Pada tahun 1974, Indonesia diguncang oleh kasus Sengkon dan Karta, dua petani dari Bekasi yang dihukum secara tidak adil atas tuduhan pembunuhan dan perampokan. Tanpa bukti yang kuat, mereka dipaksa mengaku di bawah tekanan dan akhirnya divonis bersalah. Bertahun-tahun mereka mendekam di balik jeruji besi, hingga akhirnya pelaku sebenarnya mengaku. Kasus ini menjadi titik awal reformasi hukum di Indonesia, khususnya terkait mekanisme Peninjauan Kembali (PK). Sengkon dan Karta adalah contoh nyata bagaimana keyakinan terhadap suatu hukum atau prinsip yang tampaknya benar bisa menjadi alat ketidakadilan ketika diterapkan tanpa melihat kebenaran yang sesungguhnya.
Bildad, sahabat Ayub, berbicara dengan keyakinan penuh tentang keadilan Allah. Ia menyatakan bahwa Allah tidak akan menghukum orang benar dan tidak akan membiarkan orang jahat bertahan lama. Pemikirannya sederhana, penderitaan pasti merupakan akibat dari dosa. Prinsip yang ia kemukakan tidak sepenuhnya salah, tetapi ia mengabaikan konteks yang lebih luas, yaitu bahwa penderitaan tidak selalu berarti hukuman dari Allah. Dalam argumennya, Bildad menggunakan gambaran dari alam: “Dapatkah papirus tumbuh tinggi kalau tidak di rawa?” (Ayat 11). Ia menegaskan hukum sebab akibat, seperti tumbuhan yang butuh air, demikian pula manusia yang melupakan Allah akan layu dan binasa. Namun, yang menjadi persoalan adalah ia menerapkan prinsip ini secara mutlak kepada Ayub, tanpa memahami pergumulan yang sebenarnya.
Ayub bukanlah seorang munafik yang melupakan Allah, melainkan seorang yang diuji dalam kesetiaan dan imannya. Gambaran lain yang digunakan Bildad adalah sarang laba-laba (Ayat 14). Ia menyamakan harapan orang fasik dengan sarang yang mudah robek, mengimplikasikan bahwa Ayub telah membangun hidupnya di atas dasar yang rapuh. Namun, ini adalah kesalahan asumsi. Keadilan Allah tidak selalu dapat dipahami oleh logika manusia.
Sahabat Alkitab, apakah kita pernah secara cepat menghakimi penderitaan orang lain tanpa mengetahui apa yang terjadi di baliknya? Diperlukan hati yang terbuka dan empati dalam merespons situasi yang terjadi di luar kita. Bildad menyamakan diri dengan ajaran hikmat, tetapi ia buta dan tuli terhadap sahabatnya. Mungkin kita juga pernah berlaku seperti Bildad, terlalu cepat menyimpulkan apa yang dialami oleh orang lain menurut penilaian kita saja. Padahal, ketika seseorang tengah menderita, yang dibutuhkan sering kali adalah kesediaan untuk mendengarkan keluh kesah dan menjadi sahabat dalam derita yang dialaminya.