Evaluasi Tahap 2, Pembaca Baru Alkitab di Nias Selatan
Program Pembaca Baru Alkitab (PBA) Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) di Pulau-pulau Batu, Nias Selatan, hampir memasuki penghujung perjalanannya. Sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya diukur dari waktu yang dijalani, tetapi juga dari setiap langkah kecil perubahan yang terjadi di hati dan kehidupan para warga belajar.
Antara 6-20 April 2026 yang lalu, LAI melaksanakan evaluasi tahap kedua untuk mengukur perkembangan pelaksanaan program tersebut. Tim kecil LAI berangkat dari Jakarta menuju Nias Selatan untuk mendukung pelaksanaan evaluasi tersebut. Perjalanan dimulai dengan penerbangan menuju Gunungsitoli, lalu dilanjutkan menggunakan pesawat kecil Cessna Grand Caravan milik Susi Air dengan kapasitas sekitar 12 penumpang menuju Pulau Tello. Dari sana, perjalanan sesungguhnya dimulai.
Karena lokasi warga belajar tersebar di pulau-pulau kecil, setiap hari tim harus menyeberangi laut menggunakan perahu cepat, membelah ombak menuju titik-titik evaluasi. Waktu tempuh rata-rata 1–2 jam untuk setiap lokasi. Puji Tuhan, sekalipun hujan dan angin sempat menyapa, cuaca secara umum cukup bersahabat, sehingga setiap perjalanan dapat dilalui dengan baik.
Di Pulau Sigata, karena jumlah warga belajar cukup banyak proses evaluasi berjalan lama. Kami baru dapat meninggalkan lokasi saat malam hari. Meski harus menembus gelapnya laut, kami harus meneruskan perjalanan untuk mengejar lokasi berikutnya sesuai jadwal evaluasi.
Ada satu kisah yang tak terlupakan dari Desa Lumbui. Seorang gadis berusia 19 tahun bernama Yustria Hondo sebelumnya sama sekali belum bisa membaca. Menurut tutornya, ia termasuk sangat lambat dalam belajar. Namun ia tidak pernah menyerah. Ia rajin datang, tetap duduk, dan terus mencoba. Hingga pada evaluasi terakhir, ia mulai mengenal huruf demi huruf. Sebuah langkah kecil yang menyimpan harapan besar. Pesan yang kami titipkan kepada tutornya sederhana: teruslah mendampingi dia, karena usianya masih sangat muda, dan masa depannya masih terbuka luas.
Dari Desa Siramona, ada pula kisah Martinus Lala. Meskipun usianya sudah menginjak 20 tahun, ia belum juga bisa membaca. Ia datang ke kelas belajar dengan semangat yang sama. Orangnya begitu tenang, sederhana, tetapi penuh ketekunan. Hingga saat evaluasi berlangsung, Martinus baru mampu menguasai satu suku kata. Bagi sebagian orang, itu mungkin terlihat remeh dan tidak berarti. Namun bagi Martinus, itu adalah sebuah langkah besar. Ia sedang berjalan dalam proses yang tidak mudah, proses yang panjang, yang menuntut kesabaran, ketekunan, dan keberanian untuk terus mencoba.
Kami menguatkan Martinus untuk tidak menyerah, dan berpesan kepada tutornya untuk tetap setia mendampingi. Karena di balik setiap huruf yang ia pelajari, ada masa depan yang sedang dibangun perlahan.
Di sisi lain, ada pula banyak warga belajar yang menunjukkan ketekunan luar biasa. Mereka yang dulunya tidak mengenal huruf, kini mulai mampu membaca dengan lancar. Bagi mereka yang sudah bisa membaca, semoga kemampuan ini menjadi pintu untuk mengenal firman Tuhan lebih dalam dan menjalani hidup dengan hikmat.
Bagi mereka yang masih tertatih-tatih dan berproses, jangan pernah menyerah! Karena setiap huruf yang dipelajari hari ini adalah langkah menuju masa depan yang lebih terang.
Setelah dua minggu seluruh rangkaian evaluasi selesai. Tim bersiap untuk pulang kembali ke Jakarta. Perjalanan pulang dimulai dari Pulau Tello menuju Kota Padang menggunakan pesawat yang sama ketika kami datang. Penerbangan yang seharusnya ditempuh sekitar satu jam berubah menjadi pengalaman yang sangat menegangkan. Saat hendak mendarat, cuaca memburuk drastis. Awan hitam pekat menyelimuti langit, hujan turun deras, angin kencang mengguncang, dan kilat menyambar tanpa henti. Pesawat harus berputar-putar selama kurang lebih 40 menit di angkasa, dan akhirnya memberanikan diri menembus awan gelap yang dipenuhi petir.
Di dalam pesawat, kami benar-benar diliputi ketakutan. Guncangan yang terus terjadi membuat kaki terasa lemas. Sepanjang penerbangan kami hanya bisa terdiam, berdoa dalam hati, berharap kami mendarat dengan selamat. Saat pesawat akhirnya berhasil mendarat, ada seorang ibu bersama dengan bayinya yang tidak mampu berdiri dengan baik karena kakinya begitu lemas akibat ketegangan yang ia rasakan. Penerbangan yang mencekam membuat kami sadar betapa rapuhnya manusia dan betapa besar penyertaan Tuhan yang menjaga kami hingga tiba dengan selamat di Kota Padang. Perjalanan pun dapat kami lanjutkan hingga kembali ke Jakarta.
Pengalaman di Pulau-pulau Batu mengingatkan kita bahwa keterbatasan akses, kondisi geografis yang terpencil, serta minimnya fasilitas masih menjadi kenyataan yang dihadapi banyak saudara kita di berbagai pelosok nusantara. Di beberapa tempat memang telah ada sekolah, namun fasilitasnya belum memadai. Kekurangan guru, keterbatasan buku pelajaran, serta jarak tempuh yang jauh membuat proses belajar menjadi tidak mudah. Anak-anak harus berjalan jauh, menghadapi medan yang berat, dan belajar dengan sarana yang sangat terbatas. Semua ini menjadi alasan nyata mengapa masih banyak orang di sana yang belum bisa membaca.
Namun justru di tengah segala keterbatasan itu, harapan tidak pernah padam. Setiap usaha kecil, setiap ketekunan, dan setiap huruf yang berhasil dipelajari adalah tanda bahwa masa depan sedang diperjuangkan.
Dan selama masih ada yang rindu belajar, selama masih ada yang mau peduli dan berjalan bersama, maka terang itu akan terus menyala dan menjangkau mereka yang selama ini hidup dalam keterbatasan, dan menghadirkan perubahan yang nyata bagi generasi mendatang.(aped)























