Seminar Alkitab | Pdt. Prof. Robert Setio, Ph.D.
Alkitab memuat berbagai kisah unik yang kerap mengundang rasa ingin tahu pembacanya. Di antaranya adalah cerita-cerita tentang binatang yang tampak “bersuara,” bertindak di luar kebiasaan, bahkan terlibat dalam peristiwa-peristiwa penting dalam karya Allah. Dari keledai Bileam hingga gambaran simbolik dalam kitab Wahyu, kehadiran binatang dalam Alkitab bukanlah sekadar pelengkap cerita, melainkan menyimpan makna yang lebih dalam untuk direnungkan.
Binatang dalam Narasi Penciptaan
Narasi penciptaan dalam Kejadian menempatkan binatang dalam posisi yang tidak dapat diabaikan. Mereka hadir sebelum manusia dan dinyatakan “baik” oleh Allah. Urutan ini bukan sekadar kronologi, melainkan mengandung makna teologis: kehidupan tidak dibangun secara hierarkis yang meniadakan yang lain, melainkan secara relasional dan saling bergantung.
Sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Robert, keberadaan binatang ikut menentukan keberadaan manusia. Tanpa binatang, tidak ada manusia dalam arti yang utuh. Dengan demikian, seluruh ciptaan membentuk suatu kesatuan yang terintegrasi.
Mazmur 104 memperlihatkan dimensi ini secara puitis. Allah digambarkan sebagai pemelihara seluruh ciptaan, termasuk binatang liar. Ia memberi makan singa dan mengatur ritme kehidupan alam. Gambaran ini menegaskan bahwa perhatian Allah tidak terbatas pada manusia, melainkan meliputi seluruh ciptaan.
Binatang sebagai Cermin Eksistensial Manusia
Kisah dalam Kejadian 2:18–20 sering kali dibaca dengan fokus pada penciptaan perempuan. Namun, sebelum itu terjadi, binatang justru tampil sebagai bagian penting dalam proses pencarian “penolong yang sepadan.”
Binatang dibentuk, dihadirkan, diperhadapkan kepada manusia, dan diberi nama. Proses ini menunjukkan adanya relasi yang intens dan reflektif. Manusia tidak sekadar mengamati, tetapi mempertimbangkan, mengenali, dan memberi identitas. Di sinilah binatang berfungsi sebagai cermin eksistensial. Melalui perjumpaan dengan binatang, manusia belajar mengenali dirinya. Bukan sebagai pusat segala sesuatu, melainkan sebagai bagian dari ciptaan.
Refleksi ini sejalan dengan pemikiran Jacques Derrida, dalam karyanya The Animal That Therefore I Am, mengisahkan pengalaman eksistensial ketika ia “ditatap” oleh seekor kucing. Ia menulis bahwa dalam tatapan itu ia merasa “telanjang,” menyadari kerapuhan dirinya sebagai manusia. Kesadaran seperti ini justru menjadi pintu masuk menuju spiritualitas yang autentik. Sebab, kesadaran diri yang sejati bukanlah kesadaran akan kekuatan, melainkan kesadaran akan kerapuhan dan ketergantungan—kepada Allah dan kepada ciptaan lain.
Binatang sebagai Medium Pewahyuan: Kisah Bileam
Kisah dalam Bilangan 22 tentang keledai Bileam menjadi salah satu contoh paling eksplisit mengenai binatang yang “berkata.” Namun, fokus utama kisah ini bukan pada keanehan tersebut, melainkan pada fungsi teologisnya.
Keledai Bileam melihat malaikat Tuhan lebih dahulu daripada tuannya. Ia berhenti, menolak berjalan, bahkan akhirnya berkata/berbicara. Tindakan ini menyelamatkan Bileam dari bahaya. Dalam terang ini, binatang tampil sebagai medium pewahyuan. Allah tidak hanya berbicara melalui nabi atau manusia, tetapi juga melalui ciptaan lain. Keledai Bileam “ikut di dalam karya penyelamatan Allah.”
Dengan demikian, suara binatang dalam Alkitab bukan sekadar fenomena ajaib, melainkan tanda bahwa Allah dapat berbicara melalui ciptaan-Nya. Pertanyaannya bukan lagi apakah binatang bisa berbicara, tetapi apakah manusia mampu mendengar.
Binatang dalam Pembentukan Kesadaran Kosmik: Kisah Ayub
Dalam kitab Ayub, binatang memainkan peran penting dalam membentuk kesadaran tokoh utama. Setelah pergulatan panjang dengan penderitaan, Ayub akhirnya ‘dibungkam’ bukan oleh jawaban logis, tetapi oleh penglihatan akan kebesaran ciptaan, termasuk binatang-binatang raksasa seperti Behemot.
Binatang di sini menjadi medium pembelajaran. Mereka memperluas horizon Ayub, dari fokus antroposentris menuju kesadaran kosmik. Binatang itu dipakai untuk menyadarkan Ayub bahwa kehidupan ini tidak hanya tentang dirinya.
Etika terhadap Binatang
Kitab Taurat memberikan perhatian khusus terhadap etika terhadap binatang. Dalam Keluaran 23, bahkan binatang seperti lembu dan keledai harus ikut beristirahat pada hari Sabat. Lebih jauh, dalam Ulangan 22:6, terdapat perintah untuk tidak mengambil induk burung bersama anaknya. Tradisi rabinik memberikan dua alasan: ketaatan kepada perintah Allah, dan pembentukan kepekaan manusia.
Di sini, etika terhadap binatang bukan sekadar soal perlindungan makhluk lain, tetapi soal integritas manusia. Cara manusia memperlakukan binatang mencerminkan kualitas spiritual dan moralnya.
Simbolisme Binatang
Alkitab juga menggunakan binatang sebagai simbol teologis. Ular dalam Kejadian 3 melambangkan kecerdikan; domba melambangkan kepasrahan; singa kekuasaan; serigala keserakahan. Dalam Perjanjian Baru, Yesus disebut sebagai “Anak Domba Allah,” dan digambarkan sebagai gembala yang baik. Dalam kitab Wahyu, binatang-binatang surgawi turut menyembah Allah dalam liturgi kosmik.
Simbol-simbol ini mengundang pembaca untuk melihat “melampaui” bentuk literal. Simbol adalah kaca-mozaik yang memperlihatkan realitas yang lebih dalam.
Keselamatan dalam Perspektif Eskatologis
Kitab Wahyu menghadirkan visi keselamatan yang melibatkan seluruh ciptaan. Binatang tidak hanya hadir, tetapi ikut ambil bagian dalam penyembahan dan tatanan kosmik yang baru. Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan Allah bersifat holistik. Ia tidak terbatas pada manusia, tetapi mencakup seluruh ciptaan.
Teolog Jürgen Moltmann menegaskan, “The community of creation overcomes the isolation of the human being.” Komunitas ciptaan mengatasi isolasi manusia. Dengan demikian, manusia bukan pusat tunggal, melainkan bagian dari komunitas ciptaan yang lebih luas.
Teologi yang Adil bagi Binatang
Dalam perkembangan teologi, muncul kesadaran akan pentingnya animal theology. Teolog seperti Andrew Linzey menegaskan, “If God is just, then God’s justice must embrace all sentient creatures.” Keadilan Allah mencakup semua makhluk yang mampu merasakan. Ini menantang paradigma lama yang terlalu antroposentris.
Juga dalam ensiklik Laudato Si’ dari Paus Fransiskus menegaskan, “Each creature possesses its own particular goodness and perfection.” Setiap makhluk memiliki kebaikan dan kesempurnaannya sendiri.
Krisis Relasi Manusia dan Binatang
Realitas di Indonesia menunjukkan bahwa relasi manusia dengan binatang masih menghadapi banyak tantangan. Kekerasan terhadap hewan, eksploitasi, dan ketidakpedulian menjadi fenomena yang jamak dijumpai di masyarakat. Prof. Robert mengingatkan bahwa kondisi ini mencerminkan rendahnya kesadaran peradaban, “Bangsa yang beradab adalah bangsa yang menghargai alam, termasuk binatang.” Dengan demikian, krisis ekologis dan krisis kemanusiaan berjalan beriringan.
Implikasi Pastoral dan Eklesiologis
Gereja dipanggil untuk merespons realitas ini secara konkret, misalnya:
a. Memasukkan ekoteologi dalam bahan-bahan pembinaan gereja
· Mengembangkan teologi yang adil bagi binatang
· Mengintegrasikan ekoteologi dalam pendidikan iman
· Mengembangkan liturgi yang inklusif terhadap ciptaan
b. Menyediakan layanan pencegahan dan perlindungan binatang dari ekkejaman manusia
c. Membangun kehidupan rohani (spiritualitas) yang didasari atas kesadaran akan kerapuhan diri.
Semua ini berangkat dari kesadaran bahwa relasi dengan binatang adalah bagian dari relasi dengan Allah.
Penutup
Dari Taman Eden hingga takhta surgawi dalam Wahyu, binatang tidak pernah benar-benar “diam.” Mereka hadir dalam penciptaan, dalam kejatuhan, dalam penyelamatan, dan dalam pemulihan kosmik. Maka pertanyaannya kembali menggema: apakah suara dari mulut binatang itu mukjizat, mitos, atau teguran ilahi? Jawabannya mungkin terletak pada kesiapan manusia untuk mendengar.
“Menghormati binatang bukan sentimentalitas. Ia adalah ujian spiritualitas. Sebab siapa yang gagal mencintai ciptaan akan sulit memahami Sang Pencipta.”
(Pdt. Prof. Robert Setio, Ph.D.)
























