Manusia sering bertanya, di mana keadilan Tuhan ketika penderitaan mendera? Ayub, seorang yang saleh dan tak bercela, juga terhanyut dalam kebingungan serupa. Ia, yang dikenal karena kebenaran dan kesalehannya, mendapati dirinya tenggelam dalam arus kesengsaraan yang tak terduga. Dalam Ayub 9:11-24, ia mencurahkan isi hatinya, berkeluh kesah tentang betapa tak terselaminya jalan Tuhan. Ia mempertanyakan keadilan yang seakan tak berpihak, dan di tengah kegelapan itu, ia berseru mencari secercah pengertian.
Ayub berbicara tentang ketidakberdayaannya di hadapan Allah yang Mahabesar. Ia berkata, “Apabila Ia melewati aku, aku tidak melihat-Nya, Ia berlalu, aku tidak mengetahuinya” (ayat 11). Inilah suara hati manusia yang berduka, yang meraba-raba mencari jejak Tuhan dalam penderitaan. Kerap kali, dalam derita yang menghimpit, Allah terasa jauh dan diam. Namun, apakah keheningan-Nya berarti ketiadaan-Nya? Ataukah justru dalam keheningan itu, Dia sedang bekerja dengan cara yang tak terpahami oleh akal manusia? Dalam keputusasaan, Ayub berseru, “yang benar dan yang salah, kedua-duanya dibinasakan-Nya” (ayat 22). Dari sudut pandangnya, hidup tampak tidak adil, orang benar pun menderita, sementara kejahatan seakan tetap berjaya. Dunia ini memang sering kali terlihat dikuasai oleh ketidakadilan. Namun, apakah keadilan ilahi dapat diukur dengan logika manusia?
Ayub merasa bahwa jika ia membela diri, kata-katanya sendiri akan menghukumnya (ayat 20). Ia menyadari bahwa manusia, meskipun hidupnya benar sekalipun, tetap tidak dapat membela diri di hadapan Allah yang suci. Segala sesuatu yang terjadi ada dalam genggaman-Nya, termasuk penderitaan yang tidak kita mengerti.
Sahabat Alkitab, penderitaan sering kali membawa kita ke dalam perenungan yang mendalam tentang keadilan dan kebaikan Tuhan. Ayub mengajarkan bahwa meskipun kita tidak selalu dapat melihat tangan Tuhan bekerja, kita dapat mempercayai hati-Nya. Keadilan ilahi tidak selalu tampak segera, tetapi itu bukan berarti tidak ada. Oleh karenanya, di tengah perjalanan hidup yang penuh misteri, biarlah kita tetap berpegang pada pengharapan yang sejati. Pengharapan bahwa Allah tidak akan meninggalkan umat-Nya dan keheningan-Nya bukanlah tanda pengabaian, melainkan suatu proses yang membawa kita kepada pemahaman yang lebih dalam akan kasih dan keadilan-Nya yang sempurna.