Artikel Parenting
Dalam sebuah pernikahan, dua pribadi yang berbeda rasa, latar belakang, dan kebiasaan disatukan dalam satu atap. Dengan kedekatan seintens itu, gesekan dan luka emosional baik sengaja maupun tidak hampir pasti tidak dapat dihindari. Sering kali, tantangan terbesar dalam hubungan suami istri bukanlah bagaimana menghindari kesalahan, melainkan bagaimana kita merespons ketika kesalahan itu terjadi.
Apakah kita memilih menyimpan dendam, ataukah kita bersedia melepaskan pengampunan yang tulus?
Belajar Mengampuni Melalui Sudut Pandang Yusuf
Kisah Yusuf dan saudara-saudaranya dalam Kejadian 50:16-17(TB2) memberikan kita refleksi yang sangat dalam mengenai esensi pengampunan yang sejati. Bayangkan perasaan Yusuf: dia dikhianati, dibuang, dan dijual oleh saudara-saudara kandungnya sendiri.
Namun, bertahun-tahun kemudian, ketika roda kehidupan berputar dan Yusuf memiliki kuasa penuh di Mesir untuk membalas dendam, dia justru memilih jalan yang berbeda. Kala saudara-saudaranya mencari gandum ke Mesir, Yusuf mengampuni kesalahan saudara-saudaranya dan menolong mereka dengan memberikan gandum yang cukup untuk keluarga besar mereka. Bahkan akhirnya mengajak keluarganya tinggal di Mesir.
Saat ayah mereka Yakub meninggal, Yusuf menangis pilu ketika menyadari bahwa saudara-saudaranya masih dilingkupi rasa bersalah dan ketakutan akan balas dendam Yusuf sepeninggal Yakub. Mereka bahkan memohon belas kasihan dengan mendompleng nama mendiang sang ayah karena merasa sungkan dan malu berhadapan langsung. Mereka belum sepenuhnya memercayai keikhlasan hati Yusuf.
Namun, apa tanggapan Yusuf yang legendaris itu? Dalam Kejadian 50:20 (TB2), ia berkata:
"Memang kamu telah merencanakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah merencanakannya demi kebaikan, untuk mewujudkan apa yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup banyak orang."
Yusuf mampu mengampuni karena dia melihat kejahatan dari sudut pandang Allah. Dia paham betul bahwa tidak ada satu hal pun yang terjadi tanpa seizin-Nya, dan Allah sanggup mengizinkan hal buruk terjadi demi menyatakan kebaikan bagi umat-Nya. Perspektif ilahi inilah yang memampukan Yusuf memutus rantai dendam.
























