YESUS, UANG, DAN SPIRITUALITAS KEUGAHARIAN

Artikel | 13 Okt 2026

YESUS, UANG, DAN SPIRITUALITAS KEUGAHARIAN


Narasumber: Pdt. Dr. Martin L. Sinaga

Editor: Juan Nicohlas

 

Yesus dan Keluarganya

Jika berbicara mengenai Yesus, uang, dan spiritual keugaharian, mungkin akan timbul pertanyaan dalam pikiran “Bagaimana keadaan keuangan Yesus?” Secara tekstual, Yesus dapat dikatakan lahir dari keluarga yang tidak sepenuhnya miskin. Ia datang dari keluarga artisan, yaitu istilah untuk menyebut seseorang yang memiliki kepandaian atau kecakapan, seperti bertukang. Sebagai seseorang yang lahir dengan latar belakang artisan, Yesus dan keluarganya diduga memiliki kecakapan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dalam teks Alkitab, tepatnya pada Lukas 2:24, tertulis bagaimana keluarga Yesus mampu untuk memberikan persembahan berupa sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Kemampuan Yesus untuk membaca Taurat juga menunjukkan bahwa Yesus memiliki akses terhadap pendidikan atau pembelajaran keagamaan. Dari hal-hal tersebut, dapat diduga bahwa Yesus dan keluarganya memiliki kondisi keuangan yang relatif baik. 

 

Pelayanan dan Keuangan Yesus

Dalam perkembangan pelayanan Yesus, banyak ahli sosiologi menyebut adanya suatu gerakan yang disebut Jesus Movement (Gerakan Yesus). Jesus Movement adalah gerakan yang dilakukan Yesus bersama para pengikut-Nya di sekitar Kapernaum (Markus 6). Dalam gerakan tersebut Yesus melakukan beberapa pelayanan, seperti mengajar, mengusir roh-roh jahat, dan melakukan mujizat. Dalam perjalanan pelayanannya tersebut, para murid membawa perlengkapan yang terbatas. Hal-hal seperti roti, uang, dan pakaian tambahan tidak perlu dibawa. Yesus dan murid-murid-Nya hidup dari rumah ke rumah, di mana mereka hadir untuk berkhotbah, bercerita, menyembuhkan, serta menerima makanan dan kebutuhan hidup dari orang-orang yang mereka jumpai. 

 

Konsep keuangan dalam hidup Yesus dapat dikatakan sebagai sesuatu yang unik. Pada dasarnya, Yesus tahu bahwa uang diperlukan untuk hidup, tapi dalam praktiknya Ia bisa hidup bersama-sama dengan orang lain yang memiliki kemurahan hati untuk berbagi makanan, minuman, dan juga sukacita. Yesus melihat uang sebagai sesuatu yang bersifat fleksibel. Uang bukanlah satu-satunya hal yang menentukan kehidupan manusia. Ada masa ketika Yesus  dan murid-murid-Nya juga tidak memiliki uang (2 Korintus: 8-9). Yesus mengajarkan bahwa manusia harus hidup bersama dan berbagi, sehingga uang bukanlah sesuatu yang dianggap dominan dalam hidup. 

 

Dalam salah satu pelayanan-Nya, Yesus berkhotbah di bukit dan mengatakan, “Berbahagialah hai kamu yang miskin.” Maksud dari ucapan tersebut bukanlah  seseorang harus mengalami kemiskinan terlebih dahulu untuk dapat berbahagia. Dalam perjalanan pelayanan-Nya, banyak orang miskin yang mengikuti Dia. Orang miskin yang disebut berbahagia adalah mereka yang terbuka terhadap rahasia Kerajaan Allah yang memenuhi hidup mereka. Dalam kebersamaan tersebut, mereka dapat berbagi dan saling melengkapi. 

 

Uang dalam masa kehidupan Yesus 

Konsep uang dalam masa kehidupan Yesus sangat berbeda dengan konsep uang pada masa sekarang. Pada masa Yesus, metode barter masih bisa ditemukan dan terdapat pula istilah self sufficient economy, yang menggambarkan ketika seseorang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, Contohnya, ketika seseorang tidak memiliki uang, ia dapat pergi menangkap ikan atau memetik buah untuk dimakan dan melanjutkan hidup. 

 

Pada masa tersebut, uang juga memiliki fungsi tertentu dan penggunaannya belum seperti sekarang. Uang, antara lain, digunakan untuk membayar pajak. Karena kehidupan di sekitar Yesus berada di bawah kekuasaan Romawi, masyarakat menggunakan mata uang yang berlaku pada masa itu untuk membayar pajak. Fungsi lain adalah untuk memberikan persembahan di Bait Allah. Dengan beredarnya uang Romawi pada masa itu, uang juga menjadi salah satu simbol bahwa orang-orang Yahudi berada di bawah kekuasaan Romawi.

 

Definisi Uang Pada Masa Kini

Pada masa kini, pemahaman dan definisi uang tentu saja berbeda dengan masa Yesus. Secara netral uang dipahami sebagai sebuah alat tukar, penyimpan nilai, dan alat untuk mengukur nilai berbagai hal secara objektif. Disisi lain, banyak pemikir pada masa kini juga melihat bahaya dari uang, salah satunya adalah ketika segala sesuatu dipandang dan diukur atau bahkan dibeli dengan uang. Permasalahan lain yang berkaitan dengan uang dalam skala global adalah inflasi, yaitu keadaan ketika harga barang dan kebutuhan meningkat.

 

Sikap Yesus atas Uang, Relevankah Pada Masa Kini?

Terdapat 2 kisah menarik di dalam Alkitab yang menceritakan sikap Yesus terhadap uang. Kisah pertama terdapat pada Markus 12: 13-17, dan kisah kedua terdapat dalam Matius 17: 24-27. Pada kisah yang pertama tertulis mengenai perihal membayar pajak Kaisar, sedangkan pada kisah yang kedua tertulis mengenai Bea Bait Allah. Dari kedua kisah tersebut, Yesus memberikan gambaran bahwa uang memang diperlukan, terutama dalam memenuhi tanggung jawab.

 

Dalam hal membayar pajak pada Kaisar, Yesus menerima adanya kewajiban untuk membayar pajak. Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa Yesus menyetujui seluruh penggunaan uang atau kekuasaan oleh pemerintah. Yesus mengatakan, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!”  Makna memberikan kepada Kaisar dapat dipahami sebagai bentuk tanggung jawab sebagai warga negara, sementara memberikan kepada Allah menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak dapat direduksi hanya pada urusan materi dan kewajiban duniawi.

 

Sekalipun Yesus menyadari kewajiban membayar pajak, Ia juga menunjukkan bahwa uang dapat menjadi bagian dari sistem kekuasaan dan dominasi atas orang lain ketika disalahgunakan. Bagi Yesus, uang tidak boleh menjadi alat untuk menguasai atau mendominasi kehidupan manusia. 

 

Di lain pihak, Yesus juga menunjukan bentuk Kerajaan yang lain. Kerajaan yang dimaksud adalah Kerajaan Allah, yang tidak dibangun melalui dominasi terhadap orang lain.

 

Mengenai Bea Bait Allah, pada masa kini kerap kali ditemukan pemahaman bahwa seseorang perlu memberi kepada Allah untuk dapat diberkati. Teks dalam Matius 17: 24-27 juga kerap disangkutkan dengan perihal memberi untuk gereja pada masa kini. Namun, teks tersebut berbicara mengenai Bea Bait Allah. Bagi Yesus, Bait Allah tetap memiliki tempat penting, tetapi dengan tegas Yesus juga ingin memberitahukan bahwa hubungan manusia dengan Allah lebih dari sekedar bayar membayar. 

 

Kesimpulan 

Bagi Yesus, uang memiliki kecenderungan menjadi mamon, sesuatu yang dapat menguasai manusia. Namun, Yesus juga menekankan bahwa setiap orang perlu memenuhi tanggung jawabnya masing-masing. Uang dan kekayaan di dunia kerap menjadi persoalan, dan banyak hal yang tidak benar dapat terjadi karena penyalahgunaan uang. Karena itu, manusia perlu tetap cerdik agar hidup tidak terarah pada uang, melainkan pada kasih Tuhan. 

 

Dalam hidup, diperlukan sikap moderasi atau jalan tengah dalam menyikapi uang. Seperti apa yang diajarkan dalam Doa Bapa Kami, kita diajar untuk memiliki kecukupan dalam hidup. Yesus mengajarkan kita untuk memiliki sikap moderat, menyadari bahwa harta bukanlah segala-galanya dan pada saat tertentu bisa saja dilepas, tapi jangan juga seseorang tidak memiliki segalanya. Dengan memiliki, maka seseorang bisa untuk berbagi dan juga menjadi berkat bagi orang lain.

 

Penutup

Uang memang dibutuhkan. Bahkan, Yesus pun menggunakan uang untuk memenuhi tanggung jawab-Nya. Karena itu, hiduplah dengan rasa cukup dalam hal uang. Jangan menjadikan uang sebagai segala-galanya dalam hidup, etapi gunakanlah apa yang dimiliki untuk berbagi, bersukacita, dan menjalani kehidupan yang berkenan kepada Tuhan.

 

Artikel ini disadur dari program Seminar Alkitab. Tonton versi video lengkapnya di YouTube LAI: youtube.com/watch?v=ioOYpFs3cI8

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia