Fatherless merujuk pada kondisi ketika seorang anak tumbuh tanpa kehadiran figur ayah dalam hidupnya. Ketidakhadiran ini bisa disebabkan berbagai faktor, mulai dari kematian, hingga ayah yang hadir secara fisik namun tidak secara emosional. (https://www.halodoc.com/artikel/dampak-fatherless-bagi-perkembangan-anak?srsltid=AfmBOoq9p8V7Q5aIDVO9hT5CJSzOcjDt9xeYwvrmdSZ75cztmct2OxIo )
Kemendukbangga/BKKBN melalui Pendataan Keluarga 2025 secara resmi merilis Data Fatherless yang menyatakan bahwa 25,8% anak di Indonesia mengalami kondisi fatherless.
Pendataan ini menggunakan indikator yang lebih komprehensif, meliputi interaksi, aksesibilitas, tanggung jawab, dan keterlibatan ayah dalam kehidupan anak sehingga tidak semata-mata mengukur ketidakhadiran secara fisik saja. (https://jateng.kemendukbangga.go.id/posts/a5256988-5ba7-4309-92a0-93148a507448-rilis-data-fatherless-indonesia )
Menurut Pendataan Keluarga 2025 secara garis besar, ada empat komponen yang harus dilakukan oleh seorang ayah dalam mendukung pertumbuhan anak:
1. Keterlibatan langsung
2. Komunikasi dan kedekatan emosional
3. Pemenuhan kebutuhan dasar anak
4. Keterlibatan dalam pekerjaan rumah tangga
Apakah sebagai ayah kita sudah memenuhi keempat komponen tersebut? Atau masih kurang dalam melakukan salah satunya?
Sementara itu, ketidakhadiran ayah dapat berdampak besar pada anak:
1. Anak cenderung dipenuhi rasa sedih dan depresi.
2. Memiliki kemarahan dan agresi yang cukup tinggi.
3. Kesulitan mengelola emosi.
Meskipun terlihat sepele, dampak absennya peran ayah dalam hidup ayah lebih krusial dan destruktif daripada yang kelihatan. Anak bisa tumbuh menjadi seseorang yang sulit mengambil keputusan dan bergantung secara emosional kepada orang lain.
“Anak itu pun bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel” (Lukas 1:80)
Zakaria merupakan contoh yang baik dalam kehadiran ayah dalam kehidupan seorang anak. Digambarkan ia menyambut kehadiran Yohanes dengan menaikkan puji-pujian kepada Tuhan sehingga anaknya tumbuh dengan iman yang kuat. ("Peran Ayah Dalam Pertumbuhan Anak" , Alkitab Parenting TB2, Topik 1, Artikel 19)
Apakah Sebagai Ayah Kita Sudah Hadir?
Membangun peran ayah bukan tentang menjadi sempurna, melainkan bersedia hadir dan terus belajar. Seperti Zakaria yang memberkati Yohanes bahkan sebelum ia lahir, sebagai ayah kita bisa hadir baik secara jasmani maupun rohani bagi anak.
Ketika seorang ayah memilih untuk hadir, ia sedang menanamkan benih iman, karakter, dan harapan dalam hati anaknya.
























