Kolaborasi Strategis Bersama YPK-GMIBM Bangun Ekosistem Pendidikan Kristen Adaptif Digital
Kotamobagu, Sulawesi Utara, 5–6 Februari 2026.
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) GMIBM menyelenggarakan Pelatihan Literasi Digital bagi siswa dan guru di lingkungan sekolah YPK GMIBM.
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yakni pada Kamis, 5 Februari 2026 untuk kelas siswa di GMIBM Baithel Kopandakan dan Jumat, 6 Februari 2026 untuk kelas guru di GMIBM Exodus Sinindian.
Sebanyak 49 siswa SMP–SMA/SMK mengikuti pelatihan pada hari pertama, sementara 42 guru dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA/SMK ambil bagian pada hari kedua.
Menjawab Tantangan dan Peluang Era Digital
YPK GMIBM saat ini menaungi 46 unit sekolah yang tersebar di empat kabupaten dan satu kota, dengan total 298 guru dan pegawai serta 2.722 siswa. Mayoritas sekolah telah memiliki akses internet, dan hampir seluruh guru serta siswa memiliki perangkat digital.
Kondisi ini menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan. Akses informasi yang luas dapat memperkaya proses pembelajaran, namun tanpa literasi yang memadai, teknologi juga berpotensi mengganggu perkembangan mental dan spiritual peserta didik.
Melalui pelatihan ini, LAI dan YPK GMIBM berkomitmen membekali guru dan siswa agar mampu memanfaatkan teknologi secara efektif, kreatif, dan bertanggung jawab, khususnya dalam konteks pendidikan dan pelayanan.
Hari Pertama: Siswa Belajar Produksi Konten Digital
Pada sesi siswa, materi yang dibawakan meliputi:
· Literasi Digital & Etika Bermedia
· Keamanan dan Tanggung Jawab Digital
· Produksi Konten (Pre-Production)
· Editing & Posting (Post Production)
Narasumber tamu, Reggy Leo, Sarjana Misiologi dari Institut Injil Indonesia Batu dan Magister Pendidikan UNIPDA Sidoarjo, yang juga melayani dalam Digital Ministry di GKI Coyudan Solo, membagikan wawasan tentang proses produksi hingga publikasi konten yang relevan bagi generasi muda.
Sementara itu, Pdt. Vince dari Departemen Layanan dan Pengembangan Digital LAI membawakan sesi pra-produksi, mencakup pengembangan ide konten, penulisan skrip, dan penyusunan naskah kreatif.
Salah satu momen menarik adalah ketika para siswa memanfaatkan platform Alkitab Interaktif LAI (ALIN) sebagai sumber referensi dalam pembuatan konten digital mereka.
Hari Kedua: Guru Adaptif di Era Digital
Pada kelas guru, materi difokuskan pada:
· Metode Pembelajaran Berbasis Digital
· Platform Pembelajaran Digital
· Pemanfaatan Google Workspace
· Pembuatan Media dan Konten Pembelajaran Digital
Materi dibawakan oleh Victori E. Saetakela, Kepala Departemen Layanan dan Pengembangan Digital LAI, yang menekankan pentingnya guru bertransformasi dari sekadar pengguna teknologi menjadi kreator pembelajaran digital.
Reggy Leo turut memperkaya sesi dengan praktik pembuatan media pembelajaran digital yang aplikatif dan kontekstual.
Lomba Kreatif: Antusiasme yang Menginspirasi
Sebagai penutup, kedua kelas mengadakan sesi lomba kreatif:
· 8 kelompok siswa membuat konten digital berbasis Alkitab
· 6 kelompok guru menyusun hook dan storytelling pembelajaran digital
Lomba Kreatif: Antusiasme yang Menginspirasi
Sesi lomba dipandu oleh Agnes Sirait, Content Creator di Departemen Layanan dan Pengembangan Digital Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Suasana berlangsung meriah dan penuh semangat. Setiap kelompok menunjukkan kreativitas serta keberanian dalam mengeksplorasi teknologi digital sebagai sarana edukasi dan pewartaan nilai-nilai Alkitab.
Pada hari pertama, lomba pembuatan konten siswa dinilai oleh Reggy Leo, Pdt. Vince dari Departemen Layanan dan Pengembangan Digital LAI, serta secara khusus oleh Pdt. Em Marlin, Ketua Umum YPK GMIBM. Kehadiran pimpinan YPK sebagai juri menegaskan dukungan penuh terhadap penguatan kompetensi digital generasi muda di lingkungan sekolah Kristen.
Sementara itu, pada hari kedua, lomba storytelling dan penyusunan pembukaan kelas untuk sesi pembelajaran digital bagi guru dinilai oleh Ansye Wattimury, Kepala Perwakilan LAI Manado, bersama Reggy Leo. Kolaborasi juri dari unsur sinode, yayasan pendidikan, dan LAI mencerminkan keseriusan bersama dalam mendorong transformasi pembelajaran berbasis digital.
Antusiasme peserta menunjukkan bahwa literasi digital bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan juga ruang ekspresi iman yang relevan dengan perkembangan zaman.
Komitmen Berkelanjutan
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan LAI dalam memperluas pelayanan digital di berbagai daerah di Indonesia. Kerja sama dengan YPK GMIBM diharapkan menjadi langkah strategis untuk membangun ekosistem pendidikan Kristen yang adaptif terhadap transformasi digital, tanpa kehilangan nilai spiritual dan integritas iman.
Dengan pembekalan ini, guru dan siswa YPK GMIBM diharapkan mampu menjadikan teknologi bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai alat untuk membangun karakter, kreativitas, dan iman yang kokoh di tengah arus digitalisasi.
























