Ketika Gandum Menjadi Mahal: Krisis dalam Perjanjian Lama dan Masa Kini  

Artikel | 4 Jun 2026

Ketika Gandum Menjadi Mahal: Krisis dalam Perjanjian Lama dan Masa Kini  


Bincang Alkitab | Tri Harmadji, Ph.D.

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia kembali dihadapkan pada berbagai kekhawatiran ekonomi. Nilai tukar dolar Amerika Serikat yang terus menguat, krisis energi, ketergantungan terhadap barang impor, serta ketidakpastian ekonomi global telah memunculkan kecemasan yang nyata dalam kehidupan banyak orang. Berbagai indikator ekonomi cukup menimbulkan rasa khawatir terhadap masa depan. Namun, apabila dilihat dari perspektif Alkitab, situasi semacam ini bukanlah sesuatu yang baru. Krisis ekonomi, kelaparan, perang, dan ketidakstabilan sosial telah menjadi bagian dari pengalaman manusia sejak zaman kuno.

 

Perjanjian Lama secara khusus menyajikan berbagai kisah tentang masyarakat yang harus menghadapi kelangkaan pangan, perubahan iklim, perang, hingga kehancuran ekonomi. Dalam setiap peristiwa tersebut muncul pertanyaan yang sama: bagaimana manusia harus merespons krisis? Menariknya, Alkitab tidak hanya mencatat keberadaan krisis, tetapi juga memperlihatkan beragam bentuk respons yang diambil manusia. Dari kisah para leluhur Israel hingga pengalaman bangsa Mesir pada zaman Yusuf, terdapat pelajaran penting yang tetap relevan bagi masyarakat modern. Di tengah ancaman ketidakpastian ekonomi masa kini, hikmat Alkitab mengajarkan bahwa persoalan utama bukanlah apakah krisis akan datang, melainkan bagaimana manusia mempersiapkan dan meresponsnya.

 

Krisis sebagai Realitas yang Berulang dalam Sejarah Keselamatan

Salah satu kesan yang muncul ketika membaca Perjanjian Lama adalah bahwa kehidupan umat Allah tidak pernah sepenuhnya bebas dari krisis. Berbagai bentuk kesulitan ekonomi dan sosial muncul berulang kali dalam rentang sejarah yang panjang.

 

Pada zaman Abraham dan Ishak, misalnya, kelaparan memaksa mereka mencari wilayah lain yang lebih subur untuk mempertahankan hidup (Kejadian 12:10; 26:1). Kelaparan juga menjadi latar belakang migrasi keluarga Yakub ke Mesir pada masa Yusuf. Dalam kitab Rut, keputusan Elimelekh dan Naomi untuk meninggalkan Betlehem dan menetap di Moab juga didorong oleh krisis pangan yang melanda Yehuda (Rut 1:1-2).

 

Peristiwa lain muncul pada zaman Nabi Elia ketika negeri Israel mengalami kekeringan berkepanjangan sebagai bagian dari penghukuman Allah terhadap Raja Ahab dan bangsa Israel (1Raj. 17). Krisis tersebut begitu berat sehingga seorang janda di Sarfat hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak yang tersisa untuk dirinya dan anaknya.

 

Seluruh kisah ini menunjukkan bahwa krisis bukanlah penyimpangan dari sejarah manusia, melainkan bagian dari realitas kehidupan yang terus berulang. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari perubahan iklim, kekeringan, gagal panen, hingga peperangan. Apa yang terjadi pada dunia modern sebenarnya memiliki pola yang sama. Jika saat ini konflik geopolitik dapat menyebabkan kenaikan harga minyak dan inflasi global, maka pada zaman Alkitab perang juga sering kali menjadi pemicu utama kehancuran ekonomi dan kelangkaan pangan.

 

Karena itu, Alkitab tidak mengajarkan umat Allah untuk terkejut ketika menghadapi krisis. Sebaliknya, krisis dipandang sebagai bagian dari kehidupan yang harus dihadapi dengan bijaksana.

 

Ketika Kepala Keledai Menjadi Barang Mewah: Krisis Ekstrem di Samaria

Salah satu gambaran paling mengerikan mengenai krisis ekonomi dalam Perjanjian Lama ditemukan dalam kisah pengepungan Samaria oleh Ben-Hadad, raja Aram, sebagaimana dicatat dalam 2 Raja-Raja 6:24-25.

 

Teks tersebut menggambarkan situasi yang luar biasa ekstrem. Karena kota Samaria dikepung dalam waktu lama, pasokan makanan terputus total. Akibatnya terjadi inflasi yang tidak masuk akal. Sebuah kepala keledai dijual seharga delapan puluh syikal perak, sedangkan seperempat kab tahi merpati dihargai lima syikal perak.

 

Yang menarik, kedua komoditas tersebut pada kondisi normal hampir tidak memiliki nilai ekonomi. Keledai termasuk hewan yang haram menurut hukum Taurat sehingga tidak lazim dikonsumsi oleh orang Israel. Bahkan yang dijual bukan dagingnya, melainkan hanya kepalanya. Demikian pula dengan "tahi merpati" yang kemungkinan merupakan bahan makanan sangat rendah kualitasnya, atau bahkan benar-benar kotoran burung yang dikonsumsi karena tidak ada alternatif lain.

 

Narasi ini menunjukkan bagaimana krisis dapat mengubah nilai ekonomi secara drastis. Barang yang biasanya tidak berharga dapat menjadi sangat mahal ketika kelangkaan melanda. Harga tidak lagi ditentukan oleh kualitas barang, melainkan oleh tingkat kebutuhan dan ketersediaannya.

 

Lebih tragis lagi, kisah tersebut berkembang menjadi cerita tentang kanibalisme. Dalam ayat-ayat berikutnya dikisahkan dua perempuan yang sepakat memakan anak mereka sendiri karena tidak lagi memiliki makanan. Gambaran ini menunjukkan tingkat kehancuran sosial yang melampaui sekadar kesulitan ekonomi. Krisis yang tidak tertangani dapat menghancurkan moralitas, relasi kemanusiaan, dan martabat manusia itu sendiri.

 

Jika dibandingkan dengan berbagai krisis yang pernah dialami Indonesia, termasuk krisis ekonomi 1998 atau pandemi COVID-19, kondisi Samaria pada masa itu berada pada tingkat yang jauh lebih ekstrem.

 

 Tiga Respons Manusia terhadap Krisis dalam Perjanjian Lama

Dari berbagai kisah krisis dalam Perjanjian Lama, setidaknya dapat diidentifikasi tiga pola respons manusia.



1.      Respons Praktis: Bertahan Hidup dengan Cara yang Realistis

Respons pertama adalah tindakan praktis dan realistis untuk mempertahankan hidup. Dalam situasi ini manusia menggunakan kemampuan yang tersedia untuk mencari jalan keluar dari krisis. Para leluhur Israel memberikan contoh yang jelas. Ketika terjadi kelaparan, Abraham, Ishak, dan Yakub mengambil keputusan untuk berpindah tempat demi memperoleh sumber pangan yang lebih baik. Demikian pula Naomi yang meninggalkan Betlehem menuju Moab ketika kelaparan melanda Yehuda.

 

Respons ini bukanlah tindakan yang spektakuler. Namun justru karena itulah respons tersebut dekat dengan pengalaman manusia sehari-hari. Dalam konteks modern, respons serupa tampak ketika seseorang yang kehilangan pekerjaan mencari pekerjaan baru, memulai usaha kecil, atau berpindah ke daerah lain yang menawarkan peluang ekonomi lebih baik.

 

Alkitab tidak mengecam respons semacam ini. Sebaliknya, tindakan tersebut menunjukkan kemampuan manusia menggunakan akal budi dan sumber daya yang tersedia untuk mempertahankan kehidupan.



2.                  Respons Mukjizat: Mengandalkan Intervensi Allah

Respons kedua adalah mengandalkan campur tangan Allah secara langsung melalui mukjizat. Contoh yang paling terkenal adalah kisah janda di Sarfat dalam 1 Raja-Raja 17. Di tengah kelaparan yang hebat, Allah memelihara kehidupan janda tersebut melalui mukjizat tepung dan minyak yang tidak pernah habis hingga masa kekeringan berakhir.

 

Contoh lain ditemukan dalam kisah pengepungan Samaria. Setelah situasi mencapai titik terburuk, Allah bertindak secara ajaib dengan membuat tentara Aram mendengar suara pasukan besar sehingga mereka panik dan melarikan diri. Mereka meninggalkan seluruh perbekalan dan persediaan makanan. Dalam waktu singkat keadaan berubah total. Harga pangan yang sebelumnya melambung tinggi menjadi normal kembali karena kelimpahan yang tiba-tiba tersedia.

 

Bagi banyak orang Kristen, respons ini sering dianggap sebagai bentuk iman yang paling rohani. Mukjizat memang merupakan bagian dari karya Allah dalam Alkitab. Namun menarik bahwa Alkitab tidak menjadikan mukjizat sebagai satu-satunya pola penyelesaian krisis.



3.                  Respons Hikmat dan Manajemen: Mempersiapkan Diri Sebelum Krisis Datang

Respons ketiga merupakan pola yang paling unik sekaligus paling relevan bagi kehidupan modern. Respons ini ditemukan dalam kisah Yusuf dan Firaun di Mesir (Kejadian 41:25-36).

 

Berbeda dengan dua respons sebelumnya yang muncul ketika krisis sudah terjadi, respons ini dilakukan jauh sebelum krisis datang. Melalui mimpi Firaun, Allah menyatakan bahwa Mesir akan mengalami tujuh tahun kelimpahan yang kemudian diikuti tujuh tahun kelaparan yang sangat dahsyat. Yusuf tidak hanya menafsirkan mimpi tersebut, tetapi juga menawarkan strategi konkret untuk menghadapinya.

 

Selama masa kelimpahan, Mesir harus mengumpulkan seperlima hasil panen dan menyimpannya sebagai cadangan pangan. Dengan demikian, ketika masa kelaparan tiba, negeri itu memiliki persediaan yang cukup untuk bertahan. Yang menarik, tokoh yang sering kali kurang mendapat perhatian dalam kisah ini sebenarnya adalah Firaun. Yusuf memang memberikan hikmat, tetapi keputusan untuk melaksanakan strategi tersebut berada di tangan Firaun. Keberhasilan Mesir menghadapi krisis bukan hanya karena adanya wahyu ilahi, melainkan juga karena adanya kepemimpinan yang bersedia bertindak secara disiplin dan antisipatif.

 

Mengapa Respons Yusuf Paling Relevan bagi Masa Kini?

Jika ketiga respons tersebut sama-sama terdapat dalam Alkitab, manakah yang paling relevan bagi masyarakat modern?

 

Dalam konteks masa kini, pola Yusuf tampaknya paling sesuai. Alasannya sederhana: kita hidup dalam situasi yang lebih mirip dengan zaman Firaun daripada dengan situasi janda di Sarfat atau penduduk Samaria. Firaun diberi informasi terlebih dahulu mengenai krisis yang akan datang. Demikian pula masyarakat modern. Kita memang tidak menerima mimpi seperti Firaun, tetapi kita memiliki ilmu pengetahuan, data ekonomi, kajian sejarah, dan pengalaman masa lalu yang menunjukkan sebuah pola bahwa krisis akan terus berulang.

 

Ada pendapat yang mengatakan bahwa seseorang yang hidup sekitar tujuh puluh tahun kemungkinan akan mengalami enam hingga sepuluh kali resesi ekonomi, tiga hingga lima krisis finansial besar, dan setidaknya satu krisis generasional yang mengubah tatanan sosial secara permanen. Indonesia sendiri telah mengalami berbagai peristiwa semacam itu, mulai dari krisis ekonomi 1998 hingga pandemi COVID-19.

 

Karena itu, mengabaikan kemungkinan krisis sebenarnya berarti mengabaikan pelajaran sejarah dan hikmat yang telah tersedia.

 

Hikmat sebagai Bentuk Iman yang Dewasa

Sering kali muncul anggapan bahwa persiapan finansial dan perencanaan ekonomi merupakan tindakan yang kurang rohani karena dianggap terlalu mengandalkan kemampuan manusia. Namun kisah Yusuf menunjukkan bahwa pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar.

 

Dalam narasi Kejadian, baik pemberitahuan mengenai krisis maupun strategi untuk menghadapinya berasal dari Allah. Dengan demikian, tindakan antisipatif bukanlah lawan dari iman, melainkan bagian dari ketaatan terhadap hikmat yang Allah berikan.

 

Kitab Amsal berulang kali menekankan pentingnya hikmat, disiplin, dan perencanaan yang bijaksana. Allah bukan hanya Allah yang penuh kasih, tetapi juga Allah yang berhikmat. Oleh sebab itu, penggunaan akal budi dan perencanaan yang matang merupakan bagian dari spiritualitas yang sehat.

 

Mukjizat tetap mungkin terjadi. Namun Alkitab juga menunjukkan bahwa manusia bertanggung jawab menggunakan hikmat yang telah diberikan Allah sebelum mengharapkan intervensi yang luar biasa.

 

Menjadi Yusuf bagi Diri Sendiri

Pelajaran praktis yang dapat diambil dari kisah Yusuf adalah pentingnya mempersiapkan diri pada masa kelimpahan untuk menghadapi masa kesulitan. Dalam narasi Kejadian, perbedaan antara Firaun dan rakyat Mesir sangat mencolok. Firaun mengetahui bahwa krisis akan datang sehingga ia menimbun gandum selama masa kelimpahan. Sebaliknya, rakyat tidak melakukan persiapan yang sama. Ketika kelaparan tiba, mereka harus menjual tanah, ternak, bahkan aset-aset mereka demi memperoleh makanan. Akibatnya, Firaun menjadi semakin kaya sementara rakyat semakin miskin.

 

Prinsip yang sama sering terlihat dalam kehidupan modern. Krisis cenderung memperbesar kesenjangan antara mereka yang mempersiapkan diri dan mereka yang tidak. Orang yang memiliki tabungan, dana darurat, keterampilan tambahan, dan pengelolaan keuangan yang baik biasanya lebih mampu bertahan. Sebaliknya, mereka yang hidup tanpa persiapan sering kali mengalami dampak yang jauh lebih berat. Karena itu, salah satu bentuk penerapan hikmat Alkitab masa kini adalah meningkatkan literasi keuangan. Menabung, mengendalikan konsumsi, membangun dana darurat, memahami investasi, dan mengelola keuangan secara disiplin bukan sekadar keterampilan ekonomi, melainkan juga bentuk tanggung jawab yang selaras dengan prinsip hikmat Alkitab.

 

Penutup

Perjanjian Lama menunjukkan bahwa krisis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan manusia. Dari kelaparan pada zaman para leluhur, penderitaan Naomi, pengalaman janda di Sarfat, hingga tragedi pengepungan Samaria, Alkitab menggambarkan bahwa dunia yang jatuh ke dalam dosa selalu rentan terhadap berbagai bentuk ketidakstabilan. Namun fokus utama Alkitab bukanlah pada krisis itu sendiri, melainkan pada respons manusia terhadapnya. Sebagian merespons dengan tindakan praktis, sebagian mengalami pemeliharaan melalui mukjizat, dan sebagian lagi mempersiapkan diri melalui hikmat serta manajemen yang bijaksana.

 

Dalam konteks saat ini yang penuh ketidakpastian, teladan Yusuf dan Firaun menawarkan pelajaran yang sangat relevan. Ketika tanda-tanda krisis mulai terlihat, respons yang paling bijaksana bukanlah kepanikan ataupun sikap pasif yang hanya menunggu mukjizat. Respons yang paling Alkitabiah adalah menggunakan hikmat yang Allah berikan untuk mempersiapkan diri dengan disiplin dan bertanggung jawab.

 

Dengan kata lain, di tengah dunia yang suatu hari dapat membuat ‘gandum’ menjadi mahal, umat Tuhan dipanggil untuk hidup sebagai Yusuf bagi dirinya sendiri: membaca tanda-tanda zaman, mengelola berkat dengan bijaksana, dan mempersiapkan masa depan dengan iman yang diwujudkan melalui hikmat.

 

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia