Sejarah | Penerjemahan Alkitab dalam Bahasa Kambera (Sumba)
Pada 1982, hampir seabad setelah kekristenan masuk di tanah Sumba, Sinode Gereja Kristen Sumba (GKS) menghendaki agar Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa Kambera, yang umum dipakai sebagai lingua franca di wilayah Sumba Timur hingga Sumba Tengah. Mulanya penerjemahan Alkitab diprakarsai GKS langsung dengan menerjemahkan Perjanjian Lama melalui metode penerjemahan harfiah. Metode ini berusaha mempertahankan struktur tata bahasa, urutan kata dan istilah teknis dari bahasa asli (Ibrani, Aram dan Yunani) sedekat mungkin ke dalam bahasa sasaran.
Kebetulan datanglah Dr. Daniel Arichea ke Sumba. Beliau adalah Konsultan Penerjemahan dari Persekutuan Lembaga-lembaga Alkitab Sedunia (UBS) yang diperbantukan di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Pak Daniel menganjurkan agar lebih baik Sinode GKS melakukan penerjemahan dengan metode dinamis yang mengutamakan penyampaian makna teks dalam bahasa sasaran.
Para pimpinan GKS merasa setuju dan yakin dengan anjuran itu. Maka diadakanlah Lokakarya Penerjemahan pada tanggal 28 Februari sampai 3 Maret 1986 di GKS Payeti, Waingapu, yang dipimpin langsung oleh Dr. Daniel Arichea. Dari lokakarya tersebut dipilihlah tiga orang sebagai Tim Penerjemah Alkitab ke dalam bahasa Kambera, serta empat orang lagi sebagai Tim Peneliti. Tiga orang penerjemah: Pdt. Mbaha Ratobandjoe, Dr. Oe H. Kapita dan Pdt. M. Yiwa. Sementara Tim Peneliti terdiri dari peneliti teologi, peneliti bahasa, peneliti rasa bahasa wanita dan pengetik.
Meskipun peran semua anggota tim cukup besar, tidak boleh dilupakan perjuangan panjang Pdt. Mbaha Ratoebandjoe yang akrab dipanggil Boku (artinya kakek), salah satu anggota tim penerjemah yang demi selesainya proyek harus bolak-balik dari Sumba ke Bogor, bahkan sempat lama tinggal di kompleks penerjemahan LAI di Bogor.
Boku mulanya hanyalah seorang guru SD di Maumaru dan Waingapu, Sumba Timur. Pada 1939 ia diangkat menjadi Guru Injil di Jemaat Maumaru dan Jemaat Kenanggaru. Pengetahuan teologi tidak diperoleh Boku melalui jalur pendidikan formal, melainkan dengan membaca buku-buku dan diktat milik dosen-dosen teologi di Karuni. Setelah 1965 Boku menjadi pendeta konsulen di beberapa jemaat di Sumba hingga memasuki masa emeritus pada 1983.
Pengalamannya melayani di berbagai daerah di Sumba memperkaya pengetahuan bahasa Boku. “Kalau saya ditempatkan di kota, mungkin saya tidak menguasai bahasa daerah Kambera dengan baik”, ujar Boku. Ia yakin ini merupakan bagian dari rencana Allah dalam hidupnya. Dengan penguasaan bahasa daerah yang baik, Boku telah dipakai Tuhan sebagai alat untuk mengkomunikasikan Firman-Nya kepada masyarakat Kristen di Kambera, Sumba.
Awalnya penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Kambera berjalan cukup lancar, namun proses pengolahan naskah ternyata berjalan cukup lama. Maka, pada 16 Juni 1992, Boku (artinya kakek-red) diundang ke Kompleks Penerjemahan LAI di Bogor untuk menyelesaikan beragam persoalan penerjemahan. Lebih dari satu bulan Boku berkarya di Bogor hingga akhir Agustus 1992. Karena Boku melihat terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, ia memutuskan untuk meneruskan koreksi penerjemahan ini di Sumba.
Rencana Boku untuk mengkonsultasikan persoalan-persoalan naskah dengan dua penerjemah lainnya tidak dapat terlaksana. Karena usia yang semakin lanjut, daya ingat Dr. Oe. H. Kapita semakin menurun dan tidak dapat lagi mengerjakan tugasnya dengan baik. Sedangkan Pdt. M. Yiwa terkena lumpuh dan bisu akibat serangan darah tinggi. Pdt. M. Yiwa meninggal dunia tahun 1994.
Selain itu Boku juga menghadapi kesulitan karena naskah diperiksa ulang berdasarkan Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) edisi kedua terbitan tahun 1992. Sedangkan yang sudah diterjemahkan lebih terdahulu mengacu pada Alkitab BIS terbitan tahun 1984. Selain itu hal pemotongan kata juga cukup menghambat pekerjaan tim karena belum ada aturan baku tentang pemotongan kata dalam bahasa Kambera.
Untuk memudahkan dan mempercepat proses penyelesaian naskah Boku diminta datang lagi ke Bogor. Kali ini ia datang dan menetap sementara dengan istrinya. Pada 31 Maret ia dan Apu (artinya nenek)tiba di Bogor dan langsung bekerja menyelesaikan naskah. Selama satu tahun penuh ia tinggal di Bogor.
“Meskipun saya dan Apu sudah rindu pulang, saya bertekad untuk menyelesaikan pekerjaan saya,” tegas Boku. “Sungguh ini merupakan rahmat Tuhan! Pekerjaan penerjemahan ini membawa sejarah baru bagi keluarga, gereja, dan masyarakat Sumba.” Menurut Boku masyarakat di Sumba sudah lama menantikan terbitnya Alkitab dalam bahasa daerah.
Saat Alkitab bahasa Kambera ini diluncurkan, tanggal 9 Juni 1995, bersamaan dengan itu pula dilaksanakan pemutaran perdana film Yesus versi Injil Lukas dalam bahasa Kambera yang proses dubbingnya dikerjakan oleh Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI) Jakarta. Boku juga turut ambil bagian dalam proyek ini. Selain sebagai penerjemah, Boku berperan sebagai pengisi suara dan pengatur dialog. Umat Tuhan di Sumba, khususnya di Sumba Timur dan Tengah menyambut dengan penuh sukacita kehadiran Alkitab dalam bahasa yang mereka mengerti dan dekat di hati mereka.
“Saya bersyukur Tuhan masih pakai saya bekerja untuk orang banyak,” katanya. “Saya yakin bahwa semua ini adalah rencana Tuhan dan saya akan menyelesaikan tugas-tugas yang dipercayakan kepada saya.” Mendengar kisah Boku, rasanya seperti mengikuti langsung perjalanan hidupnya. Berbagai naskah telah diterjemahkannya. Boku selalu konsisten dengan tugasnya. Di sela kesibukannya Boku selalu menyempatkan diri menerjemahkan naskah-naskah gerejawi. Bahkan sewaktu sakit, Boku masih sempat menerjemahkan lagu-lagu rohani.
Bukan hanya Alkitab. Bapak yang sekarang berusia 75 tahun ini sebelumnya dipercaya oleh Sinode GKS untuk duduk di Badan Musyawarah Kedeputatan (Bamusdep) bidang penerjemahan. Tugasnya adalah menerjemahkan ke dalam bahasa Kambera naskah-naskah gerejawi berupa formulir, lagu-lagu, atau bahan-bahan lain kebutuhan gereja.
Penerjemahan Alkitab dalam bahasa Kambera mempunyai makna historis dalam perjalanan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan GKS karena 114 tahun yang lalu tepatnya tanggal 9 Juni 1881 telah dilangsungkan penginjilan pertama di Sumba yang membawa beberapa orang Sumba percaya kepada Kristus dan menerima baptisan.
Setelah Perang Dunia II dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, muncul kesadaran bahwa gereja di Sumba harus dikelola secara mandiri oleh putra-putri Sumba sendiri, bukan lagi di bawah kendali organisasi misi Belanda. Maka, wakil-wakil jemaat dari berbagai gereja GKS berkumpul di Payeti, di Waingapu (Sumba Timur) untuk mengadakan pertemuan besar pertama, yang dicatat sebagai Sidang Sinode I GKS pada 15 Januari 1947, yang kemudian dicatat sebagai hari berdirinya Gereja Kristen Sumba.
























