Hidup bagaikan embusan angin yang melaju tanpa bisa dihentikan. Waktu bergerak, menggilas harapan, meluruhkan kebanggaan, dan meninggalkan jejak kelelahan di sepanjang perjalanan. Ayub, sang manusia yang dipilih untuk menghadapi penderitaan yang mendalam, merasakan betapa hari-harinya berlalu lebih cepat daripada seorang pelari. Ia bukan hanya bergulat dengan kehilangan, tetapi juga dengan kebisuan langit yang seakan enggan memberi jawaban.
Ayub memandang hidupnya seperti tengah berlari kencang, seolah-olah ia dikejar oleh sesuatu yang tak terlihat. “Hari-hariku berlalu lebih cepat daripada seorang pelari” (ayat 25). Keluhan itu menggambarkan betapa tak berdayanya ia menghadapi realitas yang begitu cepat berubah. Dalam perspektif psikologi, fenomena ini dapat dikaitkan dengan pengalaman seseorang yang mengalami stres berat, di mana waktu terasa berjalan tanpa kendali, dan individu merasa terjebak dalam ketidakpastian yang mencekik. Kita pun sering berada dalam posisi yang sama. Waktu seakan mempermainkan kita. Kebahagiaan terasa singkat, sementara kesedihan begitu melelahkan. Ayub merasa hidupnya mengarah pada kehancuran, dan di sana ia menemukan betapa kecilnya manusia di hadapan misteri ilahi. Ia menyadari bahwa tak ada yang dapat ia lakukan untuk membenarkan diri di hadapan Tuhan, sebab bahkan jika ia berusaha membasuh diri dengan air salju yang paling murni, Tuhan tetap akan mencampakkannya ke dalam lumpur (ayat 30-31). Upaya manusia untuk menyucikan dirinya sendiri, betapapun besar dan tekunnya, tetap tidak cukup untuk menutupi celah yang terbentang antara kefanaan dan kekudusan.
Ayub merasa seolah-olah telah dinyatakan bersalah tanpa dapat membela diri. Ia mempertanyakan: “Aku sudah dinyatakan bersalah, mengapa aku harus menyusahkan diri dengan sia-sia?” (ayat 29). Ini adalah jeritan dari jiwa yang merasa dihukum tanpa alasan yang dapat dimengerti. Pengalaman seperti ini sering kali memunculkan perasaan learned helplessness, yaitu keadaan di mana seseorang merasa bahwa apa pun yang ia lakukan, tidak akan mengubah keadaan. Namun, di tengah keputusasaan itu, Ayub tidak kehilangan kesadarannya akan keberadaan Tuhan. Ia tahu bahwa di antara dirinya dan Tuhan ada jarak yang tak terjembatani. Ia menyadari perlunya seorang perantara: “Tidak ada wasit di antara kami, yang dapat menaruh tangannya ke atas kami berdua!” (Ayub 9:33). Ayub menyadari keterbatasannya, ia membutuhkan seseorang yang bisa memahami deritanya sekaligus mengerti keagungan Tuhan. Ayub, dalam kerapuhannya, tidak menyangkal perasaannya. Ia mempertanyakan, ia bergumul, tetapi ia tidak meninggalkan Tuhan. Ia tetap mencari makna di tengah derita.
Sahabat Alkitab, dari teks yang kita baca tergambarkan perasaan Ayub yang tengah berada dalam penderitaan dan mencoba mencari jawab kepada Tuhan atas apa yang dialami. Ia menggambarkan dirinya seolah-olah berada di hadapan hakim yang tak terbantahkan. Namun, pada akhirnya, ia menyadari bahwa yang dibutuhkan lebih dari sekadar keadilan, ia membutuhkan kasih. Dalam perkara antara manusia dan Allah, keadilan tidak hanya ditegakkan, tetapi kasih juga dinyatakan. Penderitaan memang sering kali membawa manusia pada persimpangan antara keputusasaan dan iman. Jalan mana yang kita pilih sepenuhnya berada dalam kewenangan kita dalam relasi dengan Allah. Satu hal yang dapat memudahkan kita adalah, mengizinkan diri untuk merasakan dan mengekspresikan kesedihan sebagai bagian penting dari proses pemulihan yang menghasilkan kejernihan dalam memilih.