Bincang Alkitab | Hortensius F. Mandaru, SSL
Perayaan Natal pada masa kini sering kali diasosiasikan dengan libur panjang, tukar kado, makan bersama, perayaan gerejawi, dan pesta yang meriah. Natal telah menjadi hari raya global, bahkan lintas iman, dengan berbagai pernak-pernik budaya dan liturgi yang menempatkannya sebagai “pesta publik”. Dalam arus perayaan yang demikian luas dan meriah, ada risiko bahwa dimensi paling konkret dari Natal justru terpinggirkan, yakni Natal sebagai peristiwa keluarga. Sebuah peristiwa inkarnasi Allah yang terjadi dalam ruang sempit dan rapuh sebuah keluarga Yahudi abad pertama, keluarga Yusuf dan Maria.
Keluarga sebagai Ruang Konkret
Doktrin inkarnasi, Allah menjadi manusia, sering dipahami sebagai konsep teologis yang agung dan abstrak. Namun Injil dengan jelas menunjukkan bahwa kemanusiaan Yesus tidak dimulai dalam ruang ide, melainkan dalam keluarga yang konkret: ada ayah, ibu, bayi, dan konteks sosial-budaya tertentu. Allah mengambil awal kemanusiaan-Nya bukan melalui struktur religius atau institusional, melainkan melalui relasi domestik. Dengan demikian, identitas Yesus sebagai Allah yang menjadi manusia dibentuk dan dimediasi oleh relasi-relasi keluarga yang nyata, dengan segala dinamika dan pergumulannya.
Keluarga Yahudi Abad Pertama: Oikia, Sygeneia, dan Patris
Pemahaman tentang keluarga Yahudi abad pertama menjadi kunci untuk membaca narasi Natal secara lebih kontekstual. Markus 6:4 mencatat perkataan Yesus tentang seorang nabi yang tidak dihormati “di kampung halamannya, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” Pernyataan ini mencerminkan tiga lapis konteks identitas seseorang pada masa itu. Pertama, οἰκία (oikia), yakni rumah tangga besar yang mencakup keluarga inti dan keluarga besar, dengan seorang pater familias sebagai pusat otoritas. Kedua, συγγενής (suggenes) atau kaum keluarga, yakni jaringan kekerabatan yang lebih luas. Ketiga, πατρίς (patris), yaitu kampung halaman atau komunitas lokal. Identitas seseorang, termasuk Yesus, dibentuk dalam relasi dengan ketiga konteks ini sekaligus.
Keluarga yang Terancam Retak Sejak Awal: Matius 1:18-25
Narasi Matius 1:18 menghadirkan keluarga Yesus bukan sebagai keluarga ideal, melainkan keluarga yang sejak awal berada di ambang kehancuran. Maria yang masih berada pada tahap pertama pertunangan kedapatan mengandung. Dalam konteks hukum dan budaya Yahudi, situasi ini bukan sekadar persoalan privat, melainkan skandal publik yang menyentuh kehormatan pribadi, keluarga besar, dan bahkan seluruh desa. Yusuf, yang digambarkan sebagai seorang δίκαιος (dikaios: benar), memilih jalan hukum yang paling manusiawi: menceraikan Maria secara diam-diam. Pilihan ini sah secara hukum dan etis, tapi tidak sejalan dengan rencana Allah.
Intervensi malaikat mengubah arah cerita: Yusuf diminta untuk tetap mengambil Maria sebagai istrinya dan kelak memberi nama anak itu. Keputusan ini menyelamatkan keluarga dari kehancuran, menjaga kehormatan Maria, Yusuf, kaum keluarga, dan kampung halaman, serta memastikan Yesus diterima secara sosial sebagai “anak Yusuf”.
Yusuf yang Diam: Ayah yang Membentuk Identitas
Menariknya, dalam seluruh Injil, Yusuf diceritakan tidak pernah mengucapkan satu kata pun. Ia hadir sebagai figur yang diam, tetapi tindakannya memiliki dampak teologis yang besar. Dengan memberi nama Yesus, Yusuf mengakui-Nya secara legal sebagai anak, sekaligus memasukkan Yesus ke dalam garis keturunan Daud. Dengan demikian, Yusuf menjadi penghubung antara Yesus dan seluruh sejarah Israel sebagaimana tercermin dalam silsilah Matius. Diamnya Yusuf bukanlah ketidakhadiran, melainkan bentuk ketaatan yang aktif, sebuah peran ayah yang membentuk identitas anak.
Selain itu, sikap Yusuf yang tidak bersetubuh dengan Maria sampai kelahiran Yesus (Matius 1:25) mencerminkan penghormatan mendalam terhadap misteri ilahi. Seperti Yusuf dalam Perjanjian Lama yang menghormati milik orang lain, Yusuf dalam Perjanjian Baru menghormati Maria sebagai perempuan yang “dimiliki” Allah.
Maria: Ibu yang Bertanya sekaligus Menyimpan Pertanyaan
Jika Injil Matius menyoroti Yusuf, Injil Lukas memberi ruang besar bagi Maria. Maria digambarkan sebagai perempuan yang beriman dan reflektif. Ia tidak meminta bukti seperti Zakharia, melainkan penjelasan. Iman, dalam diri Maria, bukan iman yang menanggalkan nalar, tetapi iman yang ingin mengerti. Lukas dengan sengaja menampilkan kontras ini untuk menegaskan bahwa ketaatan tidak selalu lahir dari otoritas religius, melainkan dari keterbukaan hati.
Dalam konteks keluarga Yahudi abad pertama, relasi ibu dan anak merupakan pusat pembentukan identitas awal. Maria tidak hanya melahirkan Yesus, tetapi juga ikut menanggung konsekuensi sosial dan emosional dari panggilan-Nya. Nubuat Simeon bahwa pedang akan menembus jiwanya menandakan bahwa keterlibatan Maria dalam misi Yesus adalah keterlibatan yang penuh luka, konflik, dan ketegangan.
Masa Remaja dan Pembentukan Identitas: Yesus pada Usia Dua Belas Tahun
Lukas 2:48–52 menghadirkan satu-satunya kisah masa remaja Yesus. Di sini terlihat ketegangan yang sangat manusiawi antara orang tua dan anak. Maria berbicara tentang “bapakmu” (Yusuf), sementara Yesus merujuk pada “Bapa-Ku” (Allah). Perbedaan prioritas ini menandai tahap awal kemandirian identitas Yesus. Namun ketegangan itu tidak berujung pada perpecahan. Mereka pulang bersama ke Nazaret, dan Yesus tetap hidup dalam asuhan mereka. Identitas Yesus bertumbuh bukan dalam harmoni sempurna, melainkan dalam dialog yang tidak selalu saling memahami.
Penutup: Natal sebagai Peristiwa Keluarga
Natal bukanlah kisah ideal tentang keluarga tanpa konflik, melainkan kisah Allah yang hadir dan bekerja dalam keluarga yang rapuh, tidak sempurna, dan penuh ketegangan. Yusuf dan Maria bukan figur pelengkap dalam kisah Natal, melainkan subjek penting yang melalui ketaatan, diam, pertanyaan, dan pergumulan mereka, ikut membentuk identitas Yesus. Dengan demikian, merayakan Natal berarti juga mengakui bahwa Allah hadir bukan hanya dalam liturgi megah dan perayaan publik, tetapi dalam relasi keluarga yang nyata, di tengah konflik, ketidakpahaman, dan usaha untuk tetap berjalan bersama. Natal tanpa Yusuf dan Maria bukanlah Natal Alkitabiah, sebab justru melalui merekalah inkarnasi menjadi sungguh manusiawi.
“Natal selalu berarti Natal yang membawa perubahan pada keluarga, karena kita mengingat bahwa Tuhan yang menjadi manusia adalah Tuhan yang hidup dan lahir dalam sebuah keluarga yang konkret. Keluarga yang nyata dengan problem-problem konkret sehari-hari. Disitulah Tuhan datang, disitulah Tuhan menguatkan kita semua dalam satu keluarga. Itulah pesan abadi bagi kita sampai hari ini”

























