Di tengah lautan yang luas dan tak berbatas, seorang pelaut berpengalaman berdiri di geladak kapalnya, menatap hamparan air yang tak berujung. Ia telah mengarungi banyak badai, menghafal rasi bintang sebagai penuntun, dan memahami arah angin.
Namun, dalam kebesaran samudera, ia tetap kecil dan tak berdaya. Setiap gelombang besar yang datang mengingatkannya bahwa, betapapun ia berusaha mengendalikan arah perjalanannya, pada akhirnya ia tetap harus berserah kepada arus yang lebih besar dari dirinya. Begitulah manusia di hadapan Allah.
Ayub 9:1-10 mencerminkan perasaan seorang manusia yang menyadari betapa besar dan tak terjangkaunya Allah.
Dalam penderitaannya, Ayub tidak kehilangan rasa hormat dan kagumnya kepada Tuhan. Ia berkata, “Allah itu bijak dan sangat kuat, siapakah dapat bersikeras melawan Dia dan tetap selamat?” (ayat 4).
Ia mengakui bahwa Tuhan yang menciptakan rasi bintang, yang mengendalikan matahari dan bumi, yang melakukan mukjizat tak terhitung jumlahnya, adalah Tuhan yang terlalu agung untuk dipahami oleh manusia. Segala yang diungkapkan Ayub bukan bermaksud meragukan keberadaan atau kebesaran Allah. Sebaliknya, itu adalah upaya untuk mengakui keterbatasannya sebagai manusia dalam memahami kehendak Ilahi. Ia bertanya, “Bagaimana manusia bisa benar di hadapan Allah?” (ayat 2). Ayub sadar bahwa manusia tidak mungkin mendebat Tuhan atau menuntut jawaban atas segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya.
Ayub melihat bagaimana Tuhan dapat memindahkan gunung-gunung tanpa diketahui orang, menggeser bumi dari tempatnya, serta menetapkan bintang-bintang dan gugusannya (ayat 5-9). Semua ini menjadi peringatan bagi kita, bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari ciptaan yang luas, dan kita harus rendah hati dalam menghadapi kebesaran Allah.
Sahabat Alkitab, sadarkah kita bahwa sebagai manusia, kita sering kali merasa ingin memahami segala sesuatu? Ingin mengetahui alasan di balik penderitaan dan memastikan bahwa hidup kita berjalan sesuai harapan? Kita merasa seperti pelaut yang berusaha mengendalikan arah di tengah lautan luas. Namun, pada akhirnya, kita harus mengakui bahwa tidak semua hal dapat kita kendalikan.
Diperlukan kesediaan untuk berserah kepada Tuhan yang memahami seluruh jalur perjalanan kita, meskipun tak nampak ujungnya. Ada misteri dalam rencana Allah yang tidak selalu bisa kita pahami. Seperti Ayub, kita mungkin mengalami penderitaan yang berat, menghadapi situasi yang tidak kita mengerti, dan merasa seolah-olah Tuhan jauh dari kita. Namun, kita harus tetap percaya bahwa di balik misteri hidup, Tuhan sedang bekerja. “Yang melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tak terselami, dan keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya” (ayat 10).