Pdt. Johannes Verkuyl: Di Sini, Sebiji Gandum Ditanam

Artikel | 10 Jul 2026

Pdt. Johannes Verkuyl: Di Sini, Sebiji Gandum Ditanam


Sebuah benturan pemikiran hebat melanda komunitas Kristen di Belanda ketika pecah erang revolusi di Indonesia. Banyak warga gereja bertanya-tanya, mengapa salah seorang benteng teologi mereka justru berbalik arah dan membela hak-hak kaum pribumi. Tuduhan-tuduhan sinis pun mulai dialamatkan kepadanya. Di tengah ketegangan geopolitik yang melelahkan itu, sang teolog menolak bersikap netral. Ia memandang mandat Injil bukan sebagai aturan iman yang pasif, melainkan sebuah panggilan hidup yang berani untuk menyuarakan keadilan struktural, bahkan ketika suaranya harus menantang arus bangsanya sendiri.

Lelaki itu adalah Johannes Verkuyl. Ia lahir pada 16 Januari 1908 di Nieuw Vennep, Haarlemmermeer, Belanda. Verkuyl tumbuh sebagai anak kelima dari sepuluh bersaudara. Keluarga besarnya adalah petani yang terbiasa bekerja keras, hidup hemat, dan memiliki kegemaran membaca. Lingkungan agraria di tanah reklamasi yang padat itu menempa Verkuyl kecil untuk memahami arti berbagi tanggung jawab, solidaritas, dan empati kepada sesama. Di meja makan rumah mereka, sang ibu sering kali menceritakan kisah-kisah pelayanan misi global, menaburkan benih kerinduan yang kelak menetapkan arah hidup Verkuyl di masa depan.

Menempa Diri untuk Dunia yang Luas

Panggilan teologis Verkuyl muda menuntut ketekunan yang luar biasa. Saat menempuh pendidikan di Het Christelijk Lyceum di Haarlem, ia memilih jurusan klasik Gymnasium demi menguasai bahasa Latin, Ibrani, dan Yunani, di samping empat bahasa modern lainnya. Minat bacanya yang luas membawanya ke Vrije Universiteit di Amsterdam antara tahun 1927 hingga 1932. Di kampus yang independen inilah, ketajaman intelektualnya terasah. Verkuyl mulai gelisah dan mengkritik sikap picik serta eksklusif yang kerap menjangkiti sinode gerejanya sendiri, yang dianggapnya terlalu menutup mata terhadap realitas dunia nyata.

Setahun setelah meneguhkan pernikahannya dengan Rie van den Heuvel, pada 1935 Verkuyl dipercaya menjadi pendeta mahasiswa paruh waktu bagi pemuda-pemuda asal Asia di Belanda. Tugas ini kemudian meningkat menjadi pelayanan penuh waktu. Di asrama-asrama dan meja diskusi yang hangat, ia mendengarkan kritik tajam serta aspirasi politik dari para aktivis Perhimpunan Indonesia (PI) dan Angkatan Muda Kristen Indonesia (Perki). Perjumpaan emosional ini menjungkirbalikkan paradigma misinya: pekabaran Injil tidak boleh hanya berhenti pada pertobatan personal, tetapi harus menjadi misi politis-oikumenis (missio politica oecumenica) yang memperjuangkan keadilan struktural bangsa-bangsa yang tertindas.

Menembus Malam Menuju Tanah Harapan

Pada akhir Desember 1939, di tengah situasi dunia yang kian mencekam oleh bayang-bayang Perang Dunia II, Verkuyl memboyong istri dan tiga anaknya menembus kegelapan menuju pelabuhan Genoa, Italia. Ia ditugaskan gerejanya untuk menjadi pendeta misi di Indonesia. Sebelum berangkat, ia masih sempat menyelesaikan ujian doktoralnya dengan predikat cum laude di bawah bimbingan Prof. J.H. Bavinck. Setibanya di Pelabuhan Tanjung Priok pada Januari 1940. Dari Jakarta, Verkuyl dan keluarga menuju Purwokerto untuk melayani sebagai "asisten jemaat" di residensi Banyumas. Istilah "asisten" sengaja ia pilih demi menegaskan kesetaraan: jemaat lokal adalah mitra yang dewasa dan otonom, bukan bawahan kolonial.

Di Purwokerto, Verkuyl bergumul dengan kenyataan pahit: rendahnya minat baca umat dan minimnya literatur Kristen yang tersedia. Baginya, buku adalah alat pembinaan iman yang krusial. Maka, hingga jauh malam, diterangi kedap-kedip lampu minyak tanah, ia mulai menulis dengan pena tembaga yang dicelupkan ke botol tinta. Namun, badai perang segera menginterupsi pelayanannya. Ketika tentara Jepang menduduki Indonesia, Verkuyl dijebloskan ke penjara di Pekalongan, sementara istrinya yang baru melahirkan beserta empat anak mereka yang masih kecil disekap dan dibawa menuju kamp tawanan di Bandung.

Diplomasi di Atas Sepeda Rongsokan

Fajar kemerdekaan tahun 1945 mempertemukan kembali keluarga Verkuyl yang terpisah di Jakarta. Mereka menumpang hidup di ruang pertemuan Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jl. Kwitang 28, Jakarta Pusat. Verkuyl menjalani tugas barunya sebagai kepala perwakilan pekabaran Injil Belanda. Ia melayani umat dengan tekun meskipun hanya bermodal sepeda rongsokan. Di tengah kecamuk perang revolusi, ia memilih jalan damai. Verkuyl melintasi batas wilayah, masuk ke wilayah Republik di Yogyakarta untuk berunding dengan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta.

 

Tak hanya itu, ia bolak-balik ke Belanda untuk meyakinkan pihak gereja, masyarakat, hingga Ratu Wilhelmina agar mengakui kedaulatan Indonesia. Brosur ilmiah yang ia tulis, De achtergrond van het Indonesische vraagstuk—atau "Latar Belakang Permasalahan Indonesia", memicu badai kritik di negerinya sendiri karena secara radikal membela kemerdekaan Indonesia. Di Belanda ia dicap sebagai pengkhianat; di Indonesia ia sempat dicurigai sebagai agen agama penjajah. Namun, Verkuyl pada pandangannya, karena komitmennya berakar kuat pada missio Dei—Injil harus menyuarakan rekonsiliasi.

Langkah monumentalnya bagi gereja di Indonesia mewujud ketika ia memprakarsai pembentukan Komisi Bacaan Darurat pada Oktober 1946, yang kelak berkembang menjadi Badan Penerbit Kristen (BPK) Gunung Mulia di Jl. Kwitang 22. Di sinilah Verkuyl mencurahkan energinya dari tahun 1946 hingga 1963 sebagai konseptor arah teologis perbukuan. Ia adalah pekerja keras yang membenci kemalasan. Ketika uang kas penerbit belum cukup untuk mencetak buku, Verkuyl secara sembunyi-sembunyi menyerahkan amplop bertuliskan nomen nescio (hamba Allah)—yang ternyata adalah uang dapur istrinya sendiri.

Sunyi di Balik Megahnya Panggung Pelayanan

Namun, pelayanan yang besar kerap menuntut harga personal yang teramat mahal. Sisi kemanusiaan Johannes Verkuyl menyimpan bilur-bilur pengorbanan keluarga yang jarang tersorot publik. Pilihan radikalnya untuk mengaburkan batas antara ruang privat dan pelayanan publik berdampak berat bagi keluarganya. Begitu anak-anaknya memasuki usia sekolah dasar, mereka satu per satu harus dikirim pulang ke Belanda demi mendapatkan fasilitas pendidikan yang memadai.

Perpisahan geografis yang berulang kali terjadi meremukkan ikatan emosional alami di antara saudara sekandung. Di era ketika telepon belum ada dan surat pos udara memakan waktu berminggu-minggu, baik anak maupun orang tua harus menahan pedihnya kerinduan yang mendalam. Istrinya, Rie, memilih mengalah dan menyuapinya sendok demi sendok saat Verkuyl sedang larut dalam ketikan naskahnya, mengubur luka batinnya sendiri sebagai seorang ibu. "Kami bangga Ayah kami terkenal, namun kami sendiri kurang mengenal Ayah," ungkap salah seorang putranya dengan jujur. Di masa tuanya, Verkuyl mengakui dengan penyesalan mendalam bahwa sementara ia sibuk membina ribuan warga jemaat di seberang lautan, anak-anaknya sendiri justru merindukan kehadiran sosoknya sebagai seorang ayah.

Watak Keras sang Manusia Biasa

Verkuyl bukanlah sosok humanis tanpa cela; dokumen sejarah mencatat ia adalah manusia biasa dengan watak dinamis yang meletup-letup, bahkan terkadang defensif dan konfrontatif jika merasa kemurnian organisasi atau teologinya terancam. Watak keras ini mengemuka pada tahun 1965 ketika ia menjabat sebagai Sekretaris Umum Dewan Zending Belanda (NZR). Mendengar rencana sekelompok mahasiswa memasukkan artikel ilmiah karya Prof. W.F. Wertheim yang berhaluan Marxisme dalam sebuah kumpulan tulisan tentang Indonesia, Verkuyl bereaksi dengan kemarahan yang meluap-luap.

Didorong oleh ketakutan pragmatis bahwa nama lembaga zending akan rusak di mata publik Indonesia pasca-peristiwa politik 1965, ia sempat mencap Wertheim sebagai musuh ideologis secara apriori. Walaupun akhirnya melunak setelah memahami bahwa artikel tersebut murni membahas nasib minoritas Tionghoa, insiden ini memperlihatkan sisi lain dari sang teolog oikumene: di bawah tekanan berat, ia pun bisa terjebak dalam kecurigaan kaku dan sikap tidak toleran yang persis sama dengan apa yang ia kritik dari gereja pada masa mudanya.

Menggema hingga Akhir Hayat

Sekembalinya ke Belanda pada akhir tahun 1962, Verkuyl diangkat menjadi mahaguru misiologi di Vrije Universiteit Amsterdam. Buku monumentalnya, Inleiding in de Nieuwe Zendingswetenschap (1975)—yang berarti "Pengantar Ilmu Misiologi Baru"—menegaskan kembali bahwa pekabaran Injil adalah tindakan Allah sendiri (missio Dei), di mana hubungan antara gereja Barat dan gereja Belahan Bumi Selatan harus berdiri sebagai mitra yang setara. Atas jasa-jasanya yang melintasi batas negara, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya Bintang Jasa Pratama pada 18 Januari 1977. 

Seiring bergulirnya waktu, sang teolog pun memasuki musim gugur kehidupannya. Dalam sebuah perenungan masa tuanya, Verkuyl pernah berucap penuh makna: "Ketika kita masih muda, hampir segala sesuatu ditandai dengan kata sudah. Kita sudah bisa berjalan, sudah bisa berbicara, sudah bisa menulis, dan seterusnya. Tetapi ketika kita menjadi tua, hampir segala sesuatu berubah menjadi kata masih. Kita masih dapat melihat, masih dapat mendengar, masih dapat berjalan, masih dapat berbicara… "Kata "masih" itu benar-benar mewujud nyata dalam sisa langkah hidupnya. Ketika tubuh fisiknya kian digerogoti oleh diabetes melitus, gangguan pendengaran yang parah, hingga kebutaan pada mata kirinya, semangatnya sama sekali tidak pernah padam. Dipandu oleh ketelitian Cora van Hilten, istri kedua yang dinikahinya pasca-wafatnya Rie, Verkuyl terus menulis hingga melahirkan wasiat rohaninya, De kern van het christelijk geloof (1992), sebuah karya mendalam yang mengupas tentang "Inti Iman Kristen".

Kenangan manis tentang ketajaman berpikir Verkuyl di usia senja ini turut diabadikan oleh Andar Ismail dalam bukunya yang reflektif, Selamat Berbuah. Andar mengenang momen berharga pada tahun 1995, ketika ia bersama Peter Latuihamallo sedang bertugas selama tiga bulan di Leiden, Belanda. Saat itu, mereka menjumpai Verkuyl yang sudah harus duduk di kursi roda. Tubuhnya kian ringkih; bahkan untuk sekadar memegang sebatang pena, jemarinya perlu dibimbing dengan sabar oleh sang istri. Namun, di balik keterbatasan fisik itu, Andar menyaksikan sendiri bagaimana arus pikiran teolog tua itu masih mengalir jernih, tersusun rapi, dan lancar. 

Ketika Johannes Verkuyl menghembuskan napas terakhirnya pada 27 Januari 2001 dalam usia 93 tahun, ia meninggalkan warisan pemikiran yang abadi bagi gereja modern: bahwa iman yang sejati tidak boleh pasif.

Pdt. Sularso Sopater menyebut Verkuyl sebagai sosok yang berlimpah pengaruh dan inspiratif. Sementara Pdt. P.D. Latuihamallo menyebutnya orang yang konsekuen seumur hidupnya. Sepanjang kurun waktu 45 tahun (1946-1990), tidak kurang dari 30 judul buku karya Verkuyl diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia. Beberapa di antaranya sampai hari ini masih terus dipakai oleh gereja-gereja di Indonesia dalam pendidikan teologia maupun pembinaan warga gereja.

Seperti sebutir gandum yang menjatuhkan dirinya di halaman belakang rumah tua Kwitang 22 pada Oktober 1946, Verkuyl memilih untuk "mati" terhadap kepentingan dirinya sendiri, agar darinya tumbuh buah-buah pelayanan yang lebat bagi Gereja milik Tuhan di seluruh Indonesia. (per)

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia