UBS Fellowship Event 2026 | Hotel Mercure Ancol, 7-11 Mei 2026
Dalam UBS Fellowship Event 2026 di Jakarta, kembali ditegaskan bahwa masa depan Alkitab tidak hanya ditentukan oleh keterjangkauan akses, melainkan oleh bagaimana Firman Tuhan tetap hidup dan bergaung di tengah arus perubahan zaman dan pergantian generasi.
Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang sehari-hari bergerak dengan ritme yang cepat dan padat, Lembaga Alkitab Indonesia dengan penuh syukur menyambut kehadiran para perwakilan Lembaga Alkitab dari berbagai belahan dunia. Pada 6-11 Mei 2026, Jakarta seakan berubah menjadi ruang perjumpaan yang berbeda—bukan sekadar kota yang menjadi tempat pertemuan internasional, melainkan sebuah persinggahan di tengah perjalanan panjang pelayanan Firman Tuhan. Lebih dari sekadar agenda institusional, UBS Fellowship Event dan Bible Engagement Summit ini menghadirkan ruang untuk kembali menatap panggilan yang paling mendasar: menghadirkan Alkitab agar sungguh hidup di tengah dunia.
Dalam suasana yang sarat syukur itu, pertemuan ini juga menjadi penanda 80 tahun pelayanan United Bible Societies. Delapan dekade perjalanan ini bukanlah catatan yang singkat. Ia adalah ziarah panjang lintas bahasa, budaya, dan generasi. Sebuah kesetiaan kolektif agar Firman Tuhan dapat diterjemahkan, dijangkau, dibaca, dan dihidupi dalam berbagai konteks kehidupan manusia.
Dari titik itu, percakapan demi percakapan yang berlangsung selama hari-hari pertemuan di Jakarta perlahan mengarah pada satu kesadaran bersama: bahwa syukur atas perjalanan panjang ini sekaligus mengundang kita untuk menatap ke depan dengan pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana Alkitab tetap hidup dan berbicara di tengah dunia yang terus berubah dengan sangat cepat?
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika kita bersama-sama menyaksikan realitas dunia hari ini. Tidak dapat disangkal, kita hidup dalam masa yang ditandai oleh ketidakpastian yang kian terasa. Konflik yang terus berlangsung, krisis sosial yang meluas, tekanan ekonomi yang menghimpit banyak kehidupan, serta kegamangan moral yang menyertai kehidupan modern, membentuk lanskap yang kompleks, terutama bagi generasi muda yang sedang mencari pijakan hidupnya.
Namun di tengah kenyataan yang rapuh itu, ada pula lapisan pengalaman lain yang tidak kalah nyata. Di balik kebingungan dan kegelisahan, tampak sebuah kerinduan yang pelan-pelan tumbuh: kerinduan untuk menemukan makna, memiliki pegangan, dan mendengar suara yang dapat dipercaya di tengah kebisingan dunia yang tak henti berbicara. Dari pergumulan inilah, dalam banyak percakapan selama pertemuan berlangsung, Alkitab kembali dipahami bukan hanya sebagai teks suci yang dibaca dalam ruang ibadah, melainkan sebagai ruang perjumpaan yang hidup. Sebuah jangkar yang menolong manusia tetap bertahan, sekaligus tempat di mana pertanyaan-pertanyaan terdalam manusia menemukan gema tentang kebenaran, keadilan, keberadaan, dan damai sejahtera.
Kesadaran ini kemudian dirumuskan dalam momentum 80 tahun ini, United Bible Societies meluncurkan deklarasi global bertajuk “The Bible for Tomorrow: A Global Commitment to Future Christian Generations.” Deklarasi ini tidak hanya dibaca sebagai dokumen kelembagaan, melainkan sebagai kesaksian iman bersama bahwa Firman Tuhan tetap memiliki daya hidup yang melintasi zaman.
Di dalamnya, kembali ditegaskan visi yang sejak awal telah menjadi denyut pelayanan ini: Alkitab untuk semua. Namun kini kesadaran itu hadir dengan horizon yang lebih luas, bahwa “semua” juga mencakup generasi yang bertumbuh dalam dunia digital, dunia yang bergerak cepat, dan dunia yang sering kali kehilangan ruang untuk diam dan merenung.
Dalam percakapan bersama para mitra pelayanan Alkitab dari berbagai negara, arah ke depan itu kemudian dirangkum dalam enam komitmen yang saling terhubung: kebergantungan spiritual yang terus dipelihara dalam setiap pelayanan Firman, keterbukaan akses agar tidak ada seorang pun yang terhalang menjangkau Alkitab, keterlibatan yang membentuk hidup, relevansi yang terus diperbarui melalui berbagai bentuk dan teknologi, kemitraan yang erat dengan gereja, serta misi yang holistik. Sehingga Firman Tuhan tidak berhenti pada kata-kata, tetapi mengalir dalam tindakan kasih dan keadilan bagi sesama.
Sebagai bagian dari persekutuan ini, Lembaga Alkitab Indonesia ikut berdiri dalam kesadaran yang sama: bahwa seluruh upaya ini pada akhirnya bukan sekadar kerja institusional, melainkan panggilan bersama yang harus terus dijalani dengan rendah hati dan kesetiaan. Dari kesadaran itu pula diteguhkan kembali pengharapan bahwa generasi yang akan datang tidak hanya akan mewarisi Alkitab sebagai buku, tetapi sebagai sumber kehidupan yang membentuk cara pandang, cara hidup, dan cara mencintai sesama. Sebab Firman yang hidup tidak pernah berhenti berbicara. Ia terus melintasi zaman, menuntun, menguatkan, dan memanggil setiap generasi untuk kembali kepada sumber kehidupan.
























