Narasumber: Arvin Gouw, Ph. D.
Editor: Juan Nicohlas
Ketika membahas mengenai narasi penciptaan di kitab Kejadian, pertanyaan yang paling sering muncul adalah “apakah konsep hari pada narasi tersebut sama seperti yang kita pahami sekarang, yaitu 1 hari terdiri dari 24 jam, ataukah 1 hari setara dengan miliaran tahun?”
Bagaimanakah pendekatan historis menafsir hari-hari dalam narasi penciptaan?
Sejarah Interpretasi 6 hari Penciptaan
Para bapa gereja, pada mulanya mengajukan pertanyaan yang secara fundamental berbeda dari perdebatan modern mengenai penciptaan.
- Apakah urutan penciptaan menggambarkan rangkaian temporal, urutan logis ? ataukah keduanya?
- Serentak atau Bertahap?
- Apakah makna kata hari (Yom) dapat mewakili usia geologis?
Pertanyaan-pertanyaan ini bersinggungan dengan narasi yang mempertanyakan, kenapa Allah harus menciptakan segala sesuatu satu persatu. Bukankah Allah maha kuasa seharusnya bisa membuat segalanya terjadi serentak?
Philo dari Aleksandria memiliki pendapat bahwa Allah yang mahakuasa tidak memerlukan enam periode waktu untuk menciptakan dunia dan isinya. Enam hari merupakan sebuah tatanan atau keteraturan dari penciptaan, bukan batasan durasi yang dibutuhkan oleh Allah.
Philo juga menilai bahwa angka enam sebagai angka yang dinilai “sempurna” dan sesuai dengan kosmos yang teratur. Namun, disisi lain, Philo tidak mengajarkan gagasan modern bahwa setiap hari penciptaan mewakili jutaan atau milyaran tahun.
Klemens dari Aleksandria mengintegrasikan narasi penciptaan ke dalam penafsiran simbolis dan numeris, yang menunjukkan bahwa enam hari memiliki makna teologis yang melampaui kronologi sederhana. Sementara itu, Origenes mempertanyakan bagaimana hari pertama, kedua, dan ketiga dapat memiliki petang dan pagi sebelum matahari, bulan, dan bintang diciptakan pada hari yang keempat.
Abad Pertengahan: Luther dan Calvin
Martin Luther menolak gagasan bahwa Musa sekadar membagi dan menuliskan narasi penciptaan ke dalam bentuk enam hari secara literalis. Luther melihat dan memperlakukan urutan narasi penciptaan di Kitab Kejadian sebagai rangkaian hari-hari penciptaan yang nyata.
John Calvin menolak pandangan bahwa dunia dibentuk dalam satu momen. Ia menyatakan bahwa Allah “mengambil ruang enam hari” untuk mengakomodasi karya-Nya kepada pemahaman manusia.
Sejarah Interpretasi Usia Bumi
Orang-orang Kristen pramodern (sebelum abad ke-16) mengasumsikan bahwa bumi berusia muda, baik secara harfiah maupun alegoris. Orang Kristen pramodern menghitung berdasarkan kronologi Alkitabiah bahwa dunia seharusnya berusia ribuan tahun bukan miliaran tahun. James Ussher menjadi tokoh yang terkenal dengan usahanya membangun kronologi Alkitabiah yang menempatkan penciptaan pada milenium keempat sebelum Masehi.
Namun, meyakini usia dunia yang muda tidak sama dengan Kreasionisme Bumi Muda Modern. Orang-orang Kristen pramodern tidak membangun pemikiran alternatif terhadap ilmu geologi modern karena pada masa tersebut ilmu geologi belum berkembang. Narasi dan pemikiran mereka dibangun berdasarkan silsilah dan sejarah yang terdapat dalam Alkitab.
Ilmu Pengetahuan Modern
Selama abad ke-18, para penafsir mulai membandingkan narasi penciptaan dengan fenomena alam, termasuk geologi. Sejarah dan fenomena alam menjadi sumber untuk merekonstruksi masa lalu bumi sehingga mengubah pemahaman dan perdebatan mengenai narasi penciptaan. Ilmu geologi pada abad ke-18 dan ke-19 menunjukan dengan jelas bahwa bumi memiliki sejarah yang sangat panjang. Hal ini juga didukung oleh teori Darwin, yang membutuhkan rentang waktu geologis yang panjang sebagaimana diuraikan dalam bukunya, On the Origin of Species.
Banyak orang Kristen dapat menerima temuan geologis yang menunjukkan panjangnya usia bumi, tetapi mereka menolak teori evolusi Darwin.
Bagaimana Mendamaikan Ilmu Geologi dengan Narasi Kejadian?
Terdapat dua teori yang berupaya mendamaikan temuan geologi dengan narasi penciptaan dalam Kitab Kejadian.
1.Teori Gap
Menempatkan narasi geologis yang panjang sebelum rangkaian penciptaan dalam narasi penciptaan. Apa yang digambarkan oleh ilmu geologi mengenai usia bumi yang panjang dianggap terjadi dalam rentang waktu sebelum hari penciptaan, yaitu sebelum ayat 5.
2.Teori Hari-Usia
Teori Hari-Usia memandang hari-hari dalam narasi penciptaan bukan sebagai hari yang terdiri dari 24 jam, melainkan sebagai periode waktu yang dapat berlangsung selama ribuan bahkan miliaran tahun.
Melalui kedua pendekatan teori tersebut, teori geologi dan narasi penciptaan dalam Kitab Kejadian diupayakan untuk dapat diakomodasi secara bersamaan.
Kaum Fundamentalis
Kaum Fundamentalis awal tidak memiliki pandangan yang seragam mengenai usia bumi yang muda. Gerakan Fundamentalis sendiri terjadi karena adanya gerakan modernisme yang terjadi pada abad ke-20. Gerakan fundamentalis menentang teori evolusi dan modernisme teologi. Namun, menentang teori evolusi bukanlah berarti menolak pendapat bahwa bumi berusia berusia tua. Sebagian kaum fundamentalis menerima bahwa bumi berusia tua, tapi tetap meyakini bahwa manusia diciptakan secara khusus, yaitu Adam dan Hawa.
Dalam buku The Fundamentals, kaum fundamentalis tetap mempertahankan otoritas Alkitab dan doktrin-doktrin Kristen Tradisional, seperti Kristologi, penebusan, kebangkitan. Namun, perihal bumi berusia muda dan geologi Air Bah tidak ditetapkan sebagai prinsip fundamental yang menentukan ortodoksi Kristen.
Air Bah
Ellen G. White dari gereja Advent Hari Ketujuh memberikan pandangan yang berbeda dari Teori Gap dan Teori Hari-Usia. Bagi Ellen, peristiwa air bah yang dialami Nuh telah mengubah banyak hal, terutama bentuk geologi bumi. Air Bah digambarkan oleh Ellen sebagai kekuatan pembentuk yang secara radikal membentuk ulang tatanan bumi. Air Bah digunakan untuk menjelaskan keberadaan organisme yang terkubur (fosil dinosaurus) dan berbagai gangguan geologis.
George McCready Price mengembangkan geologi Air Bah. Ia menerima otoritas Ellen G. White dan berusaha mempertahankan kisah sejarah bumi berdasarkan penjelasan ilmiah. Basil dari Kaisarea menafsirkan hari-hari penciptaan sebagai hari biasa berabad-abad sebelum Price. Dengan demikian, kontribusi Price terletak pada upaya menggabungkan keyakinan tersebut dengan penjelasan geologis alternatif mengenai catatan fosil dan stratigrafi. Pengembangan geologi Air Bah menjadi poin penting dari kontribusi Price, bukan semata-mata kepercayaan mengenai hari penciptaan secara literal.
Banyak kalangan Protestan konservatif yang curiga terhadap Adventisme Hari Ketujuh dan oleh karena itu banyak golongan protestan yang enggan menerima geologi bumi muda yang dikembangkan Price. Teori Gap dan Teori Hari-Usia tetap menjadi teori yang umum dipegang oleh kalangan Kristen Konservatif di era tersebut.
Henry M. Morris pada awalnya menerima Teori Gap. Namun setelah membaca buku dari Price, Morris akhirnya lebih menerima geologi Air Bah karena dianggap dapat memberikan penjelasan alternatif mengenai sejarah bumi yang lebih konsisten. Morris kemudian menjadi salah satu pendukung paling berpengaruh dari Kreasionisme Bumi Muda modern.
Henry M. Morris bermitra dengan John C. Whitcomb Jr. untuk menerbitkan buku The Genesis Flood (1961), yang isinya menggabungkan enam hari penciptaan biasa, penciptaan baru-baru ini, Air Bah Universal, dan Geologi Air Bah. Buku ini menjadi penting karena menemukan kembali kepercayaan akan enam hari penciptaan secara literal.
2 Klaim yang harus Dihindari
- Tidak semua orang Kristen sepanjang sejarah menafsirkan Kitab Kejadian sebagai enam hari biasa yang masing-masing terdiri dari dua puluh empat jam. Origenes dan Agustinus memberikan contoh penafsiran non-kronologis yang jelas.
- Mengklaim bahwa penafsiran non literal baru muncul setelah berkembangnya ilmu pengetahuan modern. Origenes dan Agustinus mengembangkan pembacaan non-kronologis jauh sebelum munculnya ilmu geologi modern atau teori dari Darwin.
Kesimpulan
Kekristenan tidak pernah memiliki penafsiran yang sepenuhnya seragam tentang hari-hari penciptaan dalam Kitab Kejadian. Pembacaan non-kronologis telah dikenal sejak zaman kuno, jauh sebelum berkembangnya ilmu geologi modern. Sementara itu, pembacaan yang memahami hari sebagai hari biasa juga memiliki preseden yang kuat sejak zaman kuno. Penemuan mengenai waktu geologi turut mengubah perdebatan dengan menghadirkan pemahaman baru mengenai sejarah fisik bumi yang kemudian memengaruhi penafsiran Alkitab.
Penutup
Narasi penciptaan telah menjadi bagian dari pembahasan yang panjang dan memiliki beragam interpretasi. Iman Kristen dapat melampaui berbagai perubahan ilmu pengetahuan yang terjadi sepanjang zaman karena kebenaran teologis tidak semata-mata bergantung pada penjelasan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, janganlah takut atau ragu ketika iman Kristen diperhadapkan dengan tantangan dari ilmu pengetahuan.
Artikel ini disadur dari Seminar Alkitab. Tonton versi video lengkapnya di YouTube LAI: https://www.youtube.com/watch?v=7AGG2V3pGXo
























