NATAL : PERAYAAN KRISTIANI ATAU KAFIR?

Artikel | 27 Des 2025

NATAL : PERAYAAN KRISTIANI ATAU KAFIR?


Seminar Alkitab | Pdt. Anwar Tjen, Ph.D.

 

Natal merupakan salah satu perayaan iman terpenting bagi umat Kristiani, yang diperingati sebagai hari kelahiran Yesus Kristus ke dunia. Istilah Natal berasal dari bahasa Latin natalis yang berarti “kelahiran”. Namun demikian, dalam sejarah dan praktik kekristenan, Natal tidak luput dari polemik. Sebagian pihak menuduh Natal sebagai perayaan pagan yang diadopsi dari perayaan kelahiran dewa matahari pada tanggal 25 Desember. Tuduhan ini tidak hanya datang dari luar Kekristenan, tetapi juga dari sebagian kalangan Kristen sendiri. Oleh karena itu, pertanyaan “Natal: perayaan Kristiani atau kafir?” menjadi topik klasik yang terus muncul dan menuntut penjelasan teologis yang memadai.

 

Kesaksian Alkitab tentang Kelahiran Yesus

Ketika berbicara mengenai kelahiran Yesus, penting dicatat bahwa kisah ini hanya terdapat dalam dua Injil, yaitu Injil Matius dan Injil Lukas. Injil Markus, yang oleh mayoritas ahli Perjanjian Baru dianggap sebagai Injil tertua, tidak memuat kisah kelahiran Yesus. Markus memulai Injilnya dengan tampilnya Yohanes Pembaptis sebagai penggenapan nubuat Yesaya, lalu langsung berlanjut pada pembaptisan Yesus. Fakta ini memunculkan diskusi teologis penting: apakah Yesus diakui sebagai Anak Allah sejak awal, atau baru setelah pembaptisan-Nya?

 

Diskusi tersebut melahirkan pandangan yang dikenal sebagai adopsionisme, yaitu pemahaman bahwa Yesus “diangkat” menjadi Anak Allah pada suatu titik tertentu dalam hidup-Nya. Dalam konteks inilah Injil Matius dan Lukas menampilkan kisah kelahiran Yesus, untuk menegaskan bahwa status Yesus sebagai Anak Allah sudah ada sebelum pembaptisan-Nya. Dengan demikian, kisah kelahiran bukan sekadar narasi historis, melainkan pernyataan Kristologis yang penting.

 

Injil sebagai Biografi Kuno dan Fleksibilitas Tradisi

Kajian Alkitab kontemporer memahami Injil sebagai bentuk biografi kuno. Sebagai biografi, Injil memuat fakta-fakta inti yang sama, tetapi juga memperlihatkan fleksibilitas dalam detail, penekanan, dan tradisi yang disertakan. Matius dan Lukas sama-sama menegaskan bahwa Yesus lahir dari Maria yang masih perawan, lahir di Betlehem, dan dibesarkan di Nazaret. Namun, keduanya menyajikan detail yang berbeda: Matius menggambarkan keluarga Yesus awalnya tinggal di Betlehem lalu mengungsi ke Mesir sebelum menetap di Nazaret, sedangkan Lukas menyatakan bahwa keluarga Yesus berasal dari Nazaret dan pergi ke Betlehem karena sensus.

 

Perbedaan ini tidak perlu dipahami sebagai kontradiksi, melainkan sebagai variasi yang sah dalam penulisan biografi kuno. Tujuan utama penulis Injil bukanlah menyajikan laporan sejarah modern yang rinci, melainkan menyampaikan makna teologis tentang siapa Yesus bagi komunitas iman mereka.

 

Persoalan Historis: Sensus dan Tahun Kelahiran Yesus

Injil Lukas mengaitkan kelahiran Yesus dengan sensus pada masa Kaisar Agustus, ketika Kirenius menjadi wali negeri Siria. Secara historis, sensus Kirenius diketahui terjadi sekitar tahun 6-7 M, yang tampaknya bertentangan dengan kesaksian Injil Matius bahwa Yesus lahir pada masa pemerintahan Herodes Agung, yang wafat sekitar tahun 4 SM. Para ahli menyadari ketegangan ini dan mengusulkan berbagai hipotesis, meskipun data sejarah yang tersedia tidak sepenuhnya memadai.

 

Namun, yang ditekankan Injil bukanlah ketepatan kronologis modern, melainkan konteks historis umum: Yesus lahir pada masa pemerintahan Romawi, di bawah Kaisar Agustus. Dari sinilah para pakar kemudian menyimpulkan bahwa kelahiran Yesus kemungkinan besar terjadi sekitar tahun 6-4 SM, bukan tahun 1 M seperti yang diasumsikan oleh penanggalan Masehi.

 

Perkembangan Gereja dan Dinamika Kontekstualisasi

Seiring berjalannya waktu, Kekristenan berkembang pesat melampaui Palestina melalui karya misi para rasul, terutama Paulus. Pada akhir abad ke-2, gereja telah menyebar dari Asia Kecil hingga Yunani, Italia, Afrika Utara, Persia, bahkan Britania. Perkembangan ini terjadi di tengah konteks penganiayaan, baik di Yerusalem maupun di Roma dan wilayah lain, seperti pada masa Kaisar Nero dan Diokletianus.

 

Dalam proses penyebaran ini, Injil tidak sekadar “dipindahkan” secara mentah dari Palestina ke berbagai konteks budaya baru. Sebaliknya, terjadi dialog antara Injil dan budaya setempat, yang melahirkan reinterpretasi dan transformasi tradisi. Proses inilah yang juga memengaruhi pemahaman dan perayaan kelahiran Kristus.

 

Tradisi, Simbol, dan Penafsiran Alkitab

Alkitab sendiri menunjukkan bahwa penafsiran dan reinterpretasi merupakan bagian dari tradisi iman. Injil Matius, misalnya, mengaitkan kisah orang-orang majus dengan nubuat Yesaya 60:6. Gambaran majus yang menunggang unta, meskipun tidak disebutkan secara eksplisit dalam teks Injil, berkembang dari pembacaan Perjanjian Lama dan menjadi tradisi visual yang diterima luas.

 

Demikian pula, Irenius dari Lyon menafsirkan persembahan emas, mur, dan kemenyan sebagai simbol Kristologi: emas melambangkan Yesus sebagai Raja, mur menunjuk pada kematian-Nya, dan kemenyan menyatakan keilahian-Nya. Fokus gereja mula-mula bukan pada verifikasi fakta sejarah semata, melainkan pada makna iman yang diwartakan melalui kisah-kisah tersebut.

 

Bintang Betlehem dan Pembacaan Iman

Bintang Betlehem juga menjadi contoh bagaimana teks Alkitab ditafsirkan secara simbolis. Berbagai teori astronomi dikemukakan, mulai dari supernova hingga konjungsi planet. Namun, kajian teologis seperti yang dikemukakan Raymond E. Brown melihat bintang Betlehem dalam terang nubuat Bileam (Bilangan 24:17), yang berbicara tentang bintang yang terbit dari Yakub. Dengan demikian, teks menafsirkan teks, dan gereja mula-mula melihat benang merah antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

 

Kelahiran, Baptisan, dan Epifania

Tidak semua Bapa Gereja menerima perayaan hari kelahiran. Origenes, misalnya, menolak perayaan ulang tahun tokoh-tokoh Alkitab karena dianggap sebagai praktik pagan. Bagi sebagian teolog awal, peristiwa yang lebih penting adalah kematian, yang dipahami sebagai kelahiran menuju kehidupan kekal. Namun, tradisi tentang kelahiran Yesus terus berkembang.

 

Dalam kalangan gnostik dan gereja Timur, tanggal 6 Januari diperingati sebagai Epifania, yang dikaitkan dengan pembaptisan Yesus dan dipahami sebagai kelahiran rohani-Nya. Hingga kini, beberapa gereja Ortodoks masih merayakan tanggal ini sebagai peringatan kelahiran Kristus dalam makna epifani.

 

Simbolisasi Terang dan Penanggalan

Penentuan tanggal kelahiran Yesus sangat dipengaruhi oleh simbolisasi terang. Beberapa Bapa Gereja mengaitkan 25 Maret, yang dalam kalender Romawi bertepatan dengan ekuinoks musim semi, sebagai tanggal inkarnasi atau bahkan kematian Kristus. Sextus Julius Africanus menafsirkan bahwa jika inkarnasi terjadi pada 25 Maret, maka kelahiran Yesus jatuh sembilan bulan kemudian, yakni 25 Desember. Penafsiran simbolik ini perlahan membentuk tradisi penanggalan Natal.

 

Kristus sebagai Surya Kebenaran

Gambaran Kristus sebagai terang dan surya kebenaran berakar kuat dalam Alkitab dan tradisi gereja purba. Injil Lukas menggambarkan Kristus sebagai “Surya pagi dari tempat yang tinggi” (Lukas 1:78 TB2), sementara Injil Matius, Markus, Lukas, dan Kitab Wahyu memuat citra Yesus yang bercahaya seperti matahari. Para Bapa Gereja seperti Klemens dari Aleksandria, Origenes, Athanasius, Ambrosius, dan Agustinus mengembangkan simbolisasi ini secara luas.

 

Simbol Kristus sebagai surya kebenaran kemudian diperhadapkan dengan kultus matahari dalam Kekaisaran Romawi, seperti pemujaan Sol Invictus dan perayaan Saturnalia. Di sinilah terjadi pertarungan keyakinan: gereja menegaskan bahwa terang sejati bukanlah matahari ciptaan, melainkan Kristus Sang Pencipta.

 

Dies Natalis Christi: Transformasi dan Kontekstualisasi

Pada tahun 336 M, gereja Roma secara resmi menetapkan 25 Desember sebagai Dies Natalis Christi, hari kelahiran Kristus. Penetapan ini merupakan pernyataan iman yang disengaja, untuk memperhadapkan Natal Kristus dengan Dies Natalis Solis Invicti. Agustinus dengan tegas mengingatkan umat agar merayakan hari itu bukan karena matahari yang terlihat, melainkan karena Dia yang menciptakan matahari.

 

Kodeks tertua dari tahun 354 mencatat bahwa Kristus dilahirkan pada 25 Desember di Betlehem, menandakan bahwa perayaan Natal telah mengakar kuat di gereja-gereja Barat. Sementara itu, gereja-gereja Timur secara bertahap mengadopsi tanggal 25 Desember, meskipun tetap mempertahankan 6 Januari sebagai Epifania.

 

Penutup: Natal sebagai Pernyataan Iman

Penetapan Natal pada tanggal 25 Desember merupakan hasil dari proses panjang penafsiran Alkitab, dialog dengan budaya, dan pertarungan keyakinan dalam konteks sejarah Romawi. Natal bukanlah sekadar adaptasi dari perayaan pagan/kafir, melainkan sebuah pernyataan iman bahwa Yesus Kristus adalah Surya Kebenaran, Terang Sejati yang mengalahkan kegelapan. Dengan demikian, Natal adalah perayaan Kristiani yang lahir dari refleksi teologis mendalam, bukan kompromi iman, melainkan kesaksian Injil yang dikontekstualisasikan bagi dunia. 


Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia