“Kala” adalah bahasa Sansekerta untuk “waktu”. Dalam dunia pewayangan, Kala juga merujuk pada Batara Kala, dewa waktu dengan wujud raksasa berwajah menyeramkan. Dia adalah putra dari Batara Guru (Dewa Siwa) dan Batari Uma yang diciptakan pada situasi, waktu serta kesempatan yang salah sehingga terciptalah Kala yang demikian menyeramkan serta menggoncang tatanan. Kisah-kisah pewayangan juga menggambarkan Kala sebagai dewa waktu dan penghancuran. Ia bertanggung jawab atas perubahan waktu, termasuk siang dan malam, hidup serta mati. Tatanan kosmis ditegakkannya dan mereka yang melanggar tatanan alam akan dihukum.
Batara Kala merupakan sebuah personifikasi atas refleksi mendalam manusia terhadap waktu. Lautan, gunung, bahkan langit telah ditaklukkan manusia, tetapi manusia tidak pernah dapat menaklukkan waktu. Ia berjalan dalam tatanan yang tepat dan sesuai dengan pergerakan kosmis. Begitu “kejamnya” waktu hingga segala sesuatu tidak berkutik di hadapannya. Raja yang gagah perkasa lambat laun akan menjadi tua dan renta. Bangsa yang jaya dan adidaya, bisa saja menjadi tidak berdaya. Kecantikan seorang gadis yang menundukkan para raja, juga tidak berdaya di hadapan waktu. Seorang yang sehat bugar pada lain waktu bisa tunduk terhadap penyakit yang melemahkannya. Pada akhirnya semua hal akan “dimakan” oleh waktu.
Secara paralel, Kitab Pengkhotbah menggemakan nuansa yang serupa meskipun tidak persis sama. Penulis kitab Pengkhotbah menempatkan dirinya sebagai sang pengajar hikmat yang menyuarakan hasil perenungannya kepada umat. Pasal 1 Ayat 2 melukiskan intisari pengajarannya bahwa semua kesia-siaan belaka. Mereka yang berjerih lelah dalam kerja toh tidak dapat menikmati hasil jerih lelahnya ketika meninggal dan pergi meninggalkan dunia. Segalanya melelahkan karena manusia selalu digerakkan oleh mata dan telinga yang tidak pernah puas melihat dan mendengar. Adakah ujung dari semuanya ini?
Perenungan sang pengkhotbah dilanjutkan dalam pasal 3. Kali ini ia tidak melulu menyoroti kesia-siaan hidup melainkan siklus kehidupan yang terus bergulir tanpa henti. Seruannya dibuka dengan sebuah ucapan bijak, “untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.” Bagi pengkhotbah masa dan waktu selalu terkait erat dengan segala aktivitas yang terjadi di dunia. Ada waktu untuk lahir dan meninggal, selalu ada waktu untuk menanam dan mencabut yang ditanam, waktu untuk menangis dan tertawa, ada waktu untuk mencari dan kehilangan, waktu mengasihi dan waktu untuk membenci, dan seterusnya. Manusia terjerumus kembali kepada kesia-siaan jika selalu mempertanyakan mengapa suatu hal terjadi pada masa serta waktu tertentu. Menurut pengkhotbah jawaban pertanyaan tersebut sesungguhnya sudah jelas yakni “untuk segala sesuatu ada masa dan waktunya.” Maka alih-alih bertanya tentang masa dan waktu, kita diundang untuk menjalani waktu dan masa yang datang.
Namun kita jangan salah sangka untuk mengira bahwa pengkhotbah hendak menggiring kita kepada nihilisme. Sebab kesadaran akan masa dan waktu yang terus bergulir selalu diletakkan pada keyakinan akan Sang Penguasa Waktu itu sendiri yakni Allah. Dalam ayat 11 ditegaskan bahwa “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.” Itulah keyakinan yang perlu kita pegang senantiasa. Dalam keyakinan itu ada pemahaman akan apa yang kekal yakni Allah. Selain “waktu” rupanya Allah yang selalu hadir dalam guliran sejarah semesta.
Kesadaran akan masa dan waktu serta Allah yang berada dalam seluruh jalinan masa merupakan hal yang penting bagi kita saat memulai perjalanan di tahun yang baru ini. Jika waktu adalah misteri dan penuh dengan ketidakpastian, maka kita dapat bergantung kepada Allah yang akan selalu menghadirkan sesuatu yang indah pada waktunya. Mungkin alur kehidupan di masa mendatang tidak hanya berisi tawa, kadangkala tangis menyeruak, takut dan kecemasan menguasai, tetapi yakinlah bahwa tidak ada satupun peristiwa yang luput dari rencana-Nya. Tugas kita adalah menjalani hari dengan sebaik-baiknya, menghargai waktu yang tidak pernah berulang ini melalui kebermaknaan hidup yang kita tunjukkan melalui pikiran, kata, serta tindakan kita.
Pertanyaan reflektif:
Bagaimanakah cara anda menghargai waktu yang telah dianugerahkan Tuhan kepada Anda?

























