135 Generasi Muda Timika Diperlengkapi dalam Literasi Digital Pekan Alkitab 2026
Timika, 1 April 2026. Suasana pagi itu terasa berbeda. Di tengah langit Timika yang mulai cerah setelah hujan, ratusan anak, remaja, dan pemuda berkumpul dengan satu tujuan: belajar, bukan sekadar tentang teknologi, tetapi tentang bagaimana tetap menjadi terang di tengah dunia digital yang kian kompleks.
Sebanyak 135 peserta mengikuti kegiatan Literasi Digital dalam rangkaian Pekan Alkitab yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Rabu (1/4). Kegiatan ini bukan sekadar seminar, melainkan ruang pembekalan iman di tengah derasnya arus teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Acara dibuka dengan doa bersama, sebuah pengingat sederhana bahwa di tengah dunia yang serba digital, hikmat tetap berasal dari Tuhan. Peserta yang datang dari berbagai gereja, mulai dari GIDI hingga komunitas pemuda gereja lainnya, diajak untuk membawa pulang bekal yang bukan hanya relevan, tetapi juga berdampak bagi pelayanan mereka.
Mengenal Dunia Digital: Antara Peluang dan Tipu-Tipu
Dalam sesi pembuka, Agnes Sintyke Sirait mengawali dengan cara yang tak biasa—sebuah cerita yang mengundang tawa sekaligus refleksi.
Ia menceritakan pengalaman pribadi tentang “ketakutan” di hotel yang ternyata hanyalah hasil persepsi yang dibangun dari narasi, sudut pandang, dan potongan informasi. Di akhir cerita, peserta pun tersadar: apa yang tampak meyakinkan belum tentu benar.
“Selamat datang di dunia tipu-tipu,” ujarnya, disambut reaksi peserta yang mulai mengerti arah pembicaraan.
Dari situlah Agnes menegaskan bahwa dunia digital adalah ruang yang penuh rekayasa, di mana cerita bisa dibentuk, emosi bisa diarahkan, dan kebenaran bisa dipelintir.
“Bahkan sesuatu yang terlihat objektif pun bisa diubah narasinya,” jelasnya.
Ia juga menyoroti bagaimana teknologi AI kini mampu mengubah wajah, bentuk tubuh, hingga identitas visual seseorang hanya dalam hitungan detik. Namun di balik kecanggihannya, ada satu hal yang tidak dimiliki AI:
“Hati nurani dan akal budi. Itu hanya dimiliki manusia.” ucapnya
Ia kemudian memperkenalkan empat pilar literasi digital yang dirangkum dalam istilah sederhana: C-A-B-E:
Cakap: mampu menggunakan teknologi dengan bijak dan kritis
Aman: menjaga data pribadi dan memahami risiko digital
Budaya: berinteraksi dengan sopan dan menghargai orang lain
Etika: bertanggung jawab atas setiap konten yang dibuat dan dibagikan
Melalui contoh-contoh nyata yaitu mulai dari hoaks, penipuan digital, hingga manipulasi visual berbasis AI, peserta diajak untuk lebih kritis dan waspada. Agnes menegaskan bahwa di tengah kecanggihan teknologi, manusia tetap harus menjadi subjek yang memiliki hikmat dan kebijaksanaan.
Dari Konsumen Menjadi Kreator
Lebih dari sekadar memahami risiko digital, peserta juga didorong untuk bertransformasi dari penonton menjadi pencipta. Agnes menekankan bahwa setiap orang, berapa pun jumlah pengikutnya, memiliki peran untuk menghadirkan konten yang membangun.
“Tuhan adalah Pencipta. Kita diciptakan menurut gambar-Nya, artinya kita juga punya DNA kreatif untuk berkarya,” ujarnya.
Di balik layar ponsel, ada banyak orang yang sedang: merasa kesepian, kehilangan harapan, bahkan berada di titik putus asa.
“Kita tidak pernah tahu, satu konten yang kita buat bisa jadi jawaban doa seseorang,” katanya pelan.
Ia menegaskan bahwa konten rohani bukan sekadar “posting ayat”, tetapi bisa menjadi jembatan bagi mereka yang tidak lagi membuka Alkitab.
“Kalau mereka tidak datang ke Firman, mungkin konten kita yang membawa Firman itu kepada mereka.”
Media Adalah Alat, Kreativitas Adalah Panggilan
Memasuki sesi berikutnya, Zegy Patianom membawa peserta melihat sisi praktis dunia digital. Dengan gaya yang ringan, ia mengingatkan bahwa media hanyalah alat, mulai dari lukisan di gua hingga smartphone di tangan kita hari ini. Namun yang menjadi pertanyaan penting adalah: kita mau menggunakannya untuk apa?
“Jangan jadi budak media sosial. Jadilah pencipta,” ujarnya.
Ia mengaitkan hal ini dengan konsep “Imago Dei” bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah Sang Pencipta. Artinya, kreativitas bukan sekadar kemampuan, tetapi panggilan iman.
Dalam praktiknya, peserta belajar bahwa membuat video tidak harus dengan alat mahal. Bahkan, dengan karet gelang, kertas, atau tangan sendiri sebagai tripod, konten tetap bisa dibuat secara kreatif.
“Kalau tidak punya alat canggih, jangan khawatir. Kita punya otak untuk berpikir dan berkreasi,” tambahnya.
Dari Tentena ke Asmat: Konten yang Menggerakkan Hati. Untuk memperkaya pemahaman, peserta diajak menonton karya nyata yang pernah diproduksi LAI—mulai dari mini dokumenter tentang pelayanan di Tentena hingga dokumentasi distribusi Alkitab di Asmat. Kisah perjalanan ratusan kilometer demi menghimpun donasi, hingga kesaksian jemaat yang rindu memiliki Alkitab, menjadi pengingat bahwa konten memiliki kekuatan untuk menyentuh dan menggerakkan hati. Melalui contoh tersebut, peserta memahami bahwa konten yang baik bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga mengandung pesan yang kuat dan bermakna.
Menghidupi Firman di Era Digital
Kegiatan ini tidak berhenti pada teori. Peserta diajak langsung berkreasi melalui tantangan “One Verse One Minute” yaitu membuat video singkat berbasis satu ayat Alkitab.
Dengan cara ini, generasi muda didorong untuk mulai mengambil peran aktif sebagai kreator konten rohani yang relevan dan kontekstual.
“Kalau dunia digital penuh kegelapan, maka terang itu harus datang dari kita,” menjadi pesan yang menguatkan seluruh rangkaian kegiatan dan menjadi gerakan nersama. Melalui kolaborasi antara iman dan teknologi, kegiatan Literasi Digital ini menjadi lebih dari sekadar pelatihan, melainkan sebuah gerakan yang mengajak generasi muda untuk: berpikir kritis, bertindak bijak, dan berkarya kreatif agar dunia digital tidak hanya menjadi tempat konsumsi, tetapi juga ruang untuk menghadirkan kebenaran, harapan, dan kasih Tuhan.
[Agnesssirait]























