Pada abad ke-20, penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa daerah di Nusantara terus berlanjut. Di tengah perjalanan itu, hadir Pdt. Jaulung Wismar Saragih (1888–1968), seorang bumiputra yang mengabdikan hidupnya bagi penerjemahan Alkitab dalam bahasa Simalungun.
Ia lahir di Sinondang, dekat Pematang Raya, Sumatra. Sejak kecil, ia dibentuk oleh didikan ayahnya. Ia belajar membaca, bekerja, serta menyerap berbagai hikmat hidup, mulai dari amsal hingga tradisi lisan yang diwariskan dalam lingkungannya. Sebelum belajar di sekolah zending Jaulung sempat mengira Tuhan Yesus adalah orang Toba.
Ia mendengar seluruh pengajaran tentang Alkitab, nyanyian gereja, dan Hukum Allah dalam bahasa Toba. Agar dapat memahami pelajaran itu, ia pun tekun mempelajari bahasa tersebut. Namun suatu hari, ketika mengikuti kebaktian di Sigumpar yang dipimpin oleh Ludwig Ingwer Nommensen, hatinya tersentak oleh sebuah doa nyanyian: permohonan agar orang Simalungun di Raya, Purba, dan Tigaras dibimbing kepada Tuhan. Untuk pertama kalinya ia merasa disebut, diperhatikan, dan dikasihi dalam doa gereja. Sejak saat itu, benih iman mulai tumbuh dalam hatinya meski ia juga bergumul melihat orang-orang yang masih mencampur iman Kristen dengan praktik kepercayaan lama.
Pendidikan di sekolah zending memperkenalkannya pada aksara Latin dan kisah-kisah Alkitab yang diajarkan dalam bahasa Toba. Ketertarikannya pada cerita-cerita Alkitab dan pribadi Yesus pun bertumbuh, seiring dengan pengamatannya terhadap kehidupan iman di sekitarnya. Ada seorang guru di sekolah ini yang menjadi teladannya, yaitu Johannes Hermanus Meerwaldt. Dari Meerwaldt ia belajar meyakini Kristus sebagai Anak Allah yang mengampuni dosa manusia. Sejak itu Meerwaldt menjadi bapak rohaninya. Pada akhirnya, ia dibaptis tanpa meninggalkan identitasnya sebagai orang Simalungun.
Setelah dewasa, Jaulung menjadi guru sekaligus penginjil, lalu melanjutkan pendidikan teologi hingga ditahbiskan sebagai pendeta. Ia melayani dengan menggunakan beberapa Bahasa: Simalungun, Toba, dan Karo, sesuai dengan konteks jemaat yang dilayaninya. Dari pengalaman itulah tumbuh keprihatinan yang semakin kuat terhadap bahasa Simalungun yang belum memperoleh tempat memadai dalam kehidupan gereja.
Kesadaran ini mendorongnya mengumpulkan bahan untuk menyusun kamus bahasa Simalungun sebagai upaya menjaga bahasanya. Ia teringat sebuah ungkapan, “Kawat berduri, kayu, atau bambu adalah pagar sebuah ladang; kamus adalah pagar sebuah bahasa,”. Kamus Partingkian ni Hata Simalungun (1938) ini dikerjakannya selama hampir dua puluh tahun. Jaulung tidak ingin bangsanya jauh dari Tuhan karena persoalan bahasa. Rekan sekerjanya dalam penerjemahan Alkitab, Pieter Voorhoeve, menyatakan bahwa sepengetahuannya Jaulung Wismar Saragih adalah anak negeri pertama di Hindia Belanda yang menyusun kamus dalam bahasanya sendiri sejak awal. Pengakuan itu menegaskan ketekunan dan keberanian Jaulung.
Hal ini kemudian menuntunnya melangkah lebih jauh ke dalam pekerjaan penerjemahan Alkitab. Injil Lukas terbit pada tahun 1939, menjadi awal dari pekerjaan panjang yang dijalaninya dengan tekun. Ia sempat mengupayakan kerja bersama melalui “Kongsi Bibel Simalungun”, namun akhirnya memilih melanjutkan penerjemahan secara mandiri.
Dalam prosesnya, Pdt. Jaulung membandingkan berbagai versi Alkitab: Toba, Angkola, Karo, Indonesia, dan Belanda, serta merujuk pada kamus dan tafsiran. Ia juga mendapat bantuan dari Pieter Voorhoeve dalam meninjau hasil terjemahannya.
Salah satu tantangan besar muncul ketika ia harus menerjemahkan kata “Allah”. Istilah Naibata telah dikenal dalam budaya Simalungun, tetapi maknanya beragam. Ia tidak menggantinya dengan istilah asing, melainkan memurnikan pengertiannya melalui pengajaran dan khotbah. Baginya, Injil tidak menghapus arti kata dalam sebuah bahasa, tetapi menerangi dan membarui maknanya.
Setelah melalui proses yang panjang, pada tahun 1950 terjemahan Perjanjian Baru Simalungun berhasil diselesaikan. Bagi banyak orang Simalungun, itu bukan sekadar terjemahan baru, melainkan pengalaman rohani yang menggetarkan, karena untuk pertama kalinya mereka mendengar Allah berbicara dalam bahasa hati mereka sendiri. Ternyata Allah bersedia berkomunikasi dalam bahasa yang mereka mengerti.
Dalam sebuah pertemuan para penerjemah Alkitab di Jakarta yang dipimpin J.L. Swellengrebel, ia dikenal sebagai satu-satunya orang Indonesia yang menerjemahkan Alkitab atas inisiatif sendiri. Semua penerjemah yang lain pada masa itu berasal dari Eropa. Dedikasi tersebut membuatnya dijuluki “Luther dari Simalungun”. Perjanjian Baru Simalungun karya terjemahannya kemudian terbit pada tahun 1953.
Pada masa tuanya, meskipun penglihatannya semakin melemah, ia tetap melanjutkan penerjemahan bagian-bagian Perjanjian Lama dengan dukungan Pdt. L. Purba, guru-guru R. Purba dan T. Sidadolog, serta putrinya Minaria yang adalah lulusan STT Jakarta. Setelah ia berpulang, pekerjaan itu diteruskan Pdt. P. Purba, hingga Alkitab lengkap dalam bahasa Simalungun diterbitkan oleh LAI pada tahun 1976.
Kisah Jaulung Saragih menunjukkan bahwa penerjemahan Alkitab adalah panggilan sunyi yang mesti dijalani dengan tabah dan penuh kesetiaan. Dalam keterbatasannya Jaulung mencatat dan merawat bahasanya, agar Firman Tuhan hadir lebih dekat dan hidup di tengah umatnya. Warisan terbesarnya bukan sekadar kamus atau Alkitab Simalungun, melainkan keyakinan bahwa ketika firman Tuhan menyapa dan berbicara dalam bahasa ibu, sebuah bangsa akan berani bangkit dan berdiri lebih tegak, sejajar dengan suku-suku bangsa yang lebih dahulu maju.
























