Samaria yang dipenuhi dengan tindakan penuh kekerasan kepada sesama manusia merupakan gambaran dari kehidupan orang-orang yang berbuat seenaknya kepada sesamanya. Mereka yang menikmati kesenangan hidup diatas penderitaan orang lain, merampas milik orang lain, dan berfoya-foya sementara banyak orang di luar sana yang mati kelaparan. Apa yang dilakukan oleh Samaria seolah-olah ingin menunjukkan kepada kita bahwa orang yang demikian akan mati ditengah-tengah musuhnya. Seperti sisa-sisa tubuh domba yang tercabik-cabik oleh karena serangan singa. Benar-benar kehancuran yang menyedihkan.
Kehadiran Amos di tengah-tengah bangsa itu adalah untuk melepaskan Samaria dari “mulut singa.” Amos diminta Allah untuk melihat sendiri bagaimana bangsa itu berlahan-lahan mengalami kehancuran akibat perbuatan mereka. Sisa-sisa binatang kadang-kadang menjadi bukti telah terjadi sesuatu sebelumnya. Sisa tubuh binatang yang tak berharga juga dapat dijadikan sebagai perbandingan/gambaran. Misalnya dikatakan pada ayat 15b: “Rumah-rumah yang dihias dengan gading akan roboh; semua rumah yang besar akan hancur” gambaran ini sebanding dengan “domba yang telah diterkam oleh singa.” Sama-sama hancur.
Sahabat Alkitab,
Apa yang terjadi pada orang-orang Samaria dapat menjadi pelajaran bagi kita bahwa apapun yang kita lakukan terhadap orang lain selalu mengandung konsekuensi dan sanksi. Selalu ada hubungan sebab akibat. Jika kita melakukan kejahatan dan penindasan terhadap orang lain maka kitapun menanggung akibatnya. Seperti pepatah mengatakan, “Apa yang kita tabur, itu yang kita tuai.” Mari kita perhatikan apa yang kita lakukan sebab semua ada sanksinya.
Salam Alkitab Untuk Semua.