Saat pertamakali saya diterima sebagai volunteer yang bertugas memandu Paket Wisata Alkitab (PWA) yang diselenggarakan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) pada bulan Mei 2016. Satu hal yang terbesit dalam pikiran saya saat mendaftar sebagai pemandu PWA adalah menambah uang jajanku. Sebagai mahasiswa, tambahan pemasukan di akhir pekan cukup membahagiakan. Awal masuk menjadi pemandu, saya stres sendiri untuk menghafal banyak benda museum dan berbagai kisahnya. Selain itu, saya juga harus menghafal bagian Alkitab mana yang terkait benda-benda yang ada di museum. Belum lagi kalau rombongan yang berkunjung adalah anak-anak yang selama berkeliling mereka lebih asyik sendiri berlari kesana-kemari dan tidak menghiraukan saya sama sekali. Saya harus putar otak dan cari cara untuk menarik perhatian anak-anak. Stres ini berlangsung hingga kurang lebih tiga bulan, hingga pada bulan-bulan selanjutnya saya menemukan pengalaman baru yang mengubah motivasi saya dalam melayani.
Saat itu ada rombongan yang berasal dari kelompok katekisan sebuah gereja, dimana sebagian besar anggotanya adalah remaja, namun ketika berkeliling, saya baru menyadari bahwa dalam kelompok katekisan ini ada sepasang suami-istri dengan penampilan agak kusam. Meskipun penampilan mereka sederhana, namun pasangan suami istri ini selalu tepat dalam menebak ayat-ayat Alkitab dan benda-benda di Alkitab selama kami berkeliling di museum. Saya tersentuh oleh sikap dan ekspresi wajahnya, bapak-ibu ini selalu takjub saat melihat benda-benda Alkitab yang saya jelaskan. Saya bahagia, sangat bahagia. Seusai berkeliling, saya baru tahu dari pendeta gereja tersebut kalau mereka adalah pemulung yang sedang mengikuti katekisasi di gereja tersebut. Saat rombongan pulang, seperti biasa kami mengantar dan melepas mereka dengan berjabat tangan. Ketika kedua orang ini menyalami saya, mereka melihat mata saya lalu mereka berlinang air mata dan mengucapkan “Terimakasih, karena kamu, kami jadi lebih sadar Allah mencintai kami”
Setelah hari itu, saya menyadari bahwa banyak orang yang terberkati melalui PWA, bahkan saya juga terberkati. Lewat anak-anak sekolah minggu dan kehebohan mereka, lewat oma-opa dengan semangat yang penuh untuk bertahan berdiri dan berkeliling Museum, bahkan lewat teman-teman disabilitas yang sering berkunjung ke Museum. Ucapan terimakasih yang tulus, ekspresi takjub para rombongan selama berkeliling hingga linangan air mata yang melihat tayangan program LAI menjadi harga yang tak terbayarkan untuk saya pribadi sebagai pemandu PWA.
Melalui mereka saya kehilangan alasan untuk berkeluh kesah dalam melayani di PWA. Uang? Untuk tahun ini, tiga tahun setelah motivasi 2016, uang sudah bukan yang terutama saya cari di LAI. Bertemu banyak orang dan menceritakan kebaikan Tuhan dalam berbagai kisah benda ALkitab adalah hal yang saya nantikan diakhir pekan. Saya terberkati melalui para rombongan yang semakin sadar Cinta Allah dalam Alkitab dan hidup mereka. [Putri Sari]