Dalam rangkaian Natal, seringkali momen Epifani terlupakan dari benak orang-orang Kristen. Epifani berasal dari kata Yunani: Ἐπιφάνεια (Epiphaneia), yang berarti penampakan manifestasi, atau penyingkapan. Secara teologis, pemahaman dasariah itu merujuk pada penyataan atau penampakan Allah kepada manusia. Baik pada saat kedatangan-Nya ke dunia maupun pada kedatangan-Nya kembali. Dengan demikian epifani merupakan cara untuk mengingat kembali akan penghayatan dasariah akan Ketuhanan dalam kekristenan yakni Allah dalam kasih-Nya yang berinisiatif untuk menghampiri manusia, sehingga anak-Nya yang tunggal lahir ke dalam dunia dan menjadi manusia atau yang dikenal juga sebagai proses inkarnasi.
Meskipun demikian manusia butuh kepekaan serta kerendahan hati dalam merasakan serta menanggapi pernyataan-Nya. Injil Matius mengisahkan hal tersebut dengan kontras yang diperlihatkan antara orang-orang Israel yang diwakili oleh Herodes serta para ahli agamanya dengan orang-orang majus. Bangsa Israel hidup dalam tradisi kenabian yang kuat serta pemahaman iman bahwa merekalah bangsa yang terpilih. Matius menunjukkan bahwa kehadiran Sang Mesias adalah sesuatu yang telah lama diwartakan oleh para nabi. Hanya saja bangsa ini memiliki kecenderungan untuk menolak firman-Nya dan sulit untuk tunduk pada ketetapan Allah. Termasuk saat Sang Mesias lahir ke dalam dunia. Herodes dan isi istananya baru sadar akan Sang Raja yang telah lahir, saat rombongan orang Majus menghampiri istana Herodes dan bertanya lokasi Sang Raja yang baru lahir. Setelah itu mereka melihat kembali tulisan-tulisan yang ada dan mendapati pernyataan kelahiran Sang Mesias di Betlehem.
Sementara itu orang-orang Majus adalah bangsa asing yang sama sekali tidak mengenal tradisi iman dan kenabian orang-orang Yahudi. Kata tersebut diterjemahkan dari bahasa Yunani: Magos, yang berarti ahli perbintangan atau ahli “sihir”. Penelitian lanjutan para penafsir menegaskan asal-usul mereka yang berasal dari timur atau daera sekitar Kerajaan Media (Persia). Kemungkinan besar ahli atau mereka yang menghidupi tradisi keagamaan Zoroastrianisme yang kental dengan tradisi astrologi atau perbintangan. Bagi mereka gerak bintang adalah penanda atas sesuatu yang terjadi dalam semesta atau bahkan keseharian manusia. Anomali gerak bintang yang mereka amati menyatakan bahwa Sang Raja Baru telah lahir.
Dari sudut pandang kemahakuasaan Allah, tafsiran orang-orang Majus atas gerak bintang tersebut sesungguhnya dapat kita maknai juga sebagai salah satu bentuk “pernyataan Allah”. Bukankah Ia telah lazim menggunakan berbagai unsur dalam semesta untuk menampilkan kehadiran-Nya. Musa ditunjukkan kehadiran Allah melalui semak yang terbakar itu, para pemazmur melihat badai dan berbagai fenomena alam sebagai cara Allah menyatakan pesannya. Kini Ia menyapa bangsa asing, orang-orang Majus, melalui bintang terang yang menunjukkan Sang Terang sejati.
Dalam segala keterbatasan, orang Majus itu mencoba untuk mengenali berbagai tanda, mengikut bintang tersebut. Sehingga akhirnya mereka berjumpa dengan Sang Raja dan menghaturkan persembahan kepada Yesus selayaknya utusan sebuah negara yang memberikan persembahan bagi raja yang baru ditahbiskan. Kegigihan orang-orang asing itu untuk menjumpai Sang Raja sungguh menjadi tamparan yang keras bagi orang-orang Yahudi. Allah menjumpai dan menyatakan diri-Nya kepada kedua bangsa tersebut. Sebenarnya orang-orang Yahudi sudah mendapatkan berbagai kemudahan dengan pernyataan Allah yang begitu jelas dalam nubuatan para Nabi, sayangnya mereka tidak menyadarinya sama sekali. Malahan orang-orang majus yang adalah bangsa asing yang selama ini dicap orang Yahudi sebagai bangsa kafir karena tidak mendapat tempat dalam keselamatan, justru memiliki kepekaan terhadap penyataan Allah.
Tindakan Allah menyatakan dirinya kepada orang-orang majus menjadi penanda gerak kasih Allah yang merengkuh semua orang. Melenyapkan batas-batas fiktif yang dibuat manusia untuk menandaskan superioritas semua yang hanya ada dalam angan manusia. Semua orang yang menyambut-Nya adalah orang-orang yang menerima penyelamatan Allah. Universalitas penyelamatan Allah inilah yang hendak ditekankan Injil Matius, sekaligus sindiran begitu keras pada orang yang menolak penyataan Allah yang telah terpampang jelas di hadapannya.
Saat ini pun Allah senantiasa menyatakan diri-Nya kepada kita. Ia menunjukkan jalan yang benar dalam Roh-Nya yang kudus. Menuntun kita agar terus berada dalam dekapan-Nya. Sayangnya kita lah yang tidak peka terhadap penyataan-Nya. Mengabaikan uluran kasih Allah yang begitu jelas terpampang lewat peristiwa kehidupan sehari-hari. Momen epifani ini menjadi pengingat yang baik bagi kita agar senantiasa menanggapi pernyataan cinta kasih Allah melalui kata serta tindakan yang benar.
Pertanyaan: Bagaimanakah selama ini Anda menghayati keberadaan Allah dalam kehidupan sehari-hari?
























