktik-praktik yang merusak lingkungan?
Krisis Ekologi dan Tantangan Zaman Antroposen
Perhatian terhadap isu lingkungan tidak dapat dilepaskan dari perubahan besar yang terjadi sejak revolusi industri. Para ekolog berbicara mengenai pergeseran dari era Holosen menuju Antroposen, yaitu zaman ketika aktivitas manusia menjadi faktor dominan yang memengaruhi sistem bumi. Manusia tidak lagi dipandang sekadar sebagai salah satu organisme biologis, melainkan telah menjadi kekuatan geologis yang menentukan keberlangsungan spesies lain dan keseimbangan ekosistem. Dalam situasi ini, ekologi berkembang menjadi bidang kajian yang bersifat lintas disiplin, memengaruhi etika, politik, filsafat, studi Alkitab, bahkan teori penerjemahan.
Kesadaran yang semakin menguat saat ini adalah bahwa bumi merupakan rumah bersama bagi seluruh makhluk hidup. Karena itu, pertanyaan mengenai peran Alkitab menjadi sangat penting. Jika Alkitab memang dipahami sebagai sumber nilai dan etika bagi jutaan orang beriman, maka cara menafsirkan teks-teksnya akan berpengaruh langsung terhadap cara manusia memperlakukan alam.
Kejadian 1:28 dan Tuduhan terhadap Alkitab
Teks yang paling sering menjadi pusat perdebatan adalah Kejadian 1:28, “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah. Penuhilah dan taklukkanlah bumi. Berkuasalah atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, dan atas segala binatang melata di bumi.” Ayat ini sering dibaca secara antroposentris. Karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei), manusia dianggap memiliki hak mutlak untuk menguasai, memanfaatkan, bahkan mengeksploitasi alam demi kepentingannya sendiri. Dari sudut pandang para pengkritik, ayat ini menjadi dasar teologis bagi eksploitasi sumber daya alam, industrialisasi tanpa batas, serta penggunaan makhluk hidup lain secara instrumental bagi kebutuhan manusia.
Namun demikian, persoalan utamanya bukan terletak pada teks itu sendiri, melainkan pada cara teks tersebut ditafsirkan. Karena itu, perdebatan mengenai relasi Alkitab dan ekologi sesungguhnya adalah perdebatan hermeneutis mengenai bagaimana teks-teks Alkitab dibaca dan dimaknai dalam konteks krisis lingkungan dewasa ini.
Tiga Pendekatan Hermeneutis terhadap Teks Ekologis
1. Pembacaan Apologetis: Memulihkan Makna Asli Teks
Pendekatan pertama berangkat dari keyakinan bahwa Alkitab tidak pernah salah. Yang keliru adalah penafsiran manusia terhadapnya. Karena itu, tugas penafsir adalah memulihkan makna asli teks yang selama ini terdistorsi oleh pembacaan yang terlalu antroposentris. Pendekatan ini menegaskan bahwa manusia berkuasa atas alam sebagaimana Allah berkuasa, yaitu dengan memberi kehidupan, memberkati, menata, dan memelihara ciptaan. Dengan demikian, kuasa manusia bersifat representatif, bukan absolut. Manusia bertindak sebagai wakil Allah yang menghadirkan pemerintahan-Nya di bumi.
Pendekatan ini juga menghubungkan Kejadian 1:28 dengan Kejadian 2:15, yang menegaskan bahwa manusia ditempatkan di taman Eden untuk “mengerjakan dan memelihara.” Selain itu, teks-teks lain seperti Mazmur 95, Mazmur 104, Roma 8, dan Kolose 1 menunjukkan bahwa seluruh ciptaan memiliki nilai di hadapan Allah dan turut dilibatkan dalam karya keselamatan-Nya.
2. Pembacaan Kritis-Liberal: Mengkritisi Teks dengan Prinsip Eko-Etika
Pendekatan kedua mengambil posisi yang lebih kritis. Menurut kelompok ini, problemnya tidak hanya terletak pada penafsiran, tetapi juga pada teks itu sendiri yang merupakan produk budaya kuno, bersifat komposit, selektif, dan lahir dari kelompok-kelompok elite tertentu. Oleh karena itu, teks-teks yang dianggap anti-ekologis perlu dikritisi, bahkan ditolak jika bertentangan dengan prinsip-prinsip eko-etika modern.
Pendekatan ini menggunakan sejumlah prinsip eko-etika, yaitu: (1) nilai intrinsik, bahwa seluruh ciptaan memiliki nilai dalam dirinya sendiri; (2) saling ketergantungan, bahwa semua makhluk hidup saling terkait dalam satu komunitas kehidupan; (3) suara, bahwa bumi juga memiliki hak untuk “bersuara” dan melawan ketidakadilan; (4) tujuan, bahwa setiap unsur ciptaan memiliki peran dalam tatanan kosmik; (5) saling memelihara, bahwa relasi antar makhluk seharusnya bersifat kemitraan, bukan dominasi; dan (6) perlawanan, bahwa alam dapat merespons tindakan manusia yang merusak keseimbangannya.
Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, teks yang mendukung kepedulian ekologis dibaca secara positif, sedangkan teks yang dianggap antiekologis dikritisi atau ditolak. Umumnya, pendekatan ini dilakukan melalui tiga langkah: mencurigai bias antiekologis dalam teks, mengidentifikasikan diri dengan ciptaan non-manusia, dan menggali pesan ekologis yang masih dapat ditemukan dalam teks. Bahkan teks-teks yang selama ini dianggap ramah lingkungan tetap dipandang secara kritis karena dinilai berpotensi mengandung kecenderungan antroposentris.
3. Rekonstruksi Makna: Jalan Tengah Hermeneutis
Pendekatan ketiga berusaha mengambil jalan tengah antara apologetika dan kritik modern-liberal. Pendekatan ini tetap menghargai otoritas Alkitab, tetapi sekaligus mengakui adanya keterbatasan historis dalam teks-teks kuno. Karena itu, teks dibaca secara kontekstual dan dialogis dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta etika lingkungan modern. Teks-teks yang problematis tidak disangkal atau dibuang, melainkan dipertahankan sebagai “iritasi hermeneutis” yang terus mengingatkan pembaca akan perlunya refleksi kritis dan pertobatan ekologis.
Kebaikan Ciptaan sebagai Dasar Ekoteologi Alkitabiah
Salah satu wawasan terpenting dari kisah penciptaan adalah pengulangan frasa “Allah melihat bahwa semuanya itu baik.” Penilaian tersebut diberikan bahkan sebelum manusia diciptakan. Daratan, lautan, tumbuhan, dan makhluk hidup lainnya telah dinyatakan baik dalam dirinya sendiri sebelum memiliki nilai guna bagi manusia. Dengan demikian, Alkitab mengakui nilai intrinsik seluruh ciptaan. Nilai mendahului fungsi. Ciptaan berharga bukan karena berguna bagi manusia, melainkan karena diciptakan dan dinilai baik oleh Allah.
Lebih jauh lagi, puncak dari kisah penciptaan bukan hanya ketika manusia diciptakan, melainkan ketika seluruh ciptaan hadir dalam keterhubungan yang harmonis sehingga Allah menyatakan semuanya “sungguh sangat baik.” Kesempurnaan ciptaan ditemukan dalam relasi dan keseimbangan, bukan dalam dominasi satu makhluk atas yang lain. Di dalam gambaran awal ini bahkan terdapat distribusi makanan yang adil bagi seluruh makhluk hidup, sehingga keadilan sosial dan keadilan ekologis tampil sebagai dua aspek yang tidak terpisahkan.
Menafsirkan Ulang “Taklukkanlah Bumi”
Dalam penjelasan Hortensius, kata kabash (taklukkanlah) tidak mengandung makna penghancuran. Dalam konteks Perjanjian Lama, istilah ini sering berkaitan dengan pengelolaan tanah agar dapat dihuni dan menghasilkan kehidupan. Karena perintah tersebut muncul bersamaan dengan mandat “penuhilah bumi”, tidak masuk akal rasanya jika Allah memerintahkan manusia menghancurkan tempat tinggalnya sendiri. Oleh sebab itu, kata tersebut lebih tepat dipahami dalam kerangka agraris: manusia mengolah bumi agar mampu menopang kehidupan secara berkelanjutan.
Demikian pula kata radah (berkuasa) harus dipahami melalui model kuasa Allah atau model raja-raja ideal di dunia kuno. Kuasa bukan berarti eksploitasi, melainkan perlindungan, pengayoman, dan pengabdian bagi kesejahteraan yang dipimpin. Dalam kerangka ini, manusia dipanggil menjadi pelayan bagi ciptaan, bukan penguasa yang sewenang-wenang.
Manusia sebagai Bagian dari Komunitas Ciptaan
Narasi Kejadian 2 memberikan perspektif yang sangat penting mengenai identitas manusia. Adam berasal dari adamah (tanah). Hubungan etimologis ini menegaskan bahwa manusia adalah makhluk bumi. Manusia bukan entitas yang berdiri di atas ciptaan, melainkan bagian dari ciptaan itu sendiri. Ia berasal dari tanah, hidup dari tanah, dan akan kembali menjadi tanah. Karena itu, merusak bumi berarti merusak asal-usul dan dasar keberadaan manusia sendiri.
Lebih jauh lagi, manusia dan makhluk hidup lainnya sama-sama menerima napas kehidupan dari Allah. Dalam Kejadian 2:7, manusia menjadi makhluk hidup karena Allah menghembuskan nismat khayyim (napas kehidupan) ke dalam dirinya. Namun, unsur ini bukanlah ciri yang membedakan manusia secara mutlak dari ciptaan lain. Kejadian 7:22 menunjukkan bahwa makhluk hidup lainnya juga memiliki napas kehidupan yang sama. Karena itu, napas kehidupan tidak dapat dipahami sebagai dasar superioritas manusia atas makhluk lain, melainkan sebagai tanda bahwa seluruh kehidupan bergantung pada Allah sebagai sumber kehidupan.
Selain itu, istilah nefesh khayyah (makhluk hidup) yang digunakan untuk manusia dalam Kejadian 2:7 juga dipakai untuk menyebut berbagai makhluk lainnya dalam Perjanjian Lama (misalnya Kejadian 9:10, Imamat 11:10). Penggunaan istilah yang sama menunjukkan bahwa manusia dan makhluk lain berbagi status yang serupa sebagai sesama makhluk hidup di hadapan Allah. Dengan demikian, Kejadian 2 tidak menekankan perbedaan ontologis yang tajam antara manusia dan ciptaan lainnya, melainkan menegaskan bahwa semuanya berasal dari tanah yang sama dan sama-sama menerima kehidupan dari Allah.
Panca Wawasan Alkitabiah Melawan Ekosida
Dari keseluruhan refleksi tersebut, Hortensius merumuskan lima wawasan utama Alkitab dalam melawan ekosida. Pertama, setiap ciptaan memiliki nilai intrinsik sebagai ciptaan Allah. Kedua, seluruh ciptaan saling berkaitan dan saling menopang dalam satu komunitas kehidupan. Ketiga, Roh atau napas Allah menghidupkan seluruh makhluk, bukan hanya manusia. Keempat, semua ciptaan dipanggil bersaksi dan memuji Kebesaran Allah. Kelima, karya penebusan dan penyelamatan Allah melalui Kristus, bukan hanya demi keselamatan manusia, tetapi demi kesejahteraan seluruh ciptaan Allah. Dengan demikian, Alkitab tidak mendukung ekosida, melainkan menyediakan fondasi teologis yang kuat untuk menolaknya.
Implikasi Eko-Teologis bagi Gereja Masa Kini
Jika seluruh ciptaan merupakan bagian dari komunitas yang dikasihi Allah, maka etika Kristen tidak dapat dibatasi hanya pada relasi antarmanusia. Hukum kasih perlu diperluas menjadi solidaritas kosmis yang mencakup seluruh ciptaan. Gereja dipanggil untuk mengembangkan pertobatan ekologis, yaitu keberanian meninggalkan pola hidup konsumtif, hedonis, dan eksploitatif demi gaya hidup yang cukup, sederhana, dan berkelanjutan.
Selain itu, gereja perlu berdialog dengan ilmu pengetahuan dan berbagai disiplin lain dalam mencari solusi konkret terhadap krisis lingkungan. Alkitab tidak menyediakan cetak biru teknis untuk mengatasi pemanasan global atau kerusakan lingkungan, tetapi memberikan wawasan teologis yang membentuk orientasi moral dan spiritual umat. Karena itu, komunitas Kristen dipanggil untuk lebih banyak terlibat dalam tindakan nyata bagi kesejahteraan ciptaan daripada terjebak dalam perdebatan doktriner-sektarian yang tidak menghasilkan transformasi sosial maupun ekologis.
Penutup
Tudingan bahwa Alkitab sering merupakan sumber legitimasi atas kerusakan ekologis pada akhirnya menuntun pada kesimpulan yang berbeda. Pembacaan yang cermat menunjukkan bahwa mandat dalam Kejadian bukanlah izin untuk mengeksploitasi bumi, melainkan panggilan untuk mengelola, memelihara, dan menghadirkan pemerintahan Allah yang memberi kehidupan. Manusia tidak ditempatkan sebagai pusat mutlak ciptaan, melainkan sebagai bagian dari komunitas kosmis yang hidup dalam relasi dengan Allah, sesama manusia, dan seluruh alam semesta. Dalam terang ini, Alkitab lebih tepat dibaca bukan sebagai kitab yang melegitimasi ekosida, melainkan sebagai yang mengarahkan umat kepada tanggung jawab ekologis, solidaritas kosmis, dan pemeliharaan ciptaan sebagai bagian integral dari iman Kristen.
























