Pagi itu, pesawat yang membawa kami, tim Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) tiba di Bandara Syamsudin Noor di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Sesaat sebelum pesawat mendarat, sejauh mata memandang hanya warna putih dan putih yang terlihat di langit, padahal cuaca saat itu cukup cerah. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi beberapa bulan belakangan hampir merata di seluruh Kalimantan. Kedatangan kami kali ini untuk melaksanakan pendistribusian Alkitab dan bagian-bagiannya ke wilayah Barito Timur, Kalimantan Tengah pada 6-8 Oktober 2026.
Perjalanan dari Banjarbaru ke Barito Timur memakan waktu sekitar tujuh jam melalui darat. Di desa Telang-Paju Epat, tempat kami menginap pun tak luput dari sebaran asap. Di tengah kepungan asap yang sangat menyesakan, kami tetap melaksanakan tugas pelayanan kami dengan penuh semangat. Tujuan kami hanya satu, yaitu agar Kabar Baik yang kami bawa dapat diterima langsung oleh umat Tuhan yang kami jumpai.
Sebanyak 13.664 eks Alkitab dan bagian-bagiannya yang tersebar merupakan hasil dukungan Sahabat Alkitab. Di setiap gereja yang kami datangi, kami sangat disambut baik oleh perwakilan Majelis Jemaat dan Pendeta. Memang ada sedikit rasa kecewa karena kami tidak sempat berjumpa langsung dengan jemaat dan anak-anak di gereja. Anak-anak tidak diperbolehkan keluar rumah sama orang tuanya. Sekolah diliburkan, jadinya mereka belajar dari rumah, tutur salah seorang Majelis Jemaat.
Penyerahan Alkitab dilakukan secara simbolis kepada masing-masing perwakilan resort gereja, dalam hal ini LAI berkoordinasi dengan Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) sebagai salah satu gereja terbesar di Kalimantan. Kami sangat berterima kasih kepada mitra donatur yang telah mengingat kami yang tinggal jauh dari perkotaan untuk bisa memiliki Alkitab, ujar salah seorang pendeta. Di Barito Timur sendiri memang sulit untuk mendapat Alkitab, hanya ada satu toko buku di Tamiyang Layang (ibu kota kabupaten), itu pun belum tersedia Alkitab Terjemahan Baru (TB) 2 dan jika ada harganya pun akan mahal sekali. Rata-rata mereka bekerja menyadap karet atau di ladang, jadi untuk membeli Alkitab dengan harga ratusan ribu sangat sulit. Belum lagi bagi yang tidak punya kendaraan pribadi, mereka tidak bisa kemana-mana, ongkos transportasi juga di luar jangkauan mereka.
Keterbatasan jarak pandang memang menjadi salah satu penghalang kami, namun kerinduan kami akan perjumpaan dengan umat Tuhan membuat kami tidak kehilangan akal. Setelah penyerahan simbolis di gereja, kami menjumpai beberapa jemaat untuk menyerahkan Alkitab secara langsung. Ada banyak kisah perjumpaan kami, salah satunya dengan seorang nenek. Ia sangat rajin beribadah, namun karena keterbatasan fisiknya yang mengharuskan memakai tongkat, ia jadi kesulitan datang ke gereja. Nenek ini tidak patah semangat, kerinduannya akan firman Tuhan sangat menggebu-gebu. Ia bercerita bahwa dirinya meminta tolong kepada pendeta di gerejanya untuk menuliskan bahan bacaan Alkitab dari buku Almanak GKE sehingga dapat ia baca ulang di rumah. Saat menerima Alkitab dari LAI, ia sangat bersyukur dan senang sebab Alkitab yang ia punya sudah usang dan ia kesulitan untuk membaca huruf demi hurufnya. Puji Tuhan, aku bisa dapat Alkitab dengan huruf yang lebih besar, katanya dengan mata berkaca-kaca.
Perjalanan di Barito Timur sudah selesai. Asap tebal memang menyebabkan jarak pandang terbatas, membuat udara terasa sesak untuk dihirup. Namun, semoga Kabar Baik yang diterima umat Tuhan dapat menghadirkan kesejukan, sehingga jiwa-jiwa yang lelah dapat kembali disegarkan oleh Sabda-Nya yang abadi. [zvp]
























