Sebuah Perjalanan Transformasi

Berita | 10 Okt 2026

Sebuah Perjalanan Transformasi


Mark Hanson berdiri di sebuah ruang kelas di Kenya, berhadapan dengan 30 siswa remaja yang mengenakan seragam sekolah.

“Berapa banyak dari kalian yang memiliki Alkitab?” tanyanya.
Hanya tiga anak yang mengangkat tangan.
“Berapa banyak dari kalian yang menginginkan Alkitab?”
Semua tangan anak-anak itu terangkat.


Bertahun-tahun kemudian, Mark masih mengingat momen itu sebagai titik balik dalam pemahamannya mengenai besarnya kebutuhan akan firman Tuhan di seluruh dunia dan bagaimana ia bisa turut membantu. Bersama istrinya, Nancy, Mark adalah pendukung setia program End-to-End dari Lembaga Alkitab Amerika (ABS) dan sosok yang sangat meyakini kuasa firman Tuhan dalam mengubah hidup—termasuk hidupnya sendiri.


Sarana untuk Perubahan
Tumbuh dalam keluarga Kristen, Mark sejak awal mengenal siapa Yesus. Ia rajin ke gereja, memiliki nilai-nilai hidup yang baik, dan bekerja keras membantu mengembangkan bisnis suku cadang mobil milik ayahnya. Ketika ayahnya menjual bisnis tersebut setelah didiagnosis menderita kanker, Mark mulai bekerja untuk Sea Foam Sales Company, perusahaan yang kemudian ia beli. Selama 15 tahun berikutnya, hari-harinya dipenuhi dengan kesibukan demonstrasi produk di berbagai gudang dan toko suku cadang mobil seiring upayanya mengembangkan bisnis tersebut.


“Saya sering sekali bepergian,” kenang Mark. “Saya bisa pergi selama dua minggu berturut-turut, kembali untuk membereskan segala urusan di kantor, lalu berangkat lagi selama dua minggu berikutnya.”


Perusahaan itu berkembang pesat, dan Mark mulai menyadari bahwa kesuksesan Sea Foam bisa membawa dampak positif bagi orang lain.


“Kami mulai menyisihkan separuh dari keuntungan kami untuk dibagikan,” ujarnya. “Transformasi menjadi tema utama dari hal-hal yang kami dukung, karena hidup seseorang berubah saat Yesus masuk ke dalamnya. Dan Sea Foam menjadi sarana bagi perubahan tersebut.”


Setiap tahun, Mark berinvestasi dalam pelayanan yang berpusat pada Kristus, termasuk pelayanan bagi narapidana dan program rehabilitasi. Semakin sukses bisnisnya, semakin besar pula yang bisa ia berikan.


Namun, pada tahun 2004, perceraian yang berat mengguncang hidup Mark.


“Rasanya sungguh menyakitkan,” kenangnya. “Saat berada di tengah kegelapan, kita tidak bisa melihat jalan keluarnya. Yang ada hanyalah keputusasaan.” Saat memulai proses pemulihan yang panjang, Mark mendekatkan dirinya dengan komunitas-komunitas yang mendukungnya. Ia bergabung dengan kelompok pendalaman Alkitab serta mencari penghiburan dan kekuatan dalam firman Tuhan. Kabar baik yang pernah ia bagikan kepada orang lain itu kini menjadi landasan iman yang kokoh baginya, bahkan ketika segala sesuatu di sekitarnya tampak hancur berantakan.


"Saya sering merasa terhubung dengan kisah Ayub, karena Ayub pernah mengalami masa-masa yang sangat indah, lalu kemudian melewati masa-masa yang sangat sulit," ujar Mark. Di tengah masa sulitnya sendiri, Mark merasakan hubungannya dengan Tuhan Yesus menjadi lebih nyata daripada sebelumnya.


"Yang bisa saya sampaikan adalah, saat Anda melewati masa-masa kelam, ada sisi lain dari cerita tersebut," katanya. "Hari ini, keadaan saya jauh lebih baik daripada yang pernah saya bayangkan sebelumnya. Di tengah perjalanan itu, saya menemukan hubungan yang lebih erat dengan Tuhan Yesus."


"Transformasi yang Utuh"
Suatu hari, Mark menerima telepon dari Jim Sheldrew, seorang penasihat komunitas donatur dari Lembaga Alkitab Amerika (ABS). Ia bertanya apakah Mark bersedia datang ke Peru untuk melihat apa yang sedang Tuhan kerjakan melalui ABS di tengah suku Quechua. Apa yang disaksikan Mark adalah tahap awal dari End-to-End—sebuah kemitraan pelayanan yang memadukan sarana visual, audio, dan tulisan berisi firman Tuhan untuk memuridkan kelompok masyarakat yang belum terjangkau Injil, merintis gereja, serta mengubah komunitas melalui kuasa Injil.


"Orang-orang Quechua sebenarnya sudah memiliki Alkitab dalam bahasa Spanyol, namun mereka tidak memahami isinya sampai mereka mendapatkan Alkitab dalam bahasa ibu mereka," ujar Mark. "Ketika sosok Yesus hadir melalui bahasa mereka, hidup mereka pun mengalami transformasi."


Karena ingin melihat lebih jauh, Mark pergi ke Rwanda di Afrika, tempat orang-orang menggunakan Alkitab untuk membangun jembatan rekonsiliasi setelah peristiwa genosida (pembasmian ras) yang menghancurkan satu dekade sebelumnya. Ia teringat saat duduk di tengah kerumunan orang yang sedang menonton film Injil tentang kehidupan Kristus.


"Itu adalah kali pertama mereka menyaksikan film dalam bahasa mereka sendiri," kenangnya. "Mereka merasa bahagia saat mengikuti perjalanan hidup Tuhan Yesus—Dia melakukan mukjizat, Dia sungguh luar biasa! Namun kemudian, Dia berakhir di kayu salib. Orang-orang pun menangis. Bagaimana mungkin Sang Juruselamat dunia berakhir di kayu salib?" Menjelang akhir pemutaran film, orang-orang sangat antusias untuk mendengar lebih banyak tentang sosok Yesus yang rela menyerahkan nyawa-Nya bagi musuh-musuh-Nya.


"Kami biasa berkata, 'Jika Anda ingin belajar lebih banyak tentang Yesus, datanglah kembali besok,'" ujar Mark. "Dan setiap minggu mereka kembali untuk mendengarkan firman Tuhan. Kelompok-kelompok pendengar itu pun mulai berkembang."


Akhirnya, dalam sebuah perjalanan ke Kenya, Mark melihat kepingan terakhir dari teka-teki tersebut: Alkitab pribadi. Sebagian besar siswa yang ditemuinya tidak mampu membeli Alkitab. End-to-End menawarkan sebuah perjalanan yang dapat ditempuh siapa saja untuk menerima firman Tuhan—tak peduli di mana mereka tinggal, berapa banyak uang yang mereka miliki, atau bahasa apa yang mereka gunakan. Ia menyaksikan orang-orang berubah dari sekadar pengamat yang penasaran, dan kemudian menjadi pengikut Yesus Kristus yang penuh semangat, siap membawa kabar baik bagi komunitas mereka.


"End-to-End adalah transformasi yang utuh dan menyeluruh—mulai dari perjumpaan pertama dengan Yesus, memiliki Alkitab sendiri, hingga perubahan hidup yang berdampak bagi komunitas," kata Mark. "Sungguh luar biasa!"


Mark menjadi salah satu pendukung awal End-to-End. Saat bertemu istrinya sekarang, Nancy, beberapa tahun yang lalu, ia menemukan seseorang yang memiliki kerinduan yang sama untuk mengubah hidup orang lain melalui Injil. Bersama-sama, mereka turut menggerakkan pelayanan yang mereka cintai demi tujuan yang lebih besar, Alkitab hadir untuk semua orang.


Diterjemahkan bebas dari: American Bible Society

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia