Bincang Alkitab | Richo Kasih, M.Th., M.A.
Ketika orang Kristen menyebut Yesus sebagai “Mesias” atau “Kristus”, sesungguhnya kita sedang menggunakan istilah yang telah hidup dan berkembang jauh sebelum Kekristenan lahir. Kata “Mesias” berasal dari bahasa Ibrani māšîaḥ, yang berarti “yang diurapi”, sementara padanannya dalam bahasa Yunani adalah Christos. Di dalam iman Kristen, kedua istilah ini dilekatkan pada diri Yesus: Yesus Kristus.
Namun, bagaimana sebenarnya dunia Yahudi pada zaman Yesus memahami sosok yang diurapi itu? Apakah harapan tentang Mesias sudah seragam? Ataukah justru beragam dan dinamis? Melalui pembacaan bersama teks-teks Perjanjian Baru dan beberapa fragmen Naskah Laut Mati dari Qumran, kita diajak melihat lebih luas lanskap teologis yang melatarbelakangi pelayanan Yesus.
Mesias dalam Perjanjian Lama: Raja dan Imam yang Diurapi
Dalam Perjanjian Lama, istilah “yang diurapi” terutama digunakan dalam konteks kerajaan. Dalam Kitab 2 Samuel 1:14, Daud menyebut Saul sebagai “orang yang diurapi TUHAN.” Pengurapan menjadi tanda legitimasi ilahi atas raja yang memerintah atas nama Allah. Namun, istilah ini tidak terbatas pada raja. Dalam Kitab Imamat 4:3, imam besar disebut sebagai “imam yang diurapi” (hakōhēn hamāšîaḥ). Dalam konteks ini, pengurapan menandakan otoritas religius dan tanggung jawab iman: dosa imam besar berdampak pada seluruh umat yang diwakilinya.
Menariknya, dalam Kitab Yesaya 45:1, istilah ini dikenakan kepada Koresh, raja Persia non-Yahudi. Penyebutan Koresh sebagai “yang diurapi” menunjukkan bahwa pengurapan tidak semata-mata bersifat etnis atau nasionalistik, melainkan menunjuk pada peran historis dalam rencana penyelamatan Allah. Sejak masa pembuangan, makna mesias berkembang dari sekadar jabatan ke arah figur eskatologis yang diharapkan membawa pemulihan besar bagi umat Allah.
Harapan Mesianik Pasca-Pembuangan
Setelah pembuangan Babel, umat Yahudi hidup dalam situasi politik dan sosial yang penuh tekanan. Harapan akan seorang Mesias menjadi semakin sentral dalam tradisi iman mereka. Harapan ini tidak tunggal. Ia berkembang dalam berbagai bentuk: raja keturunan Daud, imam eskatologis, nabi seperti Musa atau Elia, bahkan figur surgawi yang membawa pembebasan akhir zaman.
Di sinilah Naskah Laut Mati, yang ditemukan di Qumran, memberikan kontribusi signifikan. Lebih dari 900 fragmen yang ditemukan di sebelas gua (kemudian pada tahun 2017 ditemukan gua ke-12, tapi sayangnya kosong) memperlihatkan kekayaan dan keragaman teologi komunitas Yahudi pada zaman menjelang dan sezaman dengan Yesus.
Mesias dalam Naskah Qumran: Jamak dan Beragam
Dalam dokumen komunitas seperti 1QS (Rule of the Community), disebutkan harapan akan “nabi dan mesias-mesias dari keturunan Harun dan Israel.” Ungkapan ini menunjukkan ekspektasi akan lebih dari satu figur mesianik: seorang mesias imam dan seorang mesias raja. Tradisi ini mencerminkan pluralitas harapan dalam Yudaisme periode Bait Kedua.
Dalam teks 11Q13 (sering disebut 11QMelkisedek), tokoh Melkisedek digambarkan sebagai figur eskatologis yang membebaskan tawanan dan menghakimi kuasa jahat. Tafsir atas Yesaya 52:7 dalam teks ini menghubungkan kabar baik dengan figur yang diurapi dan memiliki peran kosmis.
Fragmen 4Q246 bahkan menyebut seorang figur yang akan disebut “Anak Allah” dan “Anak Yang Mahatinggi,” dengan kerajaan yang kekal dan pemerintahan yang adil. Gelar-gelar ini, yang sering diasosiasikan dengan Kristologi Perjanjian Baru, ternyata telah beredar dalam wacana Yahudi sebelum Kekristenan lahir.
Dalam 4Q521, Mesias digambarkan memiliki kuasa atas ciptaan: langit dan bumi tunduk kepadanya. Ia membebaskan tawanan, membuat orang buta melihat, menyembuhkan yang terluka, bahkan membangkitkan orang mati dan memberitakan kabar baik kepada orang miskin. Menariknya, beberapa unsur ini tidak secara eksplisit terdapat dalam teks Yesaya, melainkan merupakan perkembangan interpretatif yang semakin mendekati zaman Yesus.
Paulus dan Kristus: Pengakuan Iman dalam Bahasa Mesianik
Dalam surat-surat Paulus, gelar Kristus melekat erat pada identitas Yesus. Dalam Surat 1 Tesalonika 1:10, Yesus disebut sebagai Anak-Nya yang menyelamatkan dari murka yang akan datang. Dalam Surat Roma 3:21-26, Paulus berbicara tentang “Yesus Kristus” dan “Kristus Yesus” sebagai jalan pendamaian dan perwujudan kebenaran Allah. Paulus mengaitkan Yesus dengan penggenapan nubuat dan harapan eskatologis Israel.
Injil dan Ragam Persepsi tentang Mesias
Injil Markus membuka narasinya dengan deklarasi teologis yang tegas, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” Namun di dalam narasi itu sendiri muncul kebingungan publik tentang identitas Yesus. Dalam Injil Markus 6:14-16 dan 8:27-33, Yesus disangka Yohanes Pembaptis, Elia, atau salah satu nabi. Pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias segera diikuti dengan penolakan Petrus terhadap nubuat penderitaan Mesias. Ini menunjukkan bahwa konsep Mesias yang menderita tidak otomatis sesuai dengan ekspektasi umum.
Kisah Yesus meredakan badai (Markus 4:35-41) memperlihatkan otoritas atas alam, sebuah ciri yang selaras dengan gambaran 4Q521. Demikian pula pembacaan Yesaya 61 oleh Yesus dalam Injil Lukas 4:16-21, ketika Ia menyatakan bahwa nubuat itu digenapi pada diri-Nya, memiliki resonansi kuat dengan tradisi Qumran mengenai Mesias yang membebaskan dan menyembuhkan.
Konflik Otoritas dan Tuduhan Penghujatan
Pertanyaan Imam Besar dalam Markus 14:60-65, “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?”, menunjukkan bahwa gelar tersebut bukanlah konsep asing. Namun respons Yesus yang mengaitkan diri-Nya dengan figur Anak Manusia yang duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa memicu tuduhan penghujatan.
Kemungkinan besar, persoalan utamanya bukan sekadar klaim mesianik, melainkan implikasi otoritas yang mengguncang struktur keagamaan Yerusalem (bdk. Markus 11:27-33). Di sini kita melihat bahwa konflik Yesus dengan otoritas religius berkaitan erat dengan klaim kuasa dan legitimasi ilahi.
Pluralitas Harapan Mesianik dan Implikasinya
Perbandingan antara Perjanjian Baru dan Naskah Qumran menegaskan bahwa Yudaisme pada zaman Yesus tidak monolitik. Ada beragam kelompok dengan ekspektasi mesianik yang berbeda: Mesias dari keturunan imam, Mesias dari keturunan raja, bahkan seorang nabi seperti Elia. Dalam konteks ini, pengakuan iman bahwa Yesus adalah Mesias bukanlah gagasan yang muncul tiba-tiba atau terlepas dari tradisi sebelumnya. Sebaliknya, pengakuan itu menyatakan bahwa dalam diri Yesus, beragam harapan tentang Mesias yang telah lama hidup dalam iman Israel menemukan titik temu dan penggenapannya, meski dengan cara yang melampaui ekspektasi umum, terutama melalui jalan penderitaan dan salib.
Penutup
Pertanyaan “Mesias sebelum Kristen?” menolong kita menyadari bahwa iman kepada Yesus tidak lahir di ruang hampa. Ia berakar dalam sejarah dan tradisi iman Israel yang kaya dan dinamis. Naskah Qumran membantu kita melihat betapa luas dan beragamnya pengharapan pada masa itu.
























